Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Lamaran Diterima.


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan sisa make-up yang luntur, Dewi berjalan keluar dari kamarnya dan menghampiri sekretaris Lee yang duduk disofa. Tidak berani memandang karna malu, hanya mampu menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


Sekretaris Lee tersenyum tipis, "Kenapa tidak melihat kearahku?" Lee sengaja menggoda. Dewi menggelengkan kepala, "Aku malu." jawab Dewi masih menunduk.


"Tidak pa-pa, lihatlah kesini wajahku diatas bukan dibawah." kata sekretaris Lee. Seperti perintah Dewi langsung melihat kearah sekretaris Lee, tersenyum malu-malu. Bukan hanya perasaan malu saja, tetapi menyembunyikan perasaan bahagia. Lelaki didepannya itu sudah membuktikan perkataanya yang akan datang kerumahnya, sebelumnya Dewi tidak pernah mengizinkan mantan pacar atau teman laki-lakinya untuk datang kerumah, sekretaris Lee adalah lelaki pertama yang bisa duduk dikursi usangnya.


"Tadi dijalan sedikit macet jadi sedikit terlambat datang, kamu menungguku?" tanya sekretaris Lee.


"Kalau dibilang menunggu sih, ya menunggu. Tetapi saya tidak berharap banyak untuk kedatangan anda, mungkin perkataan tadi di Kantor hanya lelucon."


"Aku sudah katakan, jika yang aku tadi serius. Bahkan sangat serius." dari tatapan dan perkataan sekretaris Lee memang terdapat kejujuran, membuat Dewi tidak bisa menyembunyikan senyuman.


Ibu Maryam baru saja muncul dari balik gorden pintu tengah, dengan membawa secangkir teh dan sepiring kue untuk disuguhkan didepan tamunya. Melihat itu Dewi segera bangkit untuk membantu ibunya, mengambil nampan dan memindah cangkir berisi teh dan juga kue diatas meja. Setelah selesai kembali duduk berdampingan dengan Ibunya.


"Silahkan diminum dan dimakan kuenya, Nak. Seadanya." Ibu Maryam dengan ramah mempersilahkan pria teman anaknya itu untuk menyantap kue buatannya.


"Iya Bu, terimakasih." ucap sekretaris Lee, mengambil cangkir teh dan menyeruputnya sedikit, setelah itu menaruhnya kembali diatas meja. Sekretaris Lee sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan mencari posisi yang nyaman untuk berbicara serius. Ibu Maryam dan Dewi menunggu kata-kata apa yang ingin disampaikan oleh pria itu.


"Begini Bu, tujuan saya kesini yaitu ingin melamar Dewi, anak ibu." sekretaris Lee mengatakan maksut tujuannya, membuat kedua wanita berbeda usia itu membeku. Sesaat kemudian Ibu Maryam menatap kearah putri satu-satunta itu. Bingung, lebih lagi terkejut, Dewi tidak pernah bercerita apa-pun tetapi tiba-tiba ada seorang pria yang melamar. Ibu Maryam sama sekali tidak menyangka jika lelaki yang datang itu langsung melamar putrinya, tadinya hanya berpikir, mungkin pria itu teman dekat Dewi dan masih tahap pacaran atau pendekatan.


Bukan hanya Ibunya saja yang mempunyai pemikiran, bahkan Dewi sendiri tidak percaya dengan apa yang da dengar. Tuan sekretaris benar-benar melamarnya. Jika dibilang bahagia tentu Dewi sangat bahagia, dia masih meyakinkan diri jika ini semua bukan mimpi.


Sekretaris Lee menahan nafas, menunggu jawaban dari Ibu Maryam membuatnya berdebar.


"Nak, kamu serius dengan katamu barusan?"


"Saya sangat serius, Bu."

__ADS_1


Ibu Maryam beralih menggenggam tangan Dewi, "Ibu sampai tidak menyadari jika kamu sudah dewasa Wi, tiba-tiba ada yang ingin melamarmu. Kamu juga tidak pernah bercerita apapun dengan Ibu." Ibu Maryam menatap lekat wajah putrinya. Dewi membalas pandangan ibunya dan tersenyum.


Ibu Maryam beralih memandang sekretaris Lee kembali, "Ibu tidak bisa mengambil keputusan Nak, biar Dewi yang menjawab mau atau tidak dilamar denganmu, menjalin hubungan yang serius."


Dewi mengepalkan tangan mengusir kegugupannya saat ini, ingin menjawab mau, tetapi dia sendiri tidak tau perasaan sekretaris Lee apakah mencintainya atau ada alasan lain?


"Bagaimana Wi, apa kamu menerima lamaran pria didepanmu itu? siapa namanya, Ibu sampai tidak tau." ucap Ibu Maryam dengan tersenyum.


"Nama saya Lee, Bu." sekretaris Lee baru memperkenalkan diri, dia sendiri lupa karna terlalu serius dengan tujuan kedatangannya.


"Boleh aku bertanya, tuan sekretaris?" Lee mengangguk.


"Kenapa tiba-tiba anda melamar saya?"


"Karna aku menyukaimu, aku ingin memilikimu, dan menjalin hubungan yang serius. Untuk itu aku langsung melamarmu dan jika kau menerimaku aku akan segera menikahimu."


Deg...


"Baiklah, aku terima lamaran tuan."


Seketika sekretaris Lee juga tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Ternyata Dewi mau menerima lamarannya, tinggal selangkah lagi maka dia akan memiliki candu itu seutuhnya.


Ibu Maryam memeluk putrinya dari samping, ikut merasakan kebahagiaan putrinya.


Terlalu bahagia, sekretaris Lee sampai lupa tidak mengeluarkan sepasang cincin yang sudah dia siapkan tadi. Ketika teringat, dengan cepat merogoh saku jaket dan mengeluarkan kotak perhiasan kecil dan membukanya.


Sepasang cincin berlian yang indah, Lee mengambil cincin yang terdapat batu permata berwarna biru muda yang akan disematkan dijari manis Dewi.

__ADS_1


"Berikan jari manismu, dengan cincin ini berati aku sudah mengikatmu." kata sekretaris Lee. Dewi menyodorkan tangannya, Lee segera menyematkan cincin itu. Setelah itu berganti Dewi yang memasangkan cincin dijari manis sekretaris Lee. Keduanya tersenyum bahagia, Ibu Maryam juga sangat bahagia hingga tak kuasa meloloskan airmata kebahagiaanya.


"Semoga hubungan kalian langgeng sampai hari H ya," do'a Ibu Maryam. "Amin..." jawab keduanya.


"Maaf nak, kenapa dihari penting ini kamu hanya datang sendirian? dimana keluargamu?" Ibu Maryam tidak bisa menahan rasa penasaran, kenapa sekretaris Lee hanya datang sendiri. Lalu, dimana orang tuanya? calon besannya.


"Maaf Ibu, saya sudah tidak memiliki orang tua."


"Maaf ya Nak, bukan maksut ibu buat kamu sedih."


"Tidak pa-pa Bu."


Dewi membatin, pantas saja waktu datang ke Apartemen tuan sekretaris terlihat sepi tidak ada siapapun.


"Dewi, bagaimana kalau 1bulan lagi kita menikah?" tanya Lee.


"Apa...? 1bulan lagi?" Dewi sedikit terkejut, secepat itu?


"1bulan apa nggak terlalu cepat, tuan?"


"Kalau menurutku tidak, tetapi terserahmu saja. Kapan kamu siap." Lee menyerahkan keputusan kepada Dewi. Dewi sendiri bingung, 1bulan itu waktu yang sangat cepat.


"Bagaimana, Bu?" Dewi meminta pendapat ibunya. "Ibu terserah padamu," Ibu Maryam kembali menyerahkan keputusan kepada Dewi.


"Dalam waktu 1bulan apa semua sudah beres?" Dewi bertanya pada dirinya sendiri, menggigit bibir bawah dan menggerakkan matanya kekanan kekiri. Mengurus pernikahan juga membutuhkan waktu untuk mengurus berkas-berkas dan lainnya, tanpa dia tau bahwa sekretaris Lee bisa melakukan apa saja dengan waktu yang singkat. Tentu saja ada nama tuan Ken dibalikknya. Ada hal lain juga yang Dewi yang mengganggu pikirannya, memang dia mencintai lelaki didepannya itu, yang kini resmi menjadi tunangannya. Tetapi dia juga belum mengetahui sifat dan karakter dari calon suaminya itu.


"Kau tenang saja, semua pasti beres. Kau tinggal bilang ingin pesta seperti apa? atau ingin memilih konsep sendiri? kau juga bisa meminta mas kawin sesukamu."

__ADS_1


"Itu terserah tuan saja, aku tidak tau konsep pernikahan yang bagus."


"Tetapi kau setuju 'kan kalau kita menikah bulan depan?" Lee memastikan. Dewi menganggukkan kepala, dengan tersenyum bahagia.


__ADS_2