Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tidak bisa mengingat


__ADS_3

Mami Lyra mendatangi kamar tamu, disana ada Kei dan kedua anaknya. Saat Ken pulang ke rumah, aura dingin terlihat menyelimuti wajahnya hingga membuat Kio takut untuk mendekat. Akhirnya Kei memutuskan untuk menempati kamar tamu untuk sementara waktu.


Kini bukan hanya Kei yang tidur terpisah, mami Lyra dan Herlambang juga harus terpisah ranjang karna belum menjelaskan pada Ken tentang hubungannya.


Mami Lyra dan Herlambang sepakat memberitahu ketika waktunya sudah tepat. Mereka tidak ingin terburu-buru takut membuat ingatan Ken semakin memburuk.


Kini Herlambang kembali menempati rumahnya yang lama. Sementara waktu terpisah dan tidak tahu sampai kapan.


"Mi, tolong jelaskan, bagaimana keadaan suamiku? apa ingatannya masih bisa kembali?" tanya Kei tidak sabaran.


Mami Lyra duduk disamping Kei, tapi bola matanya fokus melihat Kio dan Kyura yang sedang tidur pulas.


Puas memandangi cucu-cucunya kini beralih melihat Kei.


"Kei Sayang, Mami hanya bisa memberi semangat, kamu wanita kuat, hebat dan selalu sabar. Berkali-kali kamu berhasil melewati ujian rumah tangga dengan sabar dan ikhlas. Kali ini pun Mami yakin, kamu pasti kuat menghadapi ujian ini."


"Satu kata yang tak lelah Mami ucapkan untukmu, Sabar. Sabar ya Nak, yakinlah ujian ini akan berakhir."


"Do'akan Kei bisa melewati ujian ini, Mi. Do'akan juga untuk anak-anak, semoga mereka tidak membenci Daddy nya."


"Kemarin Dokter menjelaskan, Ken terkena amnesia retrograde yaitu sebagian memori ingatannya menghilang. Maka dari itu Ken lupa dengan pernikahannya denganmu dan sama sekali tidak mengingat anaknya. Bahkan yang Ken ingat adalah tujuh tahun silam, dimana dia mengalami kecelakaan bersama almarhum Olive dan calon anaknya."


Mata Kei sudah berkaca-kaca, ternyata Ken sama sekali tidak mengingat keluarga kecilnya yang bahagia.


"Saat Ken sadar dia menyebutmu wanita munafik, itu karna ingatannya kembali sewaktu awalan kamu datang kerumah ini dan saat itu Ken tidak menyukaimu."


"Ya Tuhan..." ucap Kei. Ingatannya pun kembali pada saat dulu Ken begitu membenci kehadirannya. Kini kejadian menyakitkan itu kembali dirasakan.


"Apa ingatan suamiku tidak bisa disembuhkan? apa selamanya dia tidak mengingat kami?" tanya Kei yang sudah terisak. Ia menunduk dalam-dalam untuk meredam suara agar kedua anaknya tidak terganggu suara tangisnya.


"Bisa..Ingatan Ken masih bisa kembali," jawab mami Lyra.


Mendengar itu Kei langsung mendongak, masih ada harapan untuk pemulihan ingatan suaminya.


"Benarkah?"


"Kata dokter Ken harus rutin minum vitamin dan juga menjaga pola makan. Selain itu Ken harus rajin terapi untuk mengembalikan ingatannya secara perlahan, karna Ken sendiri tidak bisa dipaksa untuk mengingat secara langsung karna hanya akan memperburuk daya ingatnya."


"Dari itu kamu harus sabar ya, dokter juga menerangkan ingatan Ken bisa kembali dalam jangka waktu panjang, enam sampai sembilan bulan." terang mami Lyra.


Kei langsung menutup mulut karna terkejut, ternyata ingatan Ken bisa kembali dalam jangka waktu lama. Isak tangisnya semakin pilu didengar.


"Selama itu Mi, Kei bisa sabar. Tapi bagaimana dengan anak-anak?! bagaimana Kei harus menjelaskan pada Kio?" Kei melihat ke arah dua anaknya. Begitu teriris jika membayangkan, entah bagaimana dengan mental Kio yang harus berjauhan dengan Daddy nya.




Sedangkan Ken saat kepulangannya tadi dan begitu membuka pintu kamar langsung terdiam dalam kebingungan. Kamarnya berbeda jauh dari ingatannya sebelum terjadi kecelakaan.



Didalam kamarnya ada dua ranjang kecil dengan gambar tokoh kartun. Membuat Ken kembali mengerutkan dahi, tidak mungkin dia memberi perintah untuk menaruh ranjang anak kecil didalam kamarnya. Bukankah itu mustahil?

__ADS_1



Meski kebingungan, Ken tetap masuk ke dalam kamarnya. Segala isi kamar semua berubah drastis, mulai dari cat dinding yang berganti dengan warna cerah.



Letak lemari dan sofa juga berpindah, dan lagi, diranjang bergambar tokoh kartun dipenuhi banyak boneka yang membuat Ken terheran-heran. Apa mungkin semua itu disiapkan untuk calon anaknya yang sudah lebih dulu pergi? pikiran Ken benar-benar terasa penuh dengan menerka-nerka kejadian sebelum terjadinya kecelakaan. Tapi semua nihil. Dia tidak ingat apapun.



Manik matanya beralih menyusuri tatanan rias, disana banyak peralatan make up untuk wanita. Lagi-lagi Ken mengerut. Perlahan dia dekati meja itu dan mengambil satu botol parfum khas wangi yang sering tercium dari aroma tubuh Kei.



Saat mencium aroma parfum itu ia mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dia memaksa otaknya untuk mengingat tapi semakin diingat kepalanya semakin berdenyut. Ken menaruh botol itu dan memegangi pelipisnya.



Setelah tidak begitu sakit Ken kembali melangkah menuju lemari untuk mengganti pakaian. Tapi disamping lemari baju miliknya sudah bertambah lemari baju lain, seperti lemari untuk wanita dan anak-anak.



Ken membuka lemari itu satu persatu. Sekelebat bayangan tidak jelas berseliweran di otaknya.


Mengabaikan rasa sakit di kepala, Ken segera mengganti baju.




Ken terdiam dibawah foto yang menggantung indah didinding atas ranjang nya.


Dalam foto itu dia tengah menggendong anak kecil yang kemarin dia usir sedangkan tangan sebelah kiri memeluk tubuh Kei, wanita yang dia sebut munafik. Ken semakin bingung.



Didalam foto lain banyak sekali adegan mesra bersama Kei. Ingatan Ken bermuculan tapi sama sekali tidak jelas. Ingin sekali Ken mengingat semuanya, apa benar yang dikatakan maminya kalau wanita munafik itu adalah istrinya, dan anak kecil itu adalah putranya. Ken memandangi wajah Kio yang ada difoto, mirip sekali dengan dirinya sewaktu kecil.



"Tidak.... Tidak mungkin aku menikahi wanita munafik itu!! Akh..." Ken memegangi kepalanya yang berdenyut. Sakit sekali.



"Bagaimana aku menikahi wanita itu, sedangkan aku sangat membencinya?!" Ken menyangkal. Dia masih kekeh tidak mau mengakui karna ingatan yang muncul tidak begitu jelas.



"Honey..."



"Sweety..." tiba-tiba Ken mengingat panggilan-panggilan sayang itu. Apakah panggilan itu untuk si wanita munafik?

__ADS_1



"*Daddy*..."



"*Daddy* Ken sangat tampan."



"Aku sayang *Dad*."



Belum mengerti dengan panggilan-panggilan tadi, Ken juga mengingat suara anak kecil yang memanggilnya *Daddy*.



"Tidak.....!!!!!!"



Braaak.....



Semua yang ada didepannya sudah bercecer dilantai. Ken menjatuhkan diri diatas ranjang dengan bibir yang merintih kesakitan dan memegangi kepalanya.



Pelayan yang datang membawa makanan dibuat terkejut dengan suara gaduh yang berasal dari kamar tuannya.



Segera turun kebawah untuk memberitahu hal itu pada mami Lyra.


Pelayan tahu keberadaan mami Lyra karna sewaktu diberpapasan melihat mami Lyra masuk ke kamar tamu.



Tok... tok...



Pelayan itu langsung membuka pintu setelah dipersilahkan. Napasnya tersengal karna menuruni anak tangga dengan setengah berlari.



"A..." baru mami Lyra akan bertanya, tapi sudah dipotong duluan.



"I i tu, Nyonya, Tuan Ken sedang mengamuk dikamarnya." ucap pelayan itu dengan gugup.

__ADS_1


__ADS_2