Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Anak kecil belum memiliki prinsip


__ADS_3

"Anakmu masih kecil udah ngalir banget pikirannya tentang pernikahan, Mbak?" kata Kei pada Dewi. Tapi manik matanya masih melihat ke arah Zee dan Kio yang sudah duduk diatas karpet berbulu, dengan berbagai mainan Kio yang sudah berserak disekitar mereka.


"Dia putriku yang pandai berbicara dan merekam apa yang dilihat, Kei. Kata-kata yang didengar dengan gamblang bisa dijabarkan. Apalagi kalau sudah duduk didepan TV, apa yang dilihat pasti diceritakan lagi. Dia sangat cerewet." Dewi bercerita tentang kebiasaan alzeena.


"Seperti Mbak, dong." Kei melemparkan candaan.


"Enggaklah. Aku bukan cerewet, tapi hoby berbicara." kata Dewi meladeni candaan dari sahabatnya itu.


Hati Dewi merasa senang, setidaknya bisa melihat Kei tersenyum lagi meski hanya untuk sementara. Setidaknya kesedihan Kei bisa tersamarkan dengan kedatangannya.


"Tapi ya.... namanya anak kecil Kei, belum bisa dipegang semua ucapannya. Belum punya prinsip yang tetap dan masih berubah-ubah." imbuh Dewi.


"Iya, Mbak benar. Anak-anak memang belum bisa dipegang kata-katanya. Bahkan dia pun belum tentu paham dengan kalimat yang diucapkan. Ibarat kata, dia mengatakan sebuah kalimat tapi belum bisa menyaring dari jabaran kalimat itu sendiri. Hanya menelan kalimat itu mentah-mentah tanpa mampu memahami." Kei yang juga memiliki anak seumuran dengan Alzeena, dia pun paham dengan sikap putranya yang hampir sama. Yaitu sama-sama berbicara asal.


"Tapi kalau kita jadi besanan, asik pasti ya Mbak." kata Kei.


"Aku belum bisa menentukan masa depan Zee, Kei, dia masih terlalu kecil, bahkan aku belum memikirkan sampai kesitu. Lagi pula aku dan papanya Zee sepakat menyerahkan semua urusan jodoh pada takdir. Jika Zee berjodoh dengan Kio, biarlah mereka didekatkan sendiri tanpa ikut campur tangan kita." jawaban bijak dari Dewi.


Dia dan Lee selalu sepakat dalam urusan masa depan anak-anak mereka. Tidak akan memaksa jalan hidup anaknya, membiarkan mereka tumbuh dengan keinginannya tanpa mencegah dan memaksa untuk melakukan hal yang tidak disukai. Mereka berdua sebagai orang tua hanya akan mengarahkan pada kebaikan.


"Iya Mbak, aku setuju. Kita sebagai orang tua tidak bisa memaksakan keinginan kita, mereka punya hak menentukan masa depan dan pilihan hati mereka. Takdir jodoh sudah dipersiapkan oleh Tuhan, kita hanya bisa berdo'a. Tapi Tuhan lah yang mengabulkan."


"Meskipun mereka tidak berjodoh kita masih tetap menjadi keluarga." imbuh Kei.


"Terima kasih Kei, keluarga Nyonya Besar, dan kamu sangat baik pada keluargaku. Padahal kami hanya bawahan mu. Tapi kalian malah menganggap kami seperti keluarga." ucap Dewi.


"Meski suamiku selalu mendampingi dan menolong Tuan Ken, tapi itu semua sudah tanggung jawabnya sebagai tangan kanan Tuan Ken.


Dari sebelum aku kenal dengan sekretaris tampan, mereka berdua sudah menjadi partner atasan dan bawahan yang saling kompak." imbuh Dewi.


"Apa Mbak nggak tau kalau suamiku sama sekretaris Lee memang saudara tiri." kata Kei.

__ADS_1


Perkataan Kei barusan membuat Dewi langsung terkejut. "Saudara tiri?" Dewi pun mengerutkan dahi. Perkataan Kei membuatnya heran. Dia yang sudah bertahun-tahun menjadi istrinya Lee tapi tidak tahu akan hal itu. Dan kini ia tahu malah dari sahabatnya sendiri, bukan dari suaminya.


"Wajar kalau Mbak belum tau. Aku dan yang lain baru tau tadi, suami Mbak mengungkapkan rahasia yang disimpan."


"Suamiku menyimpan rahasia? aku benar-benar tidak tau, Kei." kata Dewi dengan ekspresi terkejut.


"Iya Mbak. Sekretaris Lee menyimpan itu sampai bertahun-tahun lamanya. Tadi dia menceritakan semuanya karna kepergok dengan Mami pas suami Mbak mengunjungi makam almarhum Tuan Hiro."


Dewi sampai membuka mulut lebar-lebar, reaksinya sama seperti Kei saat dirumah sakit tadi.


"Jadi suamiku anak tirinya Nyonya Besar?" Dewi seolah tidak percaya.


Kei menganggukkan kepala dan mulai menceritakan seperti yang didengarnya tadi dari sekretaris Lee.


Sedangkan Kio dan Zee masih saja asik bermain dan bertengkar.


"Kak Io sudah ya.. jangan sedih lagi. Zee terus mendo'akan Paman Tuan Muda biar cepat bangun."


"Kamu nggak tau, aku rindu digendong dengan Dad." kata Kio.


"Dad tidur lama banget nggak bangun-bangun. Aku takut, Dad nggak bangun lagi." pemikiran Kio sudah mampu menjangkau hal sejauh itu.


"Nanti kalau Dad nggak bangun, aku nggak punya Dad lagi." imbuhnya.


"Nanti kita barengan aja, aku suruh Papa ku buat jadi Papanya Kak Io. Seperti dulu kita barengan adik. Kak Io belum punya adik, adiknya Zee juga jadi adiknya Kak Io." Zee memberi usul.


Tapi Kio menggelengkan kepala. Dia menolak usul dari Zee. "Tidak mau. Aku hanya ingin dipeluk dengan Dad, bukan dipeluk sama Papa mu." Kio menolak tegas.


"Papa ku baik, kemarin yang menyelamatkan Paman Tuan Muda adalah Papaku, sampai Papaku juga sakit."


"Besok kalau Zee besar, Kak Io juga harus menyelamatkan aku ya," pinta Zee.

__ADS_1


Berbeda dengan tadi, kali ini Kio mengangguk setuju.


"Kak, bosan. Disini cuma ada mainan robot sama mobil remote aja, nggak ada mainan boneka." keluh Zee yang merasa bosan disekelilingnya hanya ada hamparan mainan cowok. Tidak ada yang membuatnya tertarik untuk bermain.


"Bonekanya ada dikamar Adik bayi," kata Kio.


"Kak Io, sebentar lagi kita masuk sekolah. Kita sekolah bareng ya,"


"Iya," jawab Kio singkat. Dia yang malas bermain hanya menaik turunkan tangan mainan robot yang dipegang. Padahal biasanya bocah itu sering jahil mengerjai Zee, tapi kali ini tidak ada niatan sama sekali.


Zee pun merasa bosan bermain dengan Kio, didukung dengan mainan yang tidak ada yang disukai. Ia mendekati mamanya dan mengajak pulang.


"Kenapa pulang, Sayang? katanya mau menghibur Kak Io?" Kei menanyai Zee.


"Kak Io nggak mau mainan sama Zee. Kak Io nggak keren kayak biasanya." adu Zee.


"Io, ini ada Zee kenapa kamu cuekin sayang?" Kei menegur putranya.


"Io malas Mom, pengen tidur aja." jawab Kio.


Kei memahami keadaan Kio, tidak bisa memaksakan putranya yang tidak mau bermain karna masih bersedih merindukan ayahnya.


"Bi... Bik....!!" dengan suara keras Kei memanggil pelayan dirumah itu.


Pelayan yang dekat langsung menghampiri Kei.


"Iya Nona." pelayan itu menunduk.


"Tolong antar Kio ke kamar, katanya dia mau tidur." Kei tidak enak hati jika meninggalkan Dewi sendirian. Dia menyuruh pelayan untuk menghantarkan putranya ke kamar.


"Zee, Sayang. Maafin Kak Io, ya.. Kak Io nya masih sedih jadi belum bisa nemenin Zee bermain. Besok kalau Daddy nya Kak Io udah sembuh, pasti Kak Io nya nemenin Zee lagi." Kei mengelus pipi Zee yang terlihat murung.

__ADS_1


"Iya Tante, Zee nggak pa-pa." jawab Zee.


__ADS_2