Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sesuatu


__ADS_3

Sepulang dari pemakaman, Naya hanya berbaring di tempat tidur. Meski sudah waktunya makan malam, namun tak membuat Naya beranjak sedikitpun. Dia tak memikirkan apapun, selain calon anaknya dan penyebab kepergian ibunya. Perasannya masih ada yang mengganjal. Namun dia tak tahu pasti penyebabnya.


Saat terdiam dalam lamunan, tiba-tiba Akio datang membawa nampan berisi makanan. Pemandangan pertama melihat Akio membawa itu dengan sebuah celemek yang menempel di tubuhnya.


"Waktunya makan malam. Bubur spesial, perdana buatanku," ucap Akio sambil menaruh makanan di atas nakas.


"Aku masih kenyang," ucapnl Naya menolak. Perempuan itu sempat tersenyum simpul melihat penampilan Akio yang menurutnya lucu.


"Bohong banget. Kapan kamu makan? Cuma tadi pagi."


"Aku nggak nafsu makan."


"Kamu bisa tahan lapar, tapi kasihan dengan bayimu."


Bayi lagi, bayi lagi. Andai tidak ada makhluk kecil bernama bayi. Sungguh, rasanya Naya tak sanggup untuk bertahan. Semenjak pindah ke ibu kota, hidupnya tak lepas dari masalah silih berganti. Bahkan sekarang, dia sampai kehilangan ibunya. Satu-satunya orang yang paling mengerti hidupnya.


Perut keroncongan menimbulkan suara yang membuat keduanya saling pandang. Detik berikutnya Akio tersenyum lebar. "Apa aku bilang, kamu bisa bohong, tapi perutmu berkata jujur. Ayo makan dulu."


Dia mengambil mangkuk bubur. Mengaduk sebentar dan bersiap untuk menyuapi. "Makan! Sedikit aja nggak pa-pa. Kamu nggak tahu perjuanganku membuat bubur ini. Tanganku sampai melepuh terkena uap panas." Akio menunjukan pergelangan tangan sebelah kanan yang terdapat terluka kecil dan memerah.


Naya memegang telapak tangan Akio. "Kok sampai seperti ini? Pasti perih banget," ujarnya. "Sebentar aku ambil kotak obat. Ini pasti panas, harus di kasih gel pendingin." Naya menyingkap selimut. Tetapi di cegah Akio.


"Kamu mau ngapain?"


"Mau ambil kotak obat."


"Biar aku yang ambil. Tapi ada syaratnya ...."


Naya mengernyit. "Syarat apa?"


"Kamu harus makan," sambung Akio dengan tersenyum.


"Iya-iya nanti aku makan."

__ADS_1


Akio menaruh lagi mangkuk bubur ke atas nakas, setelahnya berlalu untuk mengambil kotak obat. Tidak sia-sia dia terluka, setidaknya Naya mau dibujuk Untuk memakan makanan yang sebenarnya buatan pelayan. Dia hanya memindahkannya.


Beberapa saat Akio sudah kembali membawa kotak obat.


"Habisin," kata Akio saat mengetahui Naya sudah memakan bubur buatannya.


"Aku baru makan satu suapan." Naya terpaksa memakan bubur itu demi menghargai suaminya.


"Di makan semuanya juga nggak pa-pa, aku malah seneng." Akio tersenyum.


"Semoga saja aku khilaf dan aku makan semuanya," balas Naya. Dia mengambil kotak obat yang dibawa Akio, setelahnya mengambil gel pendingin untuk luka bakar dan mulai mengolesi telapak tangan Akio dengan hati-hati.


Selesai mengoles gel, Akio mengambil alih kembali menyuapi Naya.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Naya.


"Nay, jangan merasa sendiri. Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu," ucap Akio tiba-tiba. Entah sudah ke berapa kali kalimat itu di ucapkan.


'Sekarang kamu menjagaku, tapi nanti ... nanti ketika waktunya aku harus mengembalikanmu pada Zee. Aku bakal sendirian. Bahkan anak ini akan bersamamu.' Mengingat itu air mata Naya menetes.


"Kenapa harus berterima kasih. Itu sudah tanggung jawabku peduli padamu. Kamu istriku." Dengan tangan sebelah, Akio mengusap pipi Naya untuk membersihkan air mata.


Mungkin, perhatianmu yang nanti membuatku berat untuk meninggalkanmu. Tuhan, jaga perasaanku supaya aku selalu ingat bahwa Akio bukanlah milikku.


*


Satu minggu telah berlalu. Perempuan bernama Naya mulai menjalani aktifitas seperti biasanya. Dia tak bisa terus-terusan berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun. Badannya mulai terasa kaku karena kurang bergerak.


Meski kesedihan masih terasa mendalam, namun dia mencoba mengalihkan diri dengan kesibukan di dapur. Ketika sibuk memotong sayuran, tiba-tiba ponsel di dalam saku celananya berdering. Dia mengernyit mengetahui seseorang menghubunginya.


"Mbak Nay, bisakah saya bicara dengan Anda. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap seseorang dari seberang telepon.


"Ada apa, ya, Bu?" tanya Naya penasaran, sepertinya hal yang akan di sampaikan orang itu begitu penting.

__ADS_1


"Saya ingin bicara langsung. Bisakah kita bertemu."


"Aku harus izin Akio. Nanti aku telepon lagi. Tapi, kalau mau, ibu boleh datang ke rumah ku," kata Naya. Kalau perempuan paruh baya yang pernah menjaga ibunya itu mau datang ke rumah, dia tidak perlu meminta izin pada Akio. Karena belum tentu juga Akio memberinya izin.


"Baiklah, Mbak, biar saya saja yang datang ke rumah Mbak."


"Iya, Bu." Naya mematikan sambungan telepon. Namun baru saja di simpan, telepon kembali berdering. Kali ini, nomor Akio yang menghubunginya. Mengatakan kalau nanti malam mereka akan makan di luar. Naya hanya menyetujuinya tanpa tahu Akio punya kejutan khusus untuknya.


Yah, hari ini adalah hari ulang tahun Naya. Akio sedang mempersiapkan suprise untuk kejutan nanti malam.


Satu jam dari itu, ternyata ibu paruh baya yang tadi menelpon Naya sudah datang. Naya menyambut dengan ramah.


"Apa yang ingin Ibu sampaikan. Sepertinya penting?" tanya Naya langsung.


Ibu paruh baya itu mulai bercerita serius, sampai membuat Naya benar-benar syok. Kejanggalan yang dipikirkan ternyata mulai ada titik terang. Dia menduga ada yang terjadi hingga menyebabkan ibunya tiba-tiba pingsan bahkan sampai berakibat fatal.


Mengetahui cerita itu, detik ini juga Naya ingin menemui seseorang. Dadanya bergemuruh dan terasa sebak. Beberapa kali dia menyebut nama Tuhan, agar rasa sesak, marah, kecewa bercampur rasa sakit, sedikit mereda. Hampir saja dia tak bisa mengendalikan diri.


"Terima kasih Ibu sudah mau memberitahuku," ucap Naya sambil menahan isak tangis.


"Ibu ingin diam. Tapi nggak bisa menahan rasa bersalah kalau tidak memberitahu Mbak Naya. Tapi tolong jangan menyalahkan beliau, Mbak, mungkin saja ini memang garis takdir ibu Lestari sampai di sini."


Sesudah menyampaikan apa yang mengganjal hatinya, ibu paruh baya itu berpamitan pulang.


Sepeninggalan ibu tadi, Naya terduduk lemas dengan deraian air mata. Sungguh tak menyangka kesalahan yang dilakukan berimbas pada kepergian ibunya untuk selama-lamanya.


"Sudah sekian lama, kenapa tidak mengatakannya padaku. Kenapa tidak mencaci makiku saja? Kalian hanya menyalahkanku, tanpa menyalahkan Akio. Kalian terus berpikir ini adalah kesalahanku. Kenapa tidak menunggu sebentar saja, hanya sampai anak ini lahir dan aku akan mengembalikan keadaan. Aku akan mengembalikan Akio pada kalian!" ucap Naya tertahan. Ingin sekali dia meneriakkan kalimat itu sekencang mungkin di depan seseorang.


Apa yang baru saja diketahui membuat Naya bertekad memujudkan rencananya lebih cepat. Dia akan mengembalikan Akio pada Zee.


*


Malam ini Naya merias diri secantik mungkin. Malam panjang yang akan dilalui bersama Akio. Dengan perasaan menahan sebak dan kekecewaan, tetapi dia ingin tampil sempurna untuk malam ini.

__ADS_1


Meski entah berapa kali dia harus memoles wajahnya karena air mata tak henti mengalir. Hatinya bertekad, namun perasaan menahan.


__ADS_2