Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menunggu Sampai Sadar


__ADS_3

Memanjatkan do'a dalam hati tak pernah terhenti. Kei menunduk dengan pandangan semakin sendu.


Satu jam ia menunggu didepan ruang operasi, tapi para dokter belum juga keluar. Hati yang semakin kalut dalam ketakutan, ia masih belum siap jika mendengar berita yang tak diinginkan.


Seolah tidak memperdulikan keadaan sekitar, Kei hanyut dalam bayangan buruk.


"Tidak..." tanpa sadar, ibu satu anak itu berteriak.


"Kei... kau kenapa?" Mami Lyra terkejut mendengar teriakan dari Kei.


"Eum, Mi. Kei.. Kei takut terjadi sesuatu dengan suamiku. Kenapa para dokter belum juga keluar?" mengatakan dengan genangan air di pelupuk mata.


Mami Lyra mengulurkan tangan untuk membimbing Kei kedalam pelukannya. Mengusap bahu Kei dengan sayang, memberi ketenangan dan kehangatan.


"Sabar dan tenanglah Nak. Mami juga takut, tapi kita pasrahkan kepada pemilik kehidupan. Biar Tuhan yang menentukan yang terbaik. Kita terus berdo'a, semoga Ken bisa melewati keadaanya saat ini."


"Iya Mi. Terima kasih, pelukan Mami sangat hangat. Kei seperti memeluk almarhum Ibu." ucap Kei yang masih berada dipelukan Mami Lyra.


Mami Lyra mengangguk.


"Nyonya besar, Nona Kei." Lee menyapa, menunduk sebentar. Ia baru saja datang dan saat ini sedang berada dihadapan 2orang yang sedang berpelukan, saling memberi ketenangan.


"Lee, kenapa penampilanmu sangat berantakan?" Mami Lyra heran dengan penampilan Lee yang jauh dari biasanya. Lelaki tangan kanan anaknya biasa terlihat rapi dengan pakaian formal dan rambut yang selalu oke. Tapi, saat ini penampilan Lee seperti usai bertarung dengan brutal.


Rambut berantakan, ia yang hanya mengenakan kaos pendek terlihat beberapa titik kemerahan dilengan tangan dan juga leher, bahkan wajahnya terlihat memerah. Entah apa yang terjadi pada lelaki itu?


"Tidak pa-pa Nyonya, saya baru saja terbebas dari ruang eksekusi. Dan langsung menuju kemari karna khawatir dengan keadaan tuan muda." jawabnya.


"Ruang eksekusi? memang kamu melakukan kesalahan apa?" Mami Lyra tidak mengerti.


Kei tidak begitu menanggapi, keberadaan orang disekitar tidak begitu dihiraukan. Baginya, saat ini yang terpenting adalah kabar dari suaminya.


"Eum, maksut saya ruang eksekusi adalah ruang bersalin Nyonya. Saya tadi menemani istri saya melahirkan, lalu segera kesini."

__ADS_1


"Istrimu sudah melahirkan Lee? syukur Alhamdulillah, bagaimana keadaanya?" dibalik kabar duka yang belum menemukan keterangan. Ada satu lagi kabar bahagia. Mami Lyra tersenyum kearah Lee. "Selamat ya Lee, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah." imbuhnya lagi.


"Iya Nyonya besar, terima kasih. Keadaan istri saya baik-baik saja." jawab Lee.


"Mbak Dewi sudah melahirkan?" Kei baru sadar dengan perbincangan ibu mertua dengan sekretaris Lee. Ia pun sama dengan Mami Lyra, melupakan kesedihan untuk sejenak. Kini ikut senang mendengar sahabatnya sudah berhasil menjadi seorang ibu seperti dirinya.


"Iya, Nona."


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Kei lagi.


"Perempuan,"


"Selamat ya sekretaris Lee, semoga putri kecilmu menjadi putri yang berbakti. Untuk kondisi mbak Dewi dan putrimu mudah-mudahan segera sehat." ucap Kei.


"Terima kasih Nona. Kondisi istri saya sudah normal dan baik-baik saja, saya tadi sudah meminta izin untuk melihat keadaan tuan muda."


"Operasinya belum selesai, aku sangat khawatir." kesenangan Kei tadi seolah hilang, kini dikembalikan pada kenyataan bahwa suaminya sedang dalam bahaya.


"Tenang Nona. Saya yakin, tuan muda orang yang kuat tidak akan mudah menyerah."


Lee ikut menunggu diruang tunggu. Hatinya begitu tak tenang sebelum mendengar kabar baik. Didalam hati memberi semangat dan do'a, meski Ken tidak bisa mendengarnya.


'Tuan muda, saya yakin anda bisa melewati kesakitan yang anda rasakan. Anda pernah mengatakan, akan melihat penampilan saya saat Dewi melahirkan. Dan sekarang itu sudah terjadi, saya baru saja dari ruang eksekusi dengan segala kengeriannya. Bahkan sayapun tidak merubah diri agar anda masih bisa melihat penampilan saya yang berantakan. Semoga anda baik-baik saja dan segera sadar.'


Ketiga orang dewasa itu hening dalam lamunannya masing-masing. Hingga tak terasa, 20menit sudah berlalu.


Pintu ruang operasi sudah terbuka, dokter keluar. Ketiganya seperti berlomba untuk mendekat, sangat ingin mengetahui kondisi tuan muda yang sedang terluka.


Dan, memberi kesempatan pada Kei untuk bertanya.


"Dokter, suami saya..." Kei belum melanjutkan.


Dokter itu sudah sangat hapal dengan kondisi ini, anggota keluarga yang pasti khawatir dan ingin mengetahui keadaan tuan Ken.

__ADS_1


"Nona, kondisi tuan Ken sudah melewati masa kritis. Tapi, saat ini masih belum sadar. Mungkin beberapa jam kedepan baru akan sadar."


Terdengar helaan nafas dari ketiganya, menandakan mereka sudah merasa lega mengetahui Ken sudah melewati masa kritis.


"Terima kasih Dok, sudah menolong nyawa Ken. Alhamdulillah, jika kondisinya tidak terlalu serius."


"Iya Nyonya, untung saja pisau yang menancap dipunggung tuan Ken tidak terlalu dalam. Hingga lukanya tidak terlalu serius, hanya saja tadi sempat telat dalam penanganan stok darah membuat kami juga sedikit panik." terang Dokter.


"Upayakan yang terbaik untuk tuan muda," kata Lee.


"Tentu sekretaris Lee. Kami melakukan yang terbaik dan semampu kami."


"Kalau begitu, saya permisi. Jika kalian ingin menjenguk tuan Ken, tunggu sampai perawat memindahkan keruang rawat." dokter meminta izin untuk kembali keruangannya. Sebelum melangkah, ia menunduk sebentar.


Tak berapa lama dokter pergi, empat perawat mendorong brankar Ken untuk dipindah keruang rawat.


Kedua mata Ken masih terpejam, akibat pengaruh obat bius. Kei segera menghampiri dan mengikuti perawat yang mendorong brankar suaminya.


Sampai diruang rawat VIP Kei dan Mami Lyra masing-masing berdiri disamping bed. Kei menggenggam tangan Ken. Wajah yang tegas terlihat pucat, meski suaminya telah melewati masa kritis tetap saja Kei tidak tega melihat Ken terbaring lemah.


Melihat langsung keadaan tuan mudanya membuat Lee sedikit tenang, meskipun wajahnya terlihat pucat setidaknya nyawa tuan muda masih bisa diselamatkan.


Beberapa saat, Lee berpamit untuk kembali keruang Dewi. Ia harus memantau kondisi istri dan anaknya.


"Kei, kamu terlihat lelah Nak. Tidurlah sebentar, biar Ken Mami yang jaga." kata Mami Lyra.


Kei memang terlihat kelelahan, apalagi ia harus menyusui baby Kio. Pasti akan berpengaruh untuk bayinya. Untuk itu Mami Lyra menyuruh Kei untuk beristirahat, jangan sampai kondisi Kei ikut sakit.


"Aku ingin menjaga suamiku sampai sadar." Kei menolak, keinginannya saat ini adalah kesadaran dari Ken agar cepat membuka mata. Ia teringat dengan sikapnya tadi pagi yang mendiamkan Ken karna dirasa suaminya tidak tegas dan tidak mau memecat Ita. Prasangka buruknya membuat ia menyesal.


Ternyata semua yang dilakukan Ken ada sebuah alasan dibalik sikap tidak tegasnya.


Setelah Ken tersadar, ia segera meminta maaf untuk prasangka buruknya tadi pagi.

__ADS_1


"Mami akan membangunkan mu kalau Ken sudah sadar, sekarang kamu harus istirahat sebelum baby Kio terbangun dan mencarimu." ucap Mami Lyra.


Meski berat, Kei menurut. Ia mulai duduk dan memejamkan mata disamping suaminya.


__ADS_2