Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Pintar Membalikkan Fakta


__ADS_3

Didalam kamar Kei menaruh baby Kio diatas bed. Ia duduk disampingnya tapi sibuk dengan pemikiran yang mengganggu.


Ia tak ingin berprasangka buruk kepada orang, tapi berpikir lagi harus extra hati-hati, mengingat perlakukan Ita dulu yang selalu menindas nya.


Kini bukan dirinya yang dikhawatirkan, melainkan putra kesayangan yang masih sangat imut dan menggemaskan.


Tidak mungkin 'kan, dia mau mencelakai bayi kecil yang imut. Melihatnya menangis saja tidak tega, apalagi menyakiti. Tapi itu pikiran orang normal. Pemikiran orang jahat yang selalu negatif mungkin saja mereka tega melakukan kejahatan meskipun terhadap anak kecil.


"Ah... aku ini berpikir apa!" Kei memukul kepalanya sendiri.


"Semoga saja tidak ada apa-apa. Tuhan melindungi orang yang baik." do'a Kei. Ia menggendong lagi baby Kio dan dibawanya keluar kamar.


Mengetuk pintu kamar mami Lyra. Belum dibukakan pintu, apakah Mami Lyra belum pulang.


Saat hendak melangkah pergi, pintu kamar Mami Lyra baru terbuka. "Kei, Sayang. Ada apa, Nak?" Mami Lyra sudah berdiri didepan pintu.


"Mami, boleh Kei ngobrol dengan Mami?" tanya Kei. Meski sudah menganggap Mami Lyra sebagai Ibunya sendiri, Kei selalu bersikap sopan.


"Tentu sayang, aku masuk." ajak Mami Lyra untuk masuk kedalam kamarnya dan mengobrol disana.


Didalam itu sama, Kei menurunkan baby Kio diatas ranjang, Ia duduk disampingnya.


Mami Lyra antusias menyambut cucu yang diidam-idamkan. Ia langsung mengajak baby Kio berbicara.


Setelah beberapa saat bermain dengan baby Kio, Mami Lyra beralih memandang menantunya. "Kei, ada apa? kenapa diam saja, bukannya tadi ingin mengobrol dengan Mami?"


"Ia Mi, tidak pa-pa, Kei hanya ingin bertanya saja."


"Tanya apa?"


"Tadi Kei melihat kepala pelayan Ita, apa dia kembali bekerja dirumah ini?" tanya Kei dengan penuh kehati-hatian, agar Mami Lyra tidak berpikir aneh.


"Oh, itu. Iya, Ita kembali bekerja disini." jawab Mami Lyra.


Jantung Kei langsung tersentak, jawaban Mami Lyra bukanlah jawaban yang ingin dia dengar. Ia sedikit berpikir bagaimana kedepannya atau bagaimana memberitahu Mami Lyra bahwa Ita itu selalu berbuat buruk padanya.

__ADS_1


Ia tak bisa mengatakan dengan langsung, mereka belum tentu mempercayai ucapannya.


"Bukannya dulu sudah berhenti dan digantikan dengan yang baru Mi?" tanya Kei.


"Iya. Dulu Ita memutuskan untuk berhenti karna mengurus Ibunya yang sakit. Nah beberapa minggu lalu, dia bilang Ibunya sudah meninggal. Dikampung dia tidak ada kerjaan, lalu Ita menelpon Mami katanya ia butuh kerjaan. Ya sudah, Mami suruh kembali kerumah ini." terang Mami Lyra.


Kini terjawab sudah, siapa yang mengizinkan Ita kembali bekerja dirumah itu.


Tidak mengherankan, Kei sendiri sudah bisa menebak karna sebelumnya memang Mami Lyra selalu mempercayakan apapun pada Ita. Ia salah satu pelayan yang pintar berkamuflase, merubah sikap didepan orang lain.


Sangat pintar mencari muka. Pantas disebut dengan wanita munafik.


Jika seperti itu apa yang harus Kei lakukan? Ia memang menantu dirumah itu, tapi apa ada hak untuk mengusir pelayan yang tidak disukai.


Memikirkan perasaan Mami Lyra, apakah ia benar jika menyuruh Mami Lyra untuk mengusir Ita.


Jika menceritakan kejahatannya tanpa bukti itu sama artinya dengan fitnah. Wanita munafik itu sangat pintar membalikan fakta dan keadaan.


Kei harus benar-benar mencari cara agar bisa membongkar kebusukannya. Tidak boleh gegabah dan harus berhati-hati.


"Kei, kamu kok melamun?" tanya Mami Lyra.


"Eum, tidak pa-pa Mi."


"Ada apa? kamu tidak memikirkan sesuatu 'kan?" tanya Mami Lyra lagi. Ia sebenarnya sangat perduli dengan mantu kesayangan.


"Mi, sebenarnya Kei tidak begitu menyukai keberadaan Mbak Ita."


"Kenapa sayang?" tanya Mami Lyra sedikit terkejut. Biasanya Kei selalu baik pada siapapun, pasti ada sesuatu.


"Dari dulu Mbak Ita tidak menyukaiku, Mi." Kei memberanikan diri. Entah Mami Lyra percaya padanya atau tidak, tapi ia berharap mertuanya itu bisa mempertimbangkan.


Mami Lyra mengerutkan dahi, merasa heran. "Dulu kamu belum menjadi menantu Mami, Kei. Sekarangkan kamu sudah menjadi istri Ken, tidak mungkin ada yang berani menyakitimu. Tenang saja, Mami tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Nak." kata Mami Lyra untuk menenangkan pemikiran Kei.


Jelas ini tanggapan Mami Lyra, tentu tidak akan begitu saja percaya dengan perkataan. Semua memang harus ada bukti.

__ADS_1


"Kei berharap seperti itu, Mi. Bukan hanya memikirkan aku, tapi baby Kio aku takut jika baby Kio akan disakiti."


"Ya Tuhan, Nona Kei. Kenapa anda tega memfitnah saya, apa salah saya Nona?" entah sejak kapan Ita sudah berdiri didepan pintu dengan membawa nampan berisi segelas susu putih. Ia menunjukan drama sedih didepan Mami Lyra, seolah sedang difitnah oleh Kei.


"M mbak Ita." Kei terkejut.


Mami Lyra langsung melihat kearah Ita.


"Nona, dari dulu anda memang tidak menyukaiku makanya anda mengatakan itu pada Nyonya besar. Saya disini kerja untuk mencari uang, kelurga saya dikampung sedang terkena musibah dan membutuhkan uang. Tolong jangan fitnah saya." Ita mengatakan dengan nada yang dibuat sedih. Benar-benar seolah telah difitnah.


'Belum apa-apa sudah begini.' batin Kei. Kini seolah dia yang bersalah dan tidak menyukai Ita.


"Ita, tidak seperti itu. Kamu jangan salah paham."


"Jika Nona Kei masih belum bisa menyukai kehadiran saya, baiklah biar saya berhenti lagi." kata Ita dengan dibubuhi drama airmata.


Bukankah itu berlebihan. Kei benar-benar geleng kepala dengan akting wanita munafik itu. Ia sangat pandai.


"Tidak Ita, kamu tidak perlu berhenti. Maafkan kami ya, kami tidak bermaksud menyakitimu." kata Mami Lyra. Wanita paruh baya itu memang memiliki hati lembut, ia akan mudah luluh dengan kesedihan seseorang.


Kei menghela nafas. Ia yang tau sikap asli Ita tentu merasa muak.


"Iya Nyonya terima kasih, sebenarnya saya sudah sangat nyaman bekerja dirumah ini. Nyonya besar majikan terbaik, sangat berat meninggalkan anda. Ita sangat menyayangi anda."


"Iya, kamu juga sudah lama bekerja disini. Saya sudah tau sikap kamu baik."


"Ini, Ita bawakan susu. Ita tau anda pasti belum meminum susu tulang seperti biasanya."


"Iya, tadi pulang dari Hotel belum sempat minum. Makasih ya."


"Iya Nyonya, kalau begitu Ita kebawah dulu." pamitnya.


Sebelum pergi, ia melihat kearah Kei. "Nona Kei, maaf jika saya punya salah dengan anda. Tapi saya tidak punya niat jahat kok, tolong jangan menilai saya seperti itu." kata Ita sebelum pergi.


Kei benar-benar muak dengan sandiwara itu, ia enggan untuk menjawab.

__ADS_1


__ADS_2