
Dua hari mengalami kontraksi palsu, hingga saat ini perut itu kembali terasa sakit. Bulir-bulir keringat bercucuran. Ketika para dokter memeriksa jalan lahir ternyata masih pembukaan 2, itu artinya masih kurang 8 lagi agar genap pembukaan 10.
Pada pembukaan ke-10, ibu hamil baru merasakan dorongan untuk melahirkan bayi.
Sakit yang dirasa sebisa mungkin ditahan, ia tak mau sang suami cemas dan terlalu khawatir. Mengingat sikap over dari suaminya, Kei harus bisa bertahan, jika tidak ia sendiri yang akan repot. Dan lagi, para dokter akan menanggung akibatnya.
Pada pembukaan awal ibu hamil masih diperbolehkan untuk berjalan-jalan disekitar ruangan, makan dan minum untuk mengisi daya energi. Me-rileks-kan otot-otot, agar tidak terlalu tegang.
Tuan Ken selalu mendampingi disekitar Kei, memegangi bagian tubuh sang istri. Ia harus berada disampingnya untuk menjaga.
Dokter diberi perintah untuk menunggu dan duduk disofa, bukan hanya satu, bahkan ada 5dokter terbaik yang disediakan membantu persalinan Kei.
Tuan Ken tak membiarkan dokter meninggalkan ruangan barang sedikit saja. Bahkan mereka harus memperhatikan gerak-gerik Kei, bagaimanapun posisinya.
Alhasil bola mata para dokter terus bergerak mengikuti perpindahan langkah nona muda itu.
Sesekali Kei meringis saat rasa sakit itu datang, ia mengantisipasi dengan menghirup udara dan membuangnya pelan. Itu salah satu anjuran dari dokter agar tetap rileks dan bisa mengurangi rasa sakit.
Lelah berdiri, Kei kembali duduk dipinggiran ranjang. Tuan Ken mengikuti untuk duduk ditepi ranjang juga.
Melihat Kei meringis, ia mengatur diri agar tidak panik. Seperti pesan mami Lyra beberapa waktu lalu.
Pintu ruangan terbuka, sekretaris Lee berjalan masuk dan menghampiri tuan mudanya. Sebelum itu melihat sebentar kearah jajaran para dokter disofa. Terdapat raut tegang dan kecemasan.
"Tuan muda." menunduk sebentar dan berdiri dihadapan tuan Ken. Ia berjaga, siapa tau tuan Ken membutuhkan sesuatu.
"Hei, cepat periksa istriku lagi. Mungkin angkanya sudah bertambah. Ini sudah lebih dari 10menit dari pemeriksaan yang tadi!" tuan Ken terlihat sudah tidak sabar. Ia harus menahan diri ketika melihat Kei terus meringis kesakitan.
__ADS_1
"Maaf tuan, biasanya angka pembukaan akan bertambah kira-kira 50 sampai 60 menit." jawab dokter Sofia. Baru pembukaan ke 2 sudah 5kali pemeriksaan. Para dokter bukan hanya sekali membantu persalinan ibu hamil. Maka itu mereka sudah hapal jangka waktu bertambahnya angka pembukaan. Lalu apa kuasa mereka menolak, keinginan tuan Ken tidak bisa dibantah.
"Apa...! hanya untuk bertambah angka 1 harus menunggu selama itu? kalau genap 10 harus menunggu sampai 8jam lagi? Apa kalian sudah tidak waras! istriku harus menahan sakit selama itu?" tuan Ken langsung berdiri karna terkejut. Arah pandangan mata menelusuri para dokter satu persatu, tentu dengan tatapan yang menakutkan.
"Sayang, diamlah....!" Kei menyentak tuan Ken. Ia menahan rasa sakit diperutnya, tapi tuan Ken marah-marah tidak jelas, menambah kekesalan saja.
Seperti para dokter yang ketakutan, tuan muda terlihat garang tadi melemas dan menutup mulut rapat-rapat. Manikmata terus memperhatikan Kei yang meringis dan mengatur nafas.
"Sampai kapan kita seperti ini? pembukaan jalan lahir Nona Kei baru sampai 2, masih lama untuk pembukaan 10. Rasanya pantatku sudah panas. Seperti ini bukan hanya nona Kei yang menahan rasa sakit. Kita juga menahan segala rasa." dokter wanita yang memakai kaca mata mengeluh, yang lain mengangguk menyetujui.
Dua jam kondisi masih seperti itu, tidak ada yang berubah. Namun rasa sakit yang dialami Kei semakin terasa, ibu hamil itu meremas baju tuan Ken hingga kusut tak berbentuk.
Ingin rasanya tuan muda itu membuka baju yang dipakai dan memberikannya pada Kei agar puas untuk diremas, dan ia pun melakukannya. Baju itu hampir terkoyak.
Keringat sebesar biji kacang hijau terus membasahi dahi Kei dan menetes, dengan telaten tuan Ken menghapusnya.
"Iya. Tapi sakitnya sebentar hilang sebentar datang..." Kei masih terus mengatur nafas.
"Bagaimana agar cepat sampai pembukaan 10? saat ini masih pembukaan ke-5. Huh, rasanya aku tidak tega melihatmu seperti itu, apa kau melahirkan dengan Cesar saja?" Dari tadi tuan muda itu membujuk untuk upaya tindakan Cesar, tapi Kei selalu menolak. Ia ingin melahirkan secara normal, tidak menyia-nyiakan kesempatan menjadi ibu yang sempurna dengan perjuangannya.
"Tidak. Aku ingin lahiran normal." menjawab singkat. Tangan itu terus mengelus perut buncitnya.
"Jika aku bisa menggantikan rasa sakitnya, pasti aku lakukan." kata tuan Ken.
Kei tidak menanggapi, ia mulai merasakan kesakitan lebih dari yang dialami tadi. Mungkin pembukaan jalan lahir sudah pembukaan ke-7. Dengan begitu rasa sakit itu semakin teratur dan frekuensinya semakin bertambah.
Kei sudah tak sanggup untuk berjalan, ia berbaring diatas ranjang dengan posisi miring seperti arahan dari dokter agar proses pembukaan lebih cepat.
__ADS_1
"Ssst... aduh, sakit..." Kei mulai tak bisa mengontrol diri, rasa sakit yang dirasa semakin tak tertahankan.
"Kei...Kei, kau-kau... huh... bagaimana ini?" Wajah tuan Ken bertambah panik mengetahui Kei mengaduh kesakitan. Bulir-bulir airmata menetes. Tentu saja membuat tuan Ken semakin kalang kabut. Tuan muda itu semakin khawatir.
"Hei, cepat lakukan sesuatu! lihat. Apa kalian tidak bisa melihat istriku semakin kesakitan! Hah..." tuan Ken mengusap wajahnya dengan kasar.
Kei tidak bisa merespon, ia sudah tak memperdulikan keadaan sekitar. Dia sendiri bingung dengan rasa sakit yang mendera. Bibir itu terus mengadu kesakitan.
"Kita tidak bisa melakukan apapun tuan, kita hanya bisa menunggu." dokter sudah bergetar ketakutan.
Sekretaris Lee yang juga masih disana juga tak bisa berbuat apa-apa, terus memantau keadaan.
Mami Lyra baru datang setelah sekian lama. Ia segera mendekat keranjang Kei, menggenggam tangan menantunya yang akan berjuang.
"Sayang, semangat berjuang ya Nak. Kamu pasti bisa. Harus tenang dan nggak boleh panik ya, atur nafas, rileks." Mami Lyra sangat tau kesakitan yang dialami Kei saat ini. Dia hanya bisa memberi semangat.
"Mami.. ini sakit sekali Mi, Kei nggak kuat Mi." merasakan sakit yang menjalar, Kei semakin terisak. Memegang pinggiran ranjang dengan kuat.
Tuan Ken sudah tak bisa berhenti terus berjalan mondar-mandir seperti setrika baju. Tangan kanan memegangi leher bagian belakang, tangan sebelah berkacak pinggang.
"Hei... lakukan sesuatu! cepat... istriku menangis, pasti sangat kesakitan. Oh... sepertinya aku akan gila, Lee. Kau juga harus lakukan sesuatu, jangan diam saja!"
"Maaf tuan muda, saya harus melakukan apa?"
"Hah... terserah kau mau melakukan apa! aku tidak perduli!"
'Apa tuan muda sudah mulai tidak waras karna melihat istrinya kesakitan?' batin Lee.
__ADS_1