
Pada sebuah perasaan, aku tak cukup mampu mengatakan bahwa aku terluka. Kini ku tutupi dengan sebuah senyuman.
Dua insan yang masih saling mendekap dan merasakan kehangatan antara semilir angin yang berhembus, membawa kedamaian yang tercipta.
Meski kedamaian itu ada setelah terjadinya pertengkaran. Tapi saat ini badai itu berlalu, hingga hanya ada kebahagiaan.
Keduanya tersenyum cerah, seperti senja yang sedang mereka lihat. Lee yang mengawasi dibelakang ikut tersenyum bahagia. Kedua majikannya sudah semakin berpikir dewasa, apalagi tuan mudanya tak lagi arogan seperti dulu. Itu semua berkat Kei yang membawa pengaruh positif untuk Ken, menjadikan pria dingin dan arogan itu bisa meleleh.
Saat Kei merengkuh tubuh bagian belakang suaminya, disitu jari tangan lentiknya terasa basah. Kei nampak berpikir, kenapa baju suaminya basah?
Karna penasaran ia memundurkan kepala, betapa terkejutnya melihat baju biru muda yang dipakai Ken bagian belakang sudah basah oleh cairan merah.
"Sayang, lukamu?" ucap Kei mulai khawatir.
"Tidak pa-pa Honey, ini tak sebanding dengan lukamu."
"Kau malah sok puitis! ya Tuhan..." ucap Kei. Secepatnya rasa panik sudah menghampiri. Ia berdiri dan mengedarkan pandangan disekelilingnya, pasti ada pengawal yang berjaga. Tapi mata itu menangkap sosok Lee yang berdiri agak jauh dari posisi duduk saat ini.
Ia melambaikan tangan untuk memberi isyarat agar Lee menghampirinya.
Di sana Ken meringis, awalnya rasa sakit itu ia tahan demi melihat sebuah senyum dibibir Kei. Tapi darah yang keluar semakin banyak dan membuatnya sedikit melemah.
"Ada apa Nona?" Lee belum maksimal mendekat tapi sudah antusias bertanya.
"Luka di bahu suamiku mengeluarkan darah, kita harus membawanya masuk." kata Kei masih diselimuti kekhawatiran.
Lee melihat bahu tuan mudanya, ia pun begitu terkejut. Ia pikir hanya sedikit, tapi hampir sebagian baju Ken basah oleh darah.
Lee segera menyuruh pengawal untuk membawa kursi roda yang tergeletak tadi, ia memapah tubuh Ken dan segera mendorong kursi roda untuk masuk kedalam.
Ken diam saja, sekuat tenaga menahan sakit. Kini pandangan mata mulai berkunang-kunang.
Pasrah dengan dorongan kursi roda yang akan membawanya kembali keruang rawat.
Beberapa dokter bersiap dengan tugas mereka.
"Lukanya mengeluarkan darah, pasti jahitan itu terbuka lagi. Ini semua gara-gara aku." Kei meremas jemari tangannya. Merasa bersalah.
__ADS_1
"Tuan muda memang keras kepala, tidak mau mendengar perkataan orang sekitar. Ini bukan salah anda, tuan muda sendiri yang memaksa untuk menemui anda ditaman." kata Lee ia menenangkan Kei yang khawatir. Padahal ia sendiri juga khawatir.
"Tapi kalau aku tadi segera datang, dia nggak akan menyusul ku." Kei menyalahkan diri.
'Memang pasangan kompak, dua-duanya susah dibilangi.' kesal Lee dalam hati.
"Kei.." Mami Lyra berjalan mendekat. Setelah mendapat kabar ia segera kembali kerumah sakit. "Bagaimana? kenapa luka Ken bisa terbuka lagi?" tanyanya dengan khawatir.
"Iya Mi, tadi suamiku menyusul ku ditaman. Mungkin banyak pergerakan membuat jahitan itu terbuka lagi." jawab Kei. Ia tak mengatakan tentang masalahnya tadi.
"Tuan muda yang memaksa ingin pergi ke taman, Nyonya," Lee menyahut, ia tak mau Kei menyalahkan dirinya lagi.
Disaat keheningan tercipta, ruang sebelah terbuka. Perawat keluar dengan menggendong baby Kio, bayi kecil itu baru saja terbangun dari tidurnya.
Tangan mungil itu mengucek matanya sendiri, seperti apapun tingkah baby Kio tetap saja menggemaskan.
"Anak Mom sudah bangun," Kei merentangkan tangan untuk menggendong baby Kio.
Bayi itu langsung nyaman berada didekapan Mommy nya.
Melihat putra dari tuan mudanya, ia menjadi teringat dengan Dewi dan putri kecilnya. Ia berpamit sebentar untuk kembali keruang rawat Dewi.
"Kau dari mana saja, Suami. Eh, bukan. Sekarang sudah menjadi Papa, kita harus membiasakan diri untuk memanggil Papa sama Mama." ralatnya.
"Maaf Istri, aku dari ruang rawat tuan Ken." jawab Lee.
"Bukan istri, panggil aku Mama. 'Kan, kita udah menjadi orang tua sekarang." ulang Dewi. Ia tak mau lagi dipanggil dengan istri, menurutnya panggilan Mama cocok untuk dirinya.
"Oke Mahmud."
"Astaga, disuruh panggil Mama malah jadi Mahmud! nanti dikira aku istrinya pak Mahmud!" kesal Dewi.
Lee tersenyum, ia menggaruk leher belakang. Dewi terlihat lucu.
"Kau menertawai ku! kau tau 'kan perjuanganku melahirkan putri kita."
"Tentu aku tau. Kau saja yang tidak tau apa itu Mahmud, Mahmud itu singkatan dari Mamah Muda." kata Lee dengan tersenyum.
__ADS_1
Jika begitu wajah Dewi berubah memerah, ia malu-malu untuk melihat kearah suaminya.
"Hei, kenapa wajah Mahmud memerah begitu?" Lee semakin gencar menggoda Dewi. Lee memang pintar, ia menggunakan jurus gombalan sedikit agar Dewi tidak marah padanya. Karna dia sering meninggalkan Dewi untuk mengecek kondisi tuan Ken. Bagaimana lagi, keduanya sangat penting untuk dipantau.
"Kalau aku dipanggil Mahmud. Berati kamu dipanggil pak Mahmud?" tanya Dewi.
"Bukan, panggil saja Pahmud," Lee sendiri merasa geli dengan panggilan yang ditemukannya lewat searching di google. Sedikit menyesal mengenalkan panggilan itu pada istrinya.
"Eum, tidak. Kita tetap memanggil Papa sama Mama saja. Nggak perlu Mahmud atau Pahmud, sepertinya itu terlalu aneh." imbuh Lee.
"Enggak, aku sudah suka dengan Panggilan tadi. Itu bagus kok."
'Ampun, sepertinya penyesalan berganti menghampiriku. Tapi tak sedalam penyesalan tuan muda.' batin Lee.
"Sepertinya dari tadi putri kita tertidur? kenapa dia tidak bangun-bangun? tadi baby Kio sudah bangun." Lee lebih mendekat dan mengamati wajah putri kecilnya yang terlelap dipangkuan Dewi.
"Kamu ini, anak kecil nggak bisa disamain. Apalagi kalau masih bayi begini ya kerjaannya cuma tidur." jawab Dewi.
"Kau benar kalau kerjaan dia hanya tidur, tidak mungkin 'kan putri kita baru lahir langsung bekerja dikantor." jawab Lee acuh.
"Astaga, kenapa Papa menjadi menyebalkan! aku baru saja melahirkan, aku butuh perhatian bukan kata-kata menyebalkan begitu." berapa kali suaminya membuat kesal. Sikap Lee terkadang memiliki kemiripan dengan tuan Ken, yaitu menyebalkan dan berbicara tidak masuk akal. Hanya saja, ia lebih bisa dewasa. Tidak terlalu memaksakan kehendak.
"Ibu mertua kemana?" Lee baru sadar jika diruang itu tidak ada Ibu Maryam.
"Ibu tadi izin pulang sebentar buat ambil baju ganti." jawab Dewi.
"Kenapa tidak bilang? aku bisa menyuruh pengawal untuk mengambil ke Apartemen."
"Gimana mau bilang, kamu dari tadi menghilang." ucap Dewi ketus.
Saat Lee meninggalkan Dewi, istrinya itu memang sedang tertidur.
"Maaf Mama Sayang, tugasku bukan hanya menjaga keluarga. Ada tuan muda yang juga harus ku jaga. Kau tau itu dari sebelumnya." Lee memberi pengertian.
"Iya, aku tau. Tapi aku kesal, kau pergi saat aku tertidur. Padahal saat bangun aku hanya ingin melihatmu dan putri kecil kita." kata Dewi dengan senyum tipis.
"Eum, manis sekali. I love You."
__ADS_1
"Apaan sih..."