Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Bersahabat Kembali.


__ADS_3

Setelah Deny dan sekretarisnya pergi, kini hanya tinggal Tristan yang masih duduk disana, kedua mata yang sibuk mengamati notebook digenggamannya. Pikirannya masih bingung dengan kenyataan saat ini. Bagaimana bisa semua rencana itu berbalik kepadanya dan juga Deny.


Menyadari tatapan tuan Ken yang mengamati dirinya, ia merasa risih dan memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Sebelum kaki itu sempat melangkah, terdengar suara yang keluar dari mulut tuan Ken.


"Kau mau kemana?" tanya tuan Ken.


"Bukankah aku juga harus pergi dari ruangan ini? bahkan besok aku harus mengemasi barangku dari perusahaan yang sudah kau ambil alih." Tristan tak ingin melihat wajah tuan Ken, entah karna malu atau marah.


"Kau tidak perlu mengemasi barangmu." tuan Ken masih duduk tenang. Mengatakan dengan serius tanpa nada sinis.


Tristan melayangkan tatapan kearah pria yang juga sedang menatapnya. "Apa maksudmu?" tanyanya.


"Itu tetap perusahaanmu, ku tidak akan mengambil alih." kata tuan Ken.


Tristan menautkan kedua alisnya, sekeras apapun otak itu berpikir tapi tetap saja ia tidak mengerti maksut ucapan tuan Ken.


Tuan Ken mengalihkan pandangan, menatap gorden jendela yang bergerak tertiup angin. Mengetahui Tristan yang hanya diam saja, ia mulai menjelaskan. "Aku tidak berniat mengambil perusahaanmu. Aku mengamankan asetmu agar tidak diambil oleh Deny. Harusnya dari awal kau tidak menerima kerjasama dengan lelaki picik itu, dia hanya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri."


Deg...


Tubuh tegap Tristan membeku ditempatnya berdiri. Kalimat itu membuatnya tak berkutik.

__ADS_1


Bukan hanya Tristan, bahkan sekretaris Lee juga sempat terkejut mendengarnya.


Disela memikirkan kesehatan sang istri yang sedang drop, tuan Ken juga terpikirkan dengan Tristan. Dia tau ada kejanggalan kerjasama diantara perusahaan Tristan dengan Deny. Disaat perusahaan Tristan bekerja sama dengan Taisei Comporation, perusahaan Deny langsung mengajukan kerjasama dengan perusahaan Tristan. Bukankah itu aneh? itu yang sempat tuan Ken pertanyakan, dari situ ia mulai menyuruh Tony, orang kepercayaannya untuk memulai penyelidikan.


Tony bekerja dibelakang layar, ia dan temannya bertugas menjaga data rahasia. Melindungi dari serangan musuh yang ingin meretas data perusahaan. Kedudukannya sama penting seperti sekretaris Lee, hanya saja Tony jarang bertemu dengan tuan Ken. Dia seorang yang tertutup tidak begitu mengurusi dunia luar.


"Ke-kenapa kau melakukan itu?" Tristan bertanya. Masih belum mempercayai ucapan tuan Ken.


"Harusnya kau sudah tau kenapa aku melakukan itu." tuan Ken sendiri terlihat bingung ingin mengatakan alasannya, secara tidak langsung menyuruh Tristan untuk berpikir.


"Sungguh aku tidak mengerti maksutku, Ken."


"Duduklah. Apa kau tidak lelah berdiri terus." Tristan kembali duduk disofa yang ia duduki tadi. Ingin mendengarkan penjelasan dari lelaki yang masih duduk dengan santai.


"Sudahlah, aku tidak ingin mengatakan apapun. Yang jelas, perusahaanmu tetap menjadi milikmu, kau tidak perlu pergi." akhirnya hanya kata itu yang keluar. Padahal banyak kata yang ingin ia sampaikan. Keberanian itu tiba-tiba hilang, jika memang hanya dirinya yang mengingat masa persahabatan mereka maka tak perlu mengatakan isi hati didepan Tristan. Ia mengira Tristan pasti masih membencinya, sejujur apapun kalimat yang akan diucapkan Tristan tidak akan menganggapnya.


Biarlah keinginannya ia simpan kembali. Ia masih sangat perduli dengan Tristan, meski lelaki itu telah menghina dan berniat membuatnya terjatuh. Tapi ia tidak akan tega melakukan itu, Tristan tetap dianggap sahabat meski itu didalam hati.


Tanpa mereka tau isi hati satu sama lain, bahkan pemikiran Tristan tak ada beda dengan tuan Ken. Kebencian yang ia pendam tapi hati kecil selalu menolak. Bukan hanya tuan Ken, tetapi hati Tristan pun masih ingin menganggap tuan Ken sebagai sahabatnya. Setiap kali masih mengingat kebersamaan mereka, semua terlewati dengan canda tawa.


Tapi selama ini mereka saling menyakiti dan memberontak keinginan hati, sebuah ego yang menjadi penghalang persahabatan mereka.

__ADS_1


Tristan diam dan menundukkan arah pandangan, menatap lantai yang ia pijak. Ia memikirkan sesuatu yang menjadi perdebatan hati kecilnya. Disaat ini ia mencari alasan tentang kebaikan yang dilakukan tuan Ken. Hati kecil mendorongnya untuk mengakui kebenaran, tapi disisi hati yang lain ia terlanjur malu.


Tuan Ken beranjak dari duduknya, membenarkan kemeja yang sedikit kusut, lalu memasukan kedua tangannya kesaku celana. Ia akan pergi dari ruangan itu. Masih ada Kei yang pasti menunggunya. Tidak memperdulikan keadaan Tristan yang masih saja diam.


"Ken... tunggu!" Tristan berganti menghentikan pergerakan tuan Ken. Tristan mendekati tuan Ken dan berdiri dihadapannya. "Ken, maafkan aku." Tristan mengumpul keberanian untuk meminta maaf, membuang rasa gengsi.


Tuan Ken tersenyum tipis, permintaan maaf itu ingin ia dengar dari dulu. Tapi baru ini ia mendengarnya langsung dari Tristan.


"Sudah lupakan saja." kalimat yang singkat. Tuan Ken menepuk pundak Tristan beberapa kali. Mata Tristan melirik kearah pundaknya, disana masih ada tangan tuan Ken. "Apa ini artinya kau sudah memaafkanku, Ken?" tanyanya.


"Tidak perlu ada yang dimaafkan. Kita sama-sama bersalah. Mungkin kesalahanku dulu lebih besar darimu, hingga kau sangat membenciku. Aku selalu menunggu momen ini, dimana kita bisa dekat seperti dulu." tuan Ken berkata jujur, ia tak ingin menutupinya lagi.


"Heum..." Tristan mengangguk, begitu terharu mendengar kalimat tuan Ken yang masih ingin bersahabat dengannya, meski banyak kesalahan yang ia buat ternyata Ken tidak memendam kebencian. Berbesar hati memaafkannya. Saat ini ia malu dengan dirinya sendiri, dulu ia yang selalu memfitnah, membenci dan baru ini ingin menjatuhkan lelaki itu. Tapi Ken tidak membalasnya, ia justru berbaik hati menolong dan memaafkannya.


Tristan berhambur memeluk sahabatnya yang dulu, tak kuasa kedua bola matanya memanas hingga menggenang cairan bening. Ken membalas pelukan persahabatan itu. Ia sendiri merindukan sahabatnya yang dulu.


Keduanya melepas pelukan persahabatan itu.


"Kau cengeng, begitu saja menangis." ledek tuan Ken.


Tristan tersenyum. "Kau yang membuatku menangis, bodoh!" jawabnya dengan candaan.

__ADS_1


Keduanya tertawa.


Kini hati keduanya terasa lega, beban berat itu seperti hilang. Persahabatan yang sempat putus itu terjalin lagi, semua karna kebaikan tuan Ken, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Melainkan memberi kebaikan kepada orang yang sudah menjahatinya. Hingga orang itu bisa menyadari kesalahannya.


__ADS_2