Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Merelakan yang Kedua Kalinya


__ADS_3

"Dia sangat mencintaimu. Percuma usahamu untuk mengembalikan kak Io padaku, nyatanya hati kak Io sudah menjadi milikmu, Nay." Zee tergugu di samping tubuh Naya. Kedua tangannya menutup wajah.


Kemarin-kemarin mulutnya berkata ikhlas, tetapi begitu melihat betapa besar cinta yang ditunjukan Akio untuk Naya, nyatanya hati itu masih bisa tertembus rasa sakit. Entah mengapa masih merasakan iri. Andai dia yang dicintai seperti itu, mungkin kebahagiaanya tiada terkira.


Karena sesungguhnya, cinta itu masih utuh untuk kak Io nya. Beberapa bulan tidak bertemu, hatinya masih saja untuk pria itu. Belum berhasil untuk berpaling.


Tidak dipungkiri, dia merasa senang saat hubungannya bersama Akio mulai terjalin kembali meski sebagai saudara atau sahabat, ditambah mendapat dukungan dari Naya, dia lebih semangat untuk mendekatkan diri pada Akio. Harapannya kembali ada, saat Naya terus-menerus memberi dukungan.


Tetapi, apa yang harus diperjuangkan bila Akio sendiri sudah benar-benar mencintai Naya. Apa yang bisa dia lakukan selain ikhlas dan merelakan untuk yang kedua kalinya.


"Sesuatu yang dipaksa tidak akan menemui kebahagiaan. Percuma kalau pun aku bersama kak Io, tapi hatinya untukmu, Nay. Aku akan belajar ikhlas untuk yang kedua kalinya."


"Bangunlah dan kembalilah dengan kak Io. Jangan kamu kecewakan dia. Harapannya begitu besar ingin kamu kembali. Selain itu, putramu. Dia juga sangat membutuhkanmu. Ada dua jagoan yang menantikan mu. Bertahanlah, kamu pasti bisa bertahan."


*


Zee belum puas menumpahkan tangisnya di rumah sakit. Dia memilih menenangkan diri di tempat favoritnya selama ini, di sebuah taman dengan bangku panjang yang tersedia.


"Kedua kalinya aku harus patah hati. Sakit dan sangat menyakitkan. Tuhan, kapan Kau akan hapus perasaanku untuk kak Io. Dia mencintai Naya, tolong hapus perasaanku ini. Aku nggak akan sanggup menahannya terus-terusan."


"Takdir apa yang Engkau garis kan? Aku sudah pergi, aku sudah menjauh, aku sudah mengalah! Tapi kenapa pada akhirnya rasa sakit ini seperti di awal. Aku kemarin sudah ikhlas, tapi melihat kak Io lagi. Kenapa seperti ini. Engkau Maha Kuasa, aku sangat memohon hapuskan perasaanku. Gantikan rasa cinta menjadi perasaan sayang sebagai saudara. Redam kebencian menjadi kepedulian. Turunkan lapang dan keikhlasan, agar aku mampu benar-benar melupakan," doa Zee dengan bersungguh-sungguh. Air mata tak pernah surut semenjak kedatangan Akio.


"Apa seperti itu yang dinamakan ikhlas. Kalau ikhlas, kakak tidak akan menangis."

__ADS_1


Tanpa menoleh pun Zee sudah hapal, siapa pemilik suara itu. Dia semakin menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengan tangan. Dia tak mau dilihat Faskieh saat menangis tersedu, dia juga malu dengan apa yang diucapnya tadi. Ternyata Faskieh mendengarnya.


"Kenapa kakak nggak pernah berhasil melupakan kak Io? Karena kakak hanya mencoba bukan sungguh-sungguh melupakan nya. Buka hati kakak untuk yang lain, yang benar-benar tulus mencintai kakak. Pasti lambat laun perasaan kakak akan sukses berpaling. Kakak ingin melupakan, tapi terus memupuk kerinduan, sampai kapan pun, aku jamin kakak tidak akan pernah lupa dengan kak Io," ujar Faskieh dan mengambil duduk di samping Zee.


"Jika kakak seperti ini, perasaan kakak yang akan terus terluka. Bahkan, kak Naya dan kak Io juga akan terus dihantui rasa bersalah."


"Di dunia ini, banyak yang seperti kak Io, bahkan yang lebih baik dan sempurna pun ada. Hanya saja kakak tidak mau membuka hati."


"Cuma bicara, siapapun bisa, Faskieh. Tapi menjalaninya yang sulit. Selama ini kamu tahu seperti apa usahaku melupakan kak Io. Tapi mereka justru mengejar ku."


"Kenapa aku belum membuka hati untuk hati yang lain, karena hatiku sendiri pun belum siap. Aku takut dikecewakan hati lainnya. Kamu mungkin belum merasakan, bagaimana sakitnya. Dan itu benar-benar menyakitkan."


"Tulang rusuk tidak akan tertukar, kak. Bila sudah jodoh, suatu saat kakak akan bertemu dengan pria yang bisa menyembuhkan luka hati kakak. Paling penting, dia punya perasaan tulus."


Zee menyusut sudut matanya. Dia menoleh ke arah Faskieh. "Makasih untuk kata-katamu. Aku akan pikirkan, dan membuka hatiku untuk pria lain. Cinta kak Io untuk Naya begitu besar, aku akan merelakannya."


Tring ... tring ....


Ponsel di saku jeans milik Faskieh berbunyi, pria itu berubah sumringah ketika nomor sang kekasih menghubunginya.


"Halo ... Bun."


"Apa ...? Enggak ... nggak mungkin!" ucapan Faskieh membuat Zee mengernyit penasaran. Jarang-jarang dia melihat Faskieh dengan raut seperti itu. Tercengang dan berikutnya menampilkan kesedihan. Entah apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


*


"Cucu oma, kamu mirip sekali dengan ayahmu waktu kecil," ujar Kei ketika menggendong cucunya untuk pertama kali.


"Kamu benar, sayang. Dia mirip dengan Io waktu bayi," timpal Ken. Jari telunjuknya menoel-noel pipi makhluk kecil itu.


"Ulu-ulu ... Opa gemas dengan kamu. Kamu kecil sekali. Telapak tangan Opa lebih besar dari kepalamu," celoteh Ken.


"Hust, namanya bayi baru lahir ya kecil begini. Masa langsung besar. Telapak tanganmu aja yang memang kebesaran," sahut Kei.


"Tapi dia kecil banget, sayang. Kalau telapak tanganku besar, wajar, lenganku juga besar, masa telapak tanganku kecil, nanti aneh." Ken tidak terima telapak tangannya dibilang besar oleh Kei. Pria itu bersungut dengan membolak-balikkan telapak tangannya. Ini ukuran normal.


"Dia memang kecil. Kata suster, pengaruh ibunya waktu hamil terlalu banyak pikiran dan kurang mengonsumsi vitamin juga makanan bergizi, makanya tumbuh kembang si bayi berkurang. Tapi alhamdulillah nya, walau cucu kita kecil, dia sehat dan normal. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Jadi, biar saja kalau sekarang kecil. Kalau waktunya, dia juga besar." Kei berucap panjang lebar.


"Jangankan anaknya, lihatlah, tubuh Naya benar-benar memprihatinkan. Tinggal tulang berbungkus kulit. Ya ampun ... bener kata Io, nggak tega lihatnya. Apa ada kemungkinan Naya sembuh kembali?"


Belum Ken menjawab, makhluk kecil yang ada di gendongan Kei menangis kencang. Kei segera menimang-nimang.


"Eh, kenapa tiba-tiba nangis, sayang? Kamu tidak suka Opa dan Oma membicarakan ibu mu, iya?" kata Kei. Dia terus menimang, tetapi bayi mungil itu belum berhenti menangis. "Tenang ya. Diam. Oma tidak akan membicarakan ibu mu lagi," imbuh Kei.


"Bayi sekecil itu mana tahu kita sedang membicarakan ibunya. Kamu aneh, sayang."


"Eh, kata siapa dia tidak tahu. Jangan salah, masih bayi justru ikatan batin lebih kuat dengan ibunya."

__ADS_1


"Nah, liat tuh, kita udah nggak bicara soal Naya, dia mulai tenang lagi, kan? Hayo ... percaya nggak?" kata Kei dengan menaikan kedua aslinya.


"Eh, iya. Wah-wah, ajaib sekali. Cucu kita pintar." Ken menggeleng pelan.


__ADS_2