Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mendandani Tuan Ken.


__ADS_3

Pasukan para dokter sudah kembali kerumah sakit. Ken sedang membersihkan tubuhnya kembali karna Kei masih menolak kehadiran tuan Ken yang ingin mendekatinya, menyuruh tuan Ken untuk mandi lagi padahal baru 1jam tuan muda itu membersihkan tubuhnya. Dengan terpaksa tuan Ken menuruti keinginan Kei, yang terpenting keinginan istrinya itu semua terpenuhi.


Sebelum dokter kembali ke Rumah Sakit, dokter kandungan memberi pesan agar tuan Ken bisa menjadi suami yang siap siaga. Harus menuruti segala yang diminta oleh nona Kei semuanya, tanpa terkecuali. Tuan muda yang masih merasakan kebahagiaan itu terpaksa menyetujui, walau dari tadi tuan Ken mengeram kesal karna sikap Kei yang aneh belum hilang, tetapi apa boleh buat. Dokter tidak menceritakan garis besar keinginan Ibu hamil yang bisa saja meminta hal aneh dan nyeleneh, hanya memberi saran saja.


Ceklek...


Ken sudah selesai, keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk. Kei tersenyum memandang suaminya yang terlihat keren, sexy dan tampan saat seusai mandi. "Sayang... kemarilah." Kei menyuruh tuan Ken mendekat, tuan Ken sedikit terkejut dengan permintaan Kei. Tetapi dalam hati tentu sangat bahagia, itu berarti istrinya sudah normal tidak aneh lagi. Dengan senyum merekah Ken menghampiri Kei dan duduk disampingnya.


"Aku suka bau tubuhmu sesudah mandi, ini sangat enak sekali. Seperti rasa buah, aku ingin memakanmu." Kei berucap manja. Tuan muda itu sudah merasakan aliran darah yang berdesir, Kei meraba-raba dada dan perutnya yang seperti roti sobek. "Baby, jangan menggodaku... aku tidak akan bisa menahan." suara tuan Ken terdengar berat. "Siapa yang menggodamu? aku hanya ingin seperti ini! kau tidak mau? kau tidak suka? pergilah." Kei mengomel, dan cemberut. Ken tersentak, melebarkan bola mata, pertama kali Kei berani mengomeli dirinya seperti itu. Apakah itu juga bagian dari aksi ngidam? kalau begitu baiklah, apalagi yang bisa dilakukan selain menurut.


"Tidak Baby, kau boleh melakukan apapun yang kau mau." Ken mengatakan dengan lembut, menarik tangan Kei untuk kembali mengelus perutnya. "Auh... gagakmu sudah bangun, sayang?" dibibir Kei muncul senyum meledek. "Honey, kau tau aku tidak bisa menahan jika berada di dekatmu seperti ini." terdengar sedih, tentu Ken teringat akan pesan dokter yang menyarankan agar tuan Ken tidak melakukan hubungan suami istri dulu sampai usia kandungan Kei kuat dan sehat. Ken mengutuk para dokter yang memberi saran kesengsaraan itu, bisa saja 2minggu kedepan burung gagak itu tidak bisa merasakan sarang yang nyaman.


Membayangkannya saja Ken tidak sanggup.


"Apa kau menginginkan sesuatu? aku akan menuruti semua yang kau minta." ucap Ken. "Benarkah?" Kei meyakinkan, Ken mengangguk.


"Aku ingin membeli mobil keluaran terbaru, secepatnya! aku ingin berjalan-jalan memakai mobil baru."


"Tentu, aku akan menghubungi Lee. Permintaanmu semua akan terkabul, Sweety." Ken mengambil ponsel diatas nakas dan mengetik sesuatu, lalu mengirim pesan kepada Lee. "Aku ingin mandi, setelah mandi kita berjalan-jalan." pinta Kei, kakinya sudah turun menyentuh lantai. "Jangan turun, biar aku gendong saja kekamar mandi." Ken segera mengambil posisi untuk menggendong istrinya.

__ADS_1


Kei hanya tersenyum di gendongan tuan Ken.


Ken menurunkan Kei disamping bathtub dan ingin menunggui Kei berendam, tetapi Kei yang malu tidak mau jika tuan Ken menunggu dan menyuruhnya untuk keluar.


Ken terpaksa keluar, dari bibirnya terus menggerutu. Sungguh itu siksaan yang menyakitkan baginya, biasanya sesuka hati menyentuh Kei sekarang harus menahan diri. Bagaimana dia akan menjinakkan burung gagak yang sudah berdiri sempurna.


Mengambil ponsel lagi dan menghubungi Lee, menanyakan apakah sudah memesan mobil yang dia suruh tadi. Terdapat balasan dari Lee yang bertanya, nona Kei menginginkan warna apa. Ken segera membalas, dia sudah tahu warna kesukaan istrinya tanpa dia tahu jika wanita ngidam itu suka berubah-ubah.





Tuan Ken benar-benar dibuat kewalahan menghadapi sikap istri lama tetapi memiliki sikap baru. Ini baru satu hari, lalu ibu hamil akan mengandung selama 9bulan lebih 10hari. Ken tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya selama itu.



"Baik, aku akan memakai jaket berwarna kuning yang kau pilihkan untukku." Ken berjalan gontai menuju keranjang, disana sudah ada jaket yang dipilihkan Kei tadi. Secepatnya Kei tersenyum lebar. Selesai menggunakan jaket, Kei menyuruhnya untuk mendekat kemeja rias dan mengoles liptin natural untuk tuan Ken. 'Apa-apaan ini! kenapa aku harus memakai lipstik! apa kata orang nanti, seorang pemilik perusahaan besar berdandan seperti ini!' rasanya Ken ingin melayangkan protes keras.

__ADS_1


Selesai memoleskan liptin dibibir tuan Ken, Kei beralih mengambil sisir.



"Honey, aku bisa menata rambutku sendiri." menolak dengan cara sehalus mungkin. "Tidak apa-apa sayang, aku ingin menata rambutmu sesuai bayanganku." Kei tidak mengindahkan penolakan tuan Ken, dia berdiri dan menyuruh tuan Ken untuk duduk dikursi. Mulanya Ken terlihat pasrah, dia yakin istrinya memiliki style yang oke hingga dia akan menerima tataan rambutnya yang baru. "Selesai sayang..." Kei merasa bangga sudah menciptakan perubahan pada diri tuan Ken.



Ken memandang dirinya didepan kaca, dirinya yang terkejut sampai hampir terjungkal kebelakang. Bola mata itu melebar selebar-lebarnya, jika yang menata rambutnya itu orang lain sudah bisa dipastikan orang itu akan menerima pasal berlapis-lapis. Ken harus benar-benar meredam emosi yang sudah ingin meledak, dirinya bukan terlihat keren melainkan seperti laki-laki culun jaman penjajahan yang menggunakan style rambut belah tengah. Kei juga memakaikan minyak rambut yang lumayan banyak hingga rambut tuan Ken terlihat sangat lepek.



Ken tidak bisa menerima takdirnya seperti ini, dia ingin bersembunyi saja didalam lemari. "Hone...y, kau tidak salah memilih gaya rambut seperti ini?" Ken menelan salivanya dengan susah payah. "Tidak sayang, kau tau? kau itu terlihat sangat-sangat dan sangat tampan sekali." tanpa bersalah Kei mengatakan itu.


'Seperti ini kau bilang tampan? apa ibu hamil mempunyai penglihatan yang rabun? aku harus menanyakan ini kepada dokter kandungan. Ini tidak bisa dibiarkan! bisa kacau jika Kei memintaku berdandan seperti ini sampai dia melahirkan.' Ken membatin. Dulu Kei-lah yang sering berbicara dalam hati, kini posisi itu sudah diubah.



"Baby, bolehkah aku memakai topi?" pinta Ken, setidaknya dia bisa menyembunyikan tatanan rambut jaman old-nya. "Boleh, nanti aku pilihkan dulu." ucap Kei dan berjalan keruang ganti. Ken menjatuhkan kepalanya diatas meja rias, menerutuki nasibnya yang akan menjadi seorang ayah tetapi harus menerima perlakukan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2