Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Masih Sama.


__ADS_3

Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan nyawa istrinya. Apapun yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan nyawa Kei maka ia akan lakukan meski-pun membahayakan nyawanya.


Semua dokter keluar dari ruang rawat Kei. Tuan Ken tidak mencegahnya lagi, keterangan dari satu dokter tadi sudah membuatnya lemas tak bertenaga. Separuh nyawanya ikut terombang-ambing dalam kesakitan yang Kei rasakan.


"Tuan, Nyonya, jika ingin melihat kondisi Nona Kei hanya satu orang saja yang diperbolehkan masuk. Kalian bisa bergantian. Siapa yang akan masuk kedalam harap memakai pakaian steril yang sudah disiapkan." salah satu perawat mendekat dan memberi arahan. Mami Lyra hanya mengangguk, tuan Ken tetap tidak bergeming.


"Ken, kamu tidak ingin menemani Kei?" pertanyaan dari maminya membuat Ken tersadar. "Iya Mi, Ken akan masuk." tuan Ken segera masuk dan memakai pakaian yang sudah tersedia. Tuan muda yang selalu berjalan dengan angkuh dan sombong itu kini tiada berdaya, serasa kedua kaki kokohnya tidak lagi kuat untuk menyangga tubuh kekar itu.


Berjalan pelan dan menatap nanar keranjang pesakitan, dimana istrinya tengah berbaring dengan alat-alat medis yang mengerikan.


Rasa cintanya yang begitu dalam membuatnya ingin menggantikan posisi Kei saat ini, meminta pada Tuhan agar kesakitan yang dirasakan istrinya itu bisa dipindahkan ke tubuhnya. Tapi itu tidak akan terjadi, garis Tuhan sudah menentukan jalan hidup seseorang.


Tuan Ken duduk disamping ranjang, mengamati wajah Kei yang pucat, mata indah yang setiap kali menatapnya dengan penuh cinta sekarang sedang tertutup. Tidak tau kapan mata itu akan terbuka.


Pandangan tuan Ken turun dan terhenti diperut istrinya yang setiap saat ingin ia usap. Didalam perut itu ada nyawa lagi yang sama-sama penting bagi dirinya.


Segera tuan Ken mengangkat tangan untuk mengelus perut itu. "Calon Baby, apa kau juga merasa kesakitan seperti Mommy? sudah lama Daddy dan Mommy mengharapkan kehadiranmu, Daddy berharap kau bisa bertahan dan tetap bisa hadir diantara kami." tuan Ken menunggu reaksi tendangan dari calon anaknya, tapi beberapa saat menunggu tidak ada tendangan yang ia rasakan.

__ADS_1


Tuan Ken beralih menggenggam tangan Kei dan menciuminya. "Sweety, lihatlah... jika kau sakit maka calon anak kita juga sakit. Apa kau tega membuat calon anak kita seperti itu? kau harus kuat demi aku dan calon anak kita. Aku mencintaimu, untuk itu aku tidak ingin kehilanganmu. Bertahan-bertahanlah demi aku."


Tes...


Lagi, seorang Kendra Kenichi meneteskan air mata. Airmata yang hanya mampu menetes didepan Kei, takut akan kehilangan orang tercinta membuatnya menjatuhkan cairan bening.


Sebanyak apapun kalimat yang diucapkan, tetap mata indah itu tidak terbuka. Tuan Ken menjatuhkan kepalanya disamping tubuh Kei, menutup mata yang terasa lelah. Harapan selalu ada, semoga disaat ia membuka mata maka istrinya itu sudah sadar dan memberikan senyuman ceria seperti hari-hari kemarin.


Ah...semakin ia mengingat senyum Kei maka semakin perih rasa hatinya. Kini ia mulai tertidur disamping istrinya dan tangan mereka saling menggenggam erat seolah tidak ingin terpisah.


Tuan Ken masih setia berada disisi Kei, tidak ingin beranjak barang sebentar.


Mengabaikan jam makan malamnya, lupa dengan dirinya sendiri.


Tuan muda itu tidak sabar akan menunggu kondisi Kei, entah kondisi yang membaik atau sebaliknya yaitu akan mengalami penurunan dan semakin melemah.


Saat ini detak jantung masih normal. Dokter satu jam sekali siaga memeriksa keadaan Kei dan terutama kondisi bayinya. Jika kondisi bayi itu semakin melemah maka dokter segera melakukan tindakan operasi agar bisa menyelamatkan nyawanya, tapi sejauh ini detak jantung bayi itu masih normal.

__ADS_1


Para dokter sedang memeriksa Kei kembali. Tuan Ken duduk dikursi tunggu yang ada diluar ruangan. Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. "Tuan muda, anda melewatkan makan malam." sekretaris Lee mengingatkan. "Aku tidak lapar, Lee." jawaban singkat.


"Anda bisa bilang tidak lapar, tapi perut anda tidak bisa menahan lapar. Saya akan mencari makanan untuk anda." tidak mendengarkan jawaban dari tuan mudanya, Lee sudah berjalan menjauh. Sekretaris Lee baru sampai, setelah tadi pulang ke Apartemen menemani Dewi sebentar, ketika Ray menelpon dan menyuruh untuk berganti menemani kakaknya ia segera datang kerumah sakit setelah memastikan istrinya sudah tertidur.


Saat ini dirinya sudah menikah, sedikit kesulitan membagi waktu antara tuan muda dan istrinya. Apalagi Dewi tengah hamil muda sering merengek ini dan itu, dia sama seperti tuan Ken yang menyayangi istrinya maka tidak akan tega mengabaikan keinginan istrinya.


Sekretaris Lee rela berputar-putar mencari Restauran yang masih buka demi membelikan makanan untuk Bosnya. Yang dia lakukan saat ini tidak sebanding dengan kebaikan tuan Ken padanya.


Penuh perjuangan kini sekretaris Lee sudah kembali menyusuri lorong rumah sakit dengan membawa paper bag berisi makanan dan kopi panas. Menaruh itu disamping tuan Ken. "Tuan muda saya sudah membawa makanan, silahkan dimakan." tuan Ken hanya melirik sebentar tanpa sepatah katapun.


Sekretaris Lee menghela nafas, perjuangannya mendapatkan makanan itu tidak mudah tapi hanya dibalas lirikan saja oleh tuan Ken. Tapi Lee paham perasaan yang dirasakan tuan mudanya, dia harus sabar.


"Beberapa hari lalu Dewi sakit dan hanya berbaring saja, kondisinya lemah. Saya sudah akan membawanya kerumah sakit tapi dia berteriak histeris menolaknya, akhirnya terpaksa saya kembali dan tidak jadi membawanya kerumah sakit. Disela-sela kondisinya yang lemah, saya tetap konsisten dengan pekerjaan saya. Setiap pulang bekerja harus melihat Dewi terbaring lemah, saya merasakan seperti yang anda rasakan saat ini tuan muda. Melihat makanan seperti melihat racun, tidak ingin diganggu dan juga tidak bersemangat dengan hal apapun. Setelah 2hari Dewi sakit, saya yang menyiksa diri dengan mengabaikan kondisi badan jadi ikut melemah dari situ saya berpikir harus menjaga kondisi tubuh agar tidak ikut terbaring lemah. Jika orang yang kita sayangi sakit dan kita ikut sakit maka siapa yang akan menjaganya dan memberi semangat untuk sembuh. Jika Nona Kei nanti sadar, maka nona pasti sedih melihat anda seperti ini."


"Lee, kau membaca dongeng? aku jadi mengantuk." tanpa mengalihkan pandangan.


'Hiya...tuan muda, aku sudah mengarang cerita sepanjang itu tapi responmu seperti itu! sama sekali tidak menghargai usahaku untuk membujuk anda agar semangat dan mau makan. Perjuanganmu sia-sia, Lee!' Lee membatin. Raut wajahnya terlihat lemas. Dirinya gagal membujuk tuan Ken untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2