Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Hamil yang kedua


__ADS_3

"Ken, diam lah. Kau itu selalu saja tidak sabaran, dengarkan dulu penjelasan Dokter Sofia." mami Lyra juga terlihat kesal dengan sikap putranya sendiri.


Mendengar penuturan dari mami Lyra, mulut Ken baru bisa terdiam.


"Begini Tuan, Nona Kei bukan sakit atau terkena penyakit. Dia hanya kelelahan karna sedang hamil muda," terang dokter Sofia.


"Hamil muda?" Ken mengulang, dia belum percaya dengan kalimat yang didengar.


"Iya, Nona Kei hamil lagi. Selamat Tuan dan keluar besar, kalian akan kembali menerima anugerah malaikat kecil." dokter Sofia memberi ucapan selamat.


"Untuk Io, selamat ya... sebentar lagi mau punya adik loh..." dokter Sofia berganti mengatakan selamat untuk Kio.


Bocah itu tidak menanggapi dan semakin erat digendongan Ken. Mendengar ia akan mempunyai adik, dalam dirinya semakin marah, kesal, kecewa. Semua bercampur menjadi satu.


"Apa aku sudah boleh melihat istriku?" tanya Ken. Nada bicaranya sudah tidak meninggi. Mungkin jika Tristan ada disana, bisa saja terjadi adu pukul karna tak terima Ken membentak istrinya.


"Silahkan Tuan." dokter Sofia mempersilahkan.


Ken dan yang lain segera memasuki ruangan rawat Kei. Wanita itu terbaring diatas bed dan tersenyum memandang keluarganya.


Untuk pertama Ken yang lebih dulu mendekat dengan wajah berbinar kebahagiaan. Dengan lembut mencium kening Kei dalam dalam.


Kebahagiaan yang dirasakan terlalu besar sampai bibirnya tak henti tertarik dan tersenyum cerah.


"Honey, kau hamil lagi." ucapnya dengan senang.


Kei mengangguk. "Iya. Tuhan masih mempercayaiku untuk mengandung lagi." Kei pun tak kalah senang dan bahagia. Meski dia sudah bisa menebak dari sebelumnya tapi mendengar keterangan dari dokter Sofia tadi lebih meyakinkan diri nya. Kini ia sangat bahagia, kedua kalinya bisa memiliki kesempatan mengandung dan melahirkan keturunan lagi.


Pasangan suami istri itu saling melempar senyum, jika tidak ada anggota keluarga, sudah dipastikan Ken akan menyerang candunya.


Kei menyadari keberadaan Kio yang masih digendongan Ken. Wajah bocah itu tak ada binar kebahagiaan, yang ada seperti marah, kesal dan kecewa. Bahkan mulutnya yang mungil sudah mengerucut.

__ADS_1


"Io Sayang, kemari Nak." dengan tangan sebelah Kei merentang untuk menyambut Kio agar duduk disampingnya.


Tapi tanpa disangka bocah itu menggeleng dan membuat Kei terhenyak. "Io..."


"Tidak mau!" sentaknya dengan marah.


Penolakan Kio membuat Kei sedih, untuk pertama kalinya Kio tidak mau mendekati dirinya.


"Jagoan Dad, bukankah Io mencari Mom? kenapa tidak mau duduk disamping Mom?" Ken bertanya dengan nada lembut. Seperti berbisik ditelinga putranya.


"Io nggak mau adik bayi. Io nggak mau!" dengan lantang Io menolak Mommy nya hamil lagi. Pemikiran anak kecil masih sangat polos dan dangkal belum bisa berpikir panjang.


Kini bocah itu semakin marah dengan Kei.


Mata Kei memanas, ia sudah hampir menangis. Ibu hamil juga sangat sensitif dengan perasaannya. Penolakan dari Kio membuatnya sangat sedih.


Di satu sisi merasa sangat bahagia mendapat seorang anak lagi, tapi di sisi lain harus bersedih karna dibenci oleh Kio.


"Honey, sebentar aku akan ajak Io keluar." Ken keluar untuk menenangkan putranya.


Sampai didepan Lee, ia berhenti sebentar. "Lee, suruh dokter merawat lukamu. Mintalah obat yang paling bagus agar lukamu segera pulih, jika perlu satu jam bengkak di bibirmu itu bisa hilang. Aku yang menanggung biayanya dan aku akan memberimu bonus jalan-jalan." kata Ken.


"Jalan-jalan?" Lee bertanya. Ia mengerutkan kening, tidak biasanya tuan Ken memberi bonus jalan-jalan?


"Jalan-jalan kemana Tuan?" kembali Lee bertanya.


"Jalan-jalan keliling kota Jakarta, untuk menenangkan Io."


Lee melongo. 'Apa-apaan tuan muda, itu bukan bonus tapi kerja extra.' Lee membatin dengan mencebikan mulutnya.


"Kau juga merajuk seperti putraku Lee?" Ken melirik dengan tajam.

__ADS_1


"Tidak Tuan Muda, mulut saya 'kan memang masih sakit, jadi wajar jika miring dan maju begini." Lee beralasan.


"Oke, alasan mu masuk akal Lee." Ken melangkah tapi terhenti lagi. "Kau jaga istriku, pastikan dia baik-baik saja, tunggu sampai aku kembali." pesannya.


Lee mengangguk. "Baik Tuan Muda,"


Kini Ken benar-benar keluar dari ruang rawat Kei, ia berjalan dan masih belum tau tujuannya. Ia juga bingung bagaimana ia akan menenangkan Kio.


Pengawal mengikuti dibelakang.


Sampai didepan pelataran rumah sakit Ken berhenti. "Io, mau kemana?" Ken bertanya, ia ingin menuruti kemana putranya ingin pergi. Biasanya setelah Kio diajak berjalan-jalan atau pergi kemana yang di mau, maka mood bocah itu akan kembali ceria.


"Io nggak mau kemana-mana. Io mau pulang." jawabnya sendu.


"Kalau pulang nggak asik, bagaimana kalau kita ke Mall, beli mainan yang banyak. Atau ke taman melihat kupu-kupu dan bermain kejar-kejaran."


Tapi Kio menggeleng. "Io nggak mau. Io cuma mau pulang." pintanya lagi.


Tak ingin memaksa, Ken menuruti kemauan Kio dan menyuruh pengawal untuk mengantarkan pulang. Meski dalam hati ia tak ingin jauh dari Kei tapi apa boleh buat, ia harus menurunkan ego untuk mengembalikan mood putranya.


Didalam mobil pun Kio masih nyaman didalam dekapan Ken, apalagi tangan Ken tak henti mengelus rambutnya membuat rasa nyaman itu bertambah. Sejenak melupakan kemarahan pada Mommy nya. Tak berapa lama matanya terasa berat dan mulai terpejam. Mungkin harinya terlalu lelah, hingga dengan cepat bisa terlelap.


Melihat Kio tertidur di pangkuannya Ken menciumi wajah Kio. Ia masih berpikir, bagiamana anaknya bisa marah dengan Kei, padahal ia sangat dekat.


Sebelumnya pun Kio selalu merengek ingin punya adik, sekarang keinginannya sudah terkabul tapi bocah itu dengan cepat berpindah haluan. Apa yang membuat Kio berubah?


Tubuh kecil Kio sudah terbaring diatas bed, Ken melepas sepatu dan kaos kaki. Melepas semua perlengkapan yang membuat Kio tidak nyaman.


Selesai dengan tugasnya sebagai ayah. Ia terduduk dikursi yang ada dibalkon.


Kini Ken harus melawan nafsu kemarahan dan egonya. Kesal, marah tidak bisa menemani Kei. Untuk pertama kali ia tak bisa menenangkan istrinya saat menangis. Raga kekarnya berada dirumah tapi pemikirannya terus menuju pada Kei yang berada dirumah sakit. Pasti istrinya sedang bersedih, bisakah mami dan orang-orang yang menunggu menenangkan Kei.

__ADS_1


Tangan yang terdapat luka tadi terkepal kuat, saat dirinya merasa kalut dalam amarah dan ego, serasa ingin menghancurkan apapun yang ada didepannya. Meluap kan semua rasa yang membuatnya kesal.


__ADS_2