Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Permintaan Izham.


__ADS_3

"Kei..." Kei menghentikan langkah, baru selesai berganti baju sudah dihadang didepan toilet.


"Ada apa lagi, mas?" bertanya biasa. Izham terlihat bingung, terlihat dari sorot mata yang tidak fokus disatu titik.


"A-apa kamu masih sendirian, Kei?" tiba-tiba Izham bertanya seperti itu, membuat Kei terkejut.


"Itu bukan urusan kamu, mas."


"Kita belum mengajukan surat di Pengadilan, kamu tidak bisa menikah." Kei terus menatap mata Izham, apa maksut lelaki itu berkata seperti itu.


"Lalu?" bertanya singkat.


"Aku-aku ingin kita seperti dulu."


"Apa...?" Kei melebarkan kedua bola mata benar-benar terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Izham, mantan suaminya dulu.


"Iya, aku ingin kita seperti dulu. Kamu pasti tau maksutku."


"Haha..." Kei tergelak, menutup mulut dengan tangannya.


"Mas, kamu lagi mimpi siang bolong?"


"Aku serius Kei."


"Kamu lupa sudah menjatuhkan talak tiga? kamu pasti tau apa itu talak tiga, yang artinya kita tidak bisa kembali sebelum aku menikah dengan lelaki lain." Kei berbicara dengan nada mengejek.


"Aku tau, Kei. A-aku akan carikan lelaki itu, setelah urusan selesai kalian bisa berpisah dan kamu kembali sama aku."


"Kamu juga lupa mas, aku ini wanita mandul." ketika mengatakan itu Kei menunduk sedih.


"Aku tidak lupa Kei, aku sangat ingat."


"Lalu?"


"Setelah anak yang dikandung Mira lahir, aku akan berpisah dan mengambil hak asuh. Kita bisa merawat anak itu bersama, kamu pasti bisa menyayanginya karena dia darah dagingku." Kei menggeleng pelan.

__ADS_1


"Maaf mas, aku tidak se-picik pikiranmu. Kau sudah membuangku, berati kau juga sudah tidak menginginkanku."


"Kei, aku khilaf. Sungguh malam itu aku khilaf Kei, aku tau kau pasti masih mencintaiku Kei. Aku tau itu." mendengar itu, Kei tersenyum merendahkan.


"Maaf mas, cintaku sudah pergi karna kamu sendiri yang mengusirnya malam itu." Kei ingin pergi, Izham mencegah dengan menarik tangan Kei.


"Kei..."


"Lepas mas, kita ditempat umum!" Kei menyentak tangan Izham tetapi tidak bisa, Izham begitu erat menggenggam.


"Tolong pikirkan lagi Kei, aku akan menunggu mu." Kei tidak menjawab, melihat wajah lelaki itu saja sudah muak. Pelan Izham merenggangkan tangannya, Kei berlalu masuk kedalam ruangan OB.


Didekat Kantor ada sebuah Taman, saat jam istirahat Kei izin untuk pergi ke Taman. Duduk sendiri disalah satu bangku Taman, merenung dan melamun. Merenungkan ucapan Izham, tidak terasa airmatanya berjatuhan.


'Ya Tuhan, kenapa hatiku selalu luluh jika berhadapan dengan mas Izham? hatiku satu tetapi mempunyai keraguan dengan dua lelaki. Ini salahmu mas, ini salahmu! rasanya aku ingin berteriak. Semua kebodohan mu, mas! kau yang membuangku, kenapa menginginkanku lagi? tidak bisakah membiarkan aku tenang, tidak menjadikan perasaanku ragu. Aku sudah mulai menikmati hari bersama tuan Ken, tetapi ketika mas Izham datang perasaanku seperti dilema. Tuan Ken tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya, menjadikan perasaan ku tidak menentu. Apakah dia mencintaimu atau tidak. Lalu aku harus bagaimana? Tuhan, tunjukkanlah kebaikan untuk takdir hidupku. Aku tidak ingin salah memilih jalan hidup, tunjukkan semuanya. Tuan Ken, setelah mengetahui sisi kelemahanku apakah masih bisa menerimaku? kenapa aku menjadi wanita lemah, kenapa menjadi wanita yang tak sempurna. hiks....'


"Ah,,, nasibku sungguh baik bisa bertemu denganmu disini."


"Huh..." Kei kaget saat tiba-tiba Tristan sudah duduk disampingnya, dengan cepat dia menghapus airmatanya.


"Hai..." dengan senyum lebar Tristan menyapa.


"Bagaimana anda bisa disini?"


"Ini tempat umum, tentu siapa saja bisa disini. Kau sendiri, kenapa disini?" balik bertanya.


"Kau habis menangis?" Tristan memperhatikan wajah Kei seperti usai menangis. Kei tidak menjawab, membuang muka dan mengusap-usap pipinya lagi.


"Hem...tidak. Hanya terkena debu saja, jadi mataku berair." memberi alasan palsu. Tentu Tristan tidak percaya begitu saja, tetapi dia juga tidak bisa memaksanya untuk menceritakan penyebab wanita itu menangis.


"Tuan, sepertinya jam istirahat sudah selesai, aku ingin kembali ke Kantor."


"Kita baru saja menyapa, lagi pula masih ada waktu 20menit lagi. Ayolah, aku ingin mengobrol sebentar denganmu."


'Tidak Kei, jika tuan Ken melihatmu dengan tuan Tristan entah semarah apa dia nanti. Dia akan lebih mengerikan dari yang kemarin, bisa habis kau ditangannya.' Kei teringat dengan ancaman tuan Ken agar tidak berdekatan dengan lelaki lain. Sedangkan saat ini posisi sedang di Taman, besar kemungkinan tuan Ken bisa melewati jalanan dan melihatmu disini berdua dengan taun Tristan. Ah,,, tidak-tidak! membayangkannya saja sudah menakutkan. Aku harus bisa pergi dari sini, tidak mau terjadi resiko buruk.'

__ADS_1


"Em,,, tuan, mohon maaf sekali saya harus segera kembali ke Kantor." Kei sudah beranjak ingin pergi.


"Hei... tunggu! bisakah kau memberiku nomor ponselmu? atau nomor wa, nomor sepatu atau nomor apapun itu! ayolah, kenapa kau pelit sekali."


"Aku tidak punya nomor apapun, tuan." Kei tersenyum. Sungguh senyuman itu sangat mempesona bagi Tristan, jantung lelaki itu semakin berdebar.


"Baiklah, kasih tau sosial mediamu. Facebook, Instragram, Line, Twitter atau apapun itu. Aku ingin lebih mengenalmu."


"Kita sudah saling mengenal, aku Kei dan anda tuan Tristan. Tidak bisa lebih dari ini."


"Kenapa? apa kamu bukan wanita single?" Kei mengangguk. Ah,,, baru saja hati Tristan berbunga-bunga, sekarang harus layu mendengar wanita yang menggetarkan hatinya itu ternyata sudah bersama orang lain. Melihat Tristan melamun, Kei beranjak dari duduknya.


"Tuan aku pergi dulu." setelah berpamitan, Kei mulai melangkahkan kakinya berjalan kembali ke Kantor. Ditaman itu berganti Tristan yang melamun, entah percaya atau tidak jika Kei sudah memiliki seorang pendamping. Lalu kenapa dia bekerja? kemana suaminya? atau Kei hanya berstatus pacaran masih belum terikat pernikahan. Jika begitu dia masih punya kesempatan.


Sampai dipelataran Kantor berbarengan tuan Ken baru turun dari mobil, keduanya saling bertemu pandang. Tetapi Kei lebih dulu memutusnya dan berlalu masuk kedalam. Ken menautkan alis merasa heran dengan Kei yang terlihat ketakutan.


"Lee, hubungi kepala OB suruh Kei menemui ku."


"Baik tuan muda." mereka berdua masuk ke Kantor dan langsung menuju ke Lift. Sampai diruangannya Ken melepas jas dan melonggarkan ikatan dasi. Duduk memejamkan mata, lelah karna baru kembali dari metting diluar Kantor.


Tok...tok...


"Masuk." dia sudah menebak itu pasti Kei, tanpa membuka mata masih nyaman memejamkan mata.


"Tuan."


"Kemarilah." Ken menepuk pahanya agar Kei duduk disana.


"Kei, aku lelah." jika sudah seperti itu, apa lagi jika tidak menurut.


"Badanku berat." mencari alasan, tetapi tetap melakukan. Duduk dipangkuan Ken, Ken langsung mengunci Kei dengan kedua tangannya.


"Dari mana kau?" Kei kebingungan harus menjawab apa.


"Darimana?" kembali bertanya.

__ADS_1


__ADS_2