
Tok...tok...
"Istri... Suami pulang...!" Lee berteriak memanggil istrinya, sedari tadi menekan bel rumah masih belum mendapatkan pintu dibuka. Dia mengetuk pintu dan berteriak memanggil Dewi. Tidak tau jika Dewi tertidur diruang tamu. Kini tidur indahnya terganggu dengan suara bising suaminya, Dewi segera bangun dan membukakan pintu.
"Suami sudah pulang? Hoam...." Dewi menguap, menutup mulut itu dengan telapak tangannya. "Kau sudah tidur? maafin aku pulang terlalu malam." Lee merasa bersalah dirinya pulang lebih malam dari malam-malam biasanya. Dia harus berkeliling mencari siomay itu.
"Iya tidak pa-pa, suami pulang malam juga 'kan karna bekerja, aku tidak akan marah. O...ya, mana siomay pesananku?" tangan Dewi terulur kedepan, Lee segera memberikan kantong kresek berwarna putih transparan berisi siomay didepan Dewi.
Dewi menyahut plastik itu dan membawanya kedapur, ia akan memindahkannya dipiring. Saat siomay itu tertuang kedalam piring kecil kening Dewi mengernyit, merasakan keanehan. Dia mengendus siomay itu, sedetik kemudian dia cemberut kesal. Berjalan menghampiri Lee yang tengah duduk dimeja makan, sedang menenggak air putih.
"Katakan!" tiba-tiba Dewi berkata dengan nada yang tidak mengenakan membuat Lee menoleh kearahnya. "Katakan apa?" Lee tidak mengerti.
"Ini bukan siomay yang mangkal didekat kantor 'kan?" Dewi menunjukan kekesalannya. Lee setengah terkejut, bagaimana Dewi bisa tau jika siomay itu bukan dibeli ditempat dekat kantor?
Lee menggaruk kepala bagian belakang, ia harus menjawab apa? melihat kekesalan diwajah Dewi membuatnya takut.
"Ma-maaf..." suara Lee terbata. "Jadi benar ini bukan siomay pesananku? Hua... kau calon papa yang jahat, tidak mau mengabulkan keinginan anakmu sendiri. Huhu..." Dewi menangis seperti anak kecil, siomay itu tidak sesuai keinginannya. Dia sangat kesal dengan suaminya.
"Istri-istri, cup... tenanglah jangan menangis seperti itu, aku bisa jelasin. Kau tau 'kan aku pulang malam, setelah sampai ditempat penjual siomay yang kau inginkan ternyata sudah tutup. Jadi aku terpaksa beli ditempat lain, aku pikir semua rasa siomay itu sama saja." Lee menenangkan Dewi, dia berbicara jujur.
"Memang jam berapa suami beli siomaynya?" Dewi bertanya, dia menghentikan suara tangisnya. "Jam setengah delapan malam." jawab Lee.
__ADS_1
"Pantas saja sudah tutup, siomay didekat kantor itu tutupnya jam enam." Dewi mendengus sebal. "Maaf istri, suamimu ini tidak tau jika tutupnya jam enam." lagi-lagi Lee meminta maaf, ia telah mengecewakan istrinya.
"Hua....aku ingin siomay itu!" Dewi tetap merengek, ia sangat menginginkan jajanan siomay langganannya dulu sewaktu masih bekerja dikantor Taisei Company.
"Ini juga siomay, bukankah sama saja?" Lee kebingungan. "Ini memang siomay, tapi rasanya beda. Aku ingin siomay yang itu. Titik."
Raut wajah Lee terlihat lesu, bagaimana dia akan mendapatkan siomay seperti keinginan Dewi. Padahal penjual siomay itu sudah tutup, dan lagi jam didinding sudah menunjukan pukul sembilan lebih. "Istri, bagaimana kalau ingin makan siomaynya dipending dulu? aku janji besok pasti beli ditempat yang kau inginkan?" Lee mencoba bernegosiasi.
"Tidak mau, aku inginnya sekarang." gagal, negosiasi itu tidak berhasil Dewi masih menginginkan siomay itu sekarang. "Lalu bagaimana, 'kan sudah tutup." Lee mengatakan dengan lemas.
"Eum, aku punya nomornya Akang Asep." Dewi sumringah, dia mengacungkan jari telunjuknya kedepan. "Akang Asep, siapa?" Lee menelisik wajah istrinya, Dewi menyebut nama pria lain. Dia tidak menyukai itu.
"Huh... Akang Asep itu penjual siomay didekat kantor." jawabnya. "Kenapa kau bisa menyimpan nomornya? apa kau dulu dekat dengan Akang-Akang Asep itu!" berganti Lee yang menunjukan tatapan tidak suka.
"Cuma langganan pembeli kenapa harus tukar nomor segala. Pasti modus, mana ponselnya biar aku hapus nomor itu." saat ini Lee sedang cemburu dengan pria bernama Akang Asep penjual siomay.
"Tapi ada gunanya juga 'kan aku nyimpen nomor kang Asep, saat ini kita bisa menelponnya." kata Dewi. Lee nampak berpikir, menghembuskan nafas. Memang benar juga yang dikatakan istrinya.
"Baiklah, untuk saat ini aku biarkan kau menyimpan nomor Akang Asep itu, tapi setelah urusan beres kau harus menghapusnya." Lee sedikit mengancam, dia benar-benar tidak suka.
"Terserah kau saja." jawab Dewi ketus. Mana bisa suaminya itu cemburu dengan penjual siomay, bukankah sangat jauh.
__ADS_1
Tidak lagi berdebat, Dewi mengambil ponsel dan mencari-cari nomor akang Asep. Setelah ketemu dia langsung tersenyum, membuat sekretaris Lee semakin dibakar api cemburu.
Dewi berbincang-bincang dengan akang Asep itu, ingin meminta tolong agar akang Asep mau membuatkan siomay untuknya. Tapi Dewi harus menahan kekesalan, ternyata kang Asep menolak. Dia sudah terlalu lelah jika harus membuat siomay lagi.
Dewi terlihat bersedih, wajahnya yang sempat tersenyum itu kembali ditekuk. Lee tidak tega melihat Dewi tidak bisa mendapatkan makanan yang diinginkan, dia yang harusnya menjadi ayah yang siap siaga.
Dewi sudah mengakhiri pembicaraannya dengan kang Asep. Wajahnya sama seperti tadi, murung. "Istri, bagaimana jika aku saja yang akan membuatkan siomay itu untukmu?" Lee menawari jasa untuk membuat siomay, padahal ia tidak pernah membuat makan aneh itu. Mencicipinya saja tidak pernah, tapi demi calon anaknya apapun akan dia lakukan.
"Benarkah? iya aku mau... mau..." Dewi tersenyum senang. Ternyata suaminya mau membuatkan untuknya. "Tapi kalau rasanya tidak enak dan tidak sama dengan siomay yang kau inginkan, bagaimana?" tanya Lee.
"Nggak pa-pa kita coba dulu. Aku ingin merasakan siomay buatan suamiku." jawab Dewi.
"Tapi aku juga tidak tau cara buatnya?" Lee menggaruk pelipis. "Cari resep digoogle." Dewi memberi ide.
"Oke..." Lee segera menuju kedapur, tidak lupa mencari resep siomay yang seperti keinginan Dewi. Dia sendiri ragu, apa ia bisa membuat siomay seperti akang Asep. Lee bertekad akan berusaha membuat makanan itu.
Dia mulai menyiapkan bumbu dan bahan, Dewi menunjukan bahan apa saja yang disebutkan diponsel itu. Kini dengan tangan yang kaku, Lee mulai membuat adonan siomay. Dewi mengamati suaminya yang sedang berusaha.
Sebentar-sebentar Lee melihat kelayar ponsel dan mempraktekan cara pembuatan siomay itu seperti diYoutebe.
Dengan hasil jerih payah yang sangat lumayan menguras energi dan waktu kini siomay itu sudah mulai pada tahap pengukusan. Mereka tinggal menunggu siomay itu matang. Untuk sambal kacangnya akan diganti dengan saus sambal. Karna semenjak hamil Dewi tidak menyukai kacang-kacangan.
__ADS_1
Mereka berdua mengusir kejenuhan dengan bercerita dan bercanda, tak lama panci pengukusan itu berbunyi menandakan bahwa siomaynya sudah matang. Lee mencegah Dewi yang akan mengambil siomay diatas panci panas. Dia akan mengambilkan dan menghidangkan didepan istrinya.