
"Lee.." Ken malas jika harus banyak bicara, memberi kode kepada sekretarisnya untuk memberitahu.
"Baik tuan muda."
"Tuan Tristan, sebaiknya kita langsung membahas tentang kerjasama."
"Oke lah, kalian memang tidak bisa diajak bercanda." Tristan membuka tas kerja miliknya dan mengambil berkas-berkas perjanjian keuntungan antar Perusahaan mereka berdua, menaruh didepan Ken untuk dibaca dan diteliti.
Tidak berapa lama, Kei masuk membawa nampan berisi tiga cangkir minuman dan juga kue.
"Maaf tuan." Kei duduk berjongkok dan menata semua didepan mereka, pandangan Tristan tidak beralih meneliti Kei.
"He'em..." Ken berdehem, untuk mengalihkan perhatian Tristan. Tuan muda itu tidak suka Tristan memperhatikan candunya.
Kei melirik Ken, dari raut wajah terlihat menahan kesal. Kei yang takut dengan cepat pergi dari ruangan yang begitu dingin menakutkan. Bernafas lega ketika bisa keluar dari sana.
"Hello, nona..."
"Huh... kau mengagetkanku." Kei mendekap nampan. Pria yang mengagetkan itu tertawa lebar merasa lucu.
"Maaf tuan, saya permisi."
"Jangan buru-buru nona, aku sengaja izin ketoilet hanya ingin menyusul mu."
"Ada perlu apa, anda menyusul saya."
"Bagaimana ya, terlalu to the poin." tidak ingin meladeni, Kei ingin berlalu tetapi tangannya dipegang oleh Tristan.
"Tuan..." Kei membalikkan badan, melihat tangannya yang dipegang.
"Aku belum selesai berbicara jangan buru-buru pergi."
"Untuk itu cepatlah anda katakan keinginan anda, saya hanya pekerja punya perhitungan waktu." Kei terlihat kesal.
__ADS_1
"Baiklah, aku ingin meminta nomor telpon." Kei langsung mendongak, terkejut.
"Aku tidak punya." ketika melangkahkan kaki kembali Tristan menarik tangan Kei sampai hampir terjatuh, dengan sigap Tristan menahan tubuh Kei. Pandangan saling bertemu, bertepatan tuan arogan keluar dari ruangannya. Pemandangan mengejutkan sudah tersuguh didepan mata tidak perlu lama amarahnya sudah terbangun.
"Hei... lepaskan.!!" Ken mencengkram kuat jas yang digunakan Tristan. Tristan dan Kei kaget dengan kedatangan Ken, Kei menjauh.
"How... santai kawan. Ada apa ini?" Tristan terlihat santai, menyembunyikan ketakutannya.
"Jangan membuat macam-macam di Perusahaanku!" merah padam menahan amarah. Tuan Ken yang posesif sangat marah jika miliknya disentuh oleh lelaki lain.
"Tuan muda," Lee berusaha membantu melepas cengkraman Ken yang begitu kuat, tidak bisa.
"Ken-Ken, kenapa kau begitu marah. Aku tidak bermacam-macam denganmu, aku hanya berbicara dengan staf OB diPerusahaanmu harusnya kau tidak perlu marah seperti ini." Tristan melepas tangan Ken dengan sedikit kasar. Staf sekretaris yang ada diruangan sama menyaksikan perdebatan dua lelaki tampan yang begitu pengaruh besar dengan kekuasaannya.
"Itu menganggu kenyamanan, kau berpelukan didepan ruanganku." Ken menekankan kata berpelukan untuk menyindir Kei, Kei meremas jemari tangan benar-benar takut dengan sikap tuan Ken yang terlihat marah.
"Heh.. andai aku bisa melakukan apa yang kau katakan barusan, aku pasti sangat senang."
"Tristan...!" Suara Ken menggelegar.
"Pergilah..." Ken melirik Kei sinis. Mengeraskan suara untuk menyuruh Kei pergi, Kei pelan melangkah jantung masih berdetak kencang melihat kemarahan tuan Ken tadi. Penasaran dengan apa yang terjadi, tidak terlalu jauh Kei berbalik melihat kearah mereka.
"Pergi...!" Ken mengeraskan perkataanya. Kei yang ketakutan langsung berjalan lagi tidak ingin menengok kebelakang.
'Mati kau Kei, tuan Ken terlihat sangat marah. Apa yang harus aku jelaskan nanti, ini pasti sangat sulit.' Kei mengatur nafas, agar perasaan takut dan cemas itu hilang. Tetapi tetap saja masih kepikiran tentang tuan Ken.
"Baiklah, sebaiknya aku pergi." Tristan masuk kembali ke ruangan Ken untuk mengambil tas kerjanya. Ken mendesah berat rasanya ingin mencegah lelaki sial*n itu pergi, jika dia pergi sekarang akan bertemu Kei dibawah.
"Untung saja kerjasama yang menguntungkan, jika tidak! aku sudah menghancurkan Perusahaanmu." sudut bibir Tristan tertarik.
"Harusnya ancaman itu keluar dari mulutku, peng*c*t sepertimu tidak pantas mengancamku." Ken benar-benar sangat kesal, amarah besar masih menyelimuti. Tristan melangkahkan kakinya menjauh dari Ken. Sekretaris yang lain dan beberapa staf yang ada di lorong yang sama begitu terkejut melihat sedikit perdebatan itu, Lee membubarkan semuanya agar kembali bekerja. Dia sendiri sangat takut, tuan Ken dikelilingi kabut hitam yang sangat tebal. Gigi bergemeletuk menahan amarah, Ken kembali masuk keruanganya. Menendang sofa hingga terjatuh dilantai.
"Haaaaah..." Ken meluapkan kekesalan. Lee berdiri didepan pintu, jika mendekat dia akan terkena imbas. Dibiarkan tuan mudanya melampiaskannya sesuka hati, jika tenang akan berhenti. Tidak banyak yang bisa dia lakukan.
__ADS_1
"Lee, bagaimana bisa berpelukan didepan ruanganku!! mereka berpelukan, Lee!! Ken menekankan kata berpelukan lagi.
"Maaf tuan muda, tetapi tuan Tristan tadi menyangkalnya."
"Apa mulut pec*nd*ng itu bisa dipercaya?" Ken memejamkan mata.
"Bisa tuan muda, mengingat nona Kei pasti tidak mengenal tuan Tristan. Mungkin hanya kebetulan saja mereka tadi seperti itu." Lee ketakutan saat melihat amarah tuan Ken masih belum reda.
"Ambil rekaman cctv!" memberi perintah dengan nada dingin.
"Baik." Lee segera berlalu menjalankan perintah.
"Kenapa kau selalu mengusik milikku Tristan!"
Lee sudah kembali membawa flashdisk dan mengambil laptop dimeja tuan Ken, duduk dan menyalakannya. Setelah diputar, Ken dengan teliti melihat dan mendengar percakapan Tristan dengan Kei tadi.
"Kurang ajar, Tristan ingin bermain dengan ku. Awas saja jika berani mendekati dan berbuat lebih jauh dari ini." Ken menggenggam telapak tangan.
"Ah, singkirkan itu Lee! ck... hariku benar-benar buruk." Lee segera memindahkan laptop kembali kemeja.
Ketika jam pulang kerja telah usai, seperti biasa Kei berjalan dipinggiran menunggu mobil tuan Ken menghampirinya. Masih teringat kemarahan tuan Ken yang mengerikan, Kei berharap-harap cemas. Menghembuskan nafas berkali-kali.
Tepat, mobil sudah berhenti Kei langsung membuka pintu dan masuk. Tuan memejamkan mata tanpa membukanya, Kei merasa takut bergeser duduk dipinggiran pintu.
"Kenapa tidak pindah duduk didepan saja jika tidak ingin duduk disampingku!" nada dingin. Kei bergeser ketengah. Ken tidak membuka mata, atau melihatnya. Kei bingung harus mengatakan apa, atau menjelaskan kejadian tadi dia takut amarah tuan Ken akan kembali. Memutuskan untuk diam, dijalan begitu sepi tanpa ada yang berani bersuara. Ingin menghirup udara saja rasanya sulit.
Sampai didepan gerbang pun Ken tidak bersuara, ketika sampai didepan rumah Lee membuka pintu, Ken berlalu dengan langkah lebar.
"Sekretaris Lee, apa tuan Ken benar-benar marah?"
"Anda bisa melihatnya, nona."
"Aku takut, lalu harus bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak ada cara lain, anda harus diam dan menurut semua yang dikatakan tuan Ken. Meminta maaflah dengan benar nona."
"Kau semakin menakuti ku, sekretaris Lee." Lee hanya mengangkat bahu.