Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Suatu saat nanti kembali saja dengannya.


__ADS_3

Naya mencoba tersenyum saat menyambut kedatangan Akio. Meraih tangan kanan dan menciumnya.


"Ternyata kerja di kantor lumayan menyita waktu dan pikiran," ujar Akio mengembus napas panjang. Wajahnya nampak lelah, tetapi tak lupa membalas senyum Naya.


Saat meneliti wajah Naya, Akio menemukan perbedaan. "Mukamu sembab? Kamu habis nangis?"


"Eh, enggak. Masa sih sembab? Mungkin hari ini kebanyakan tidur, jadi aneh mukanya," bohong Naya.


Akio menyipit, tidak sepenuhnya mempercayai ucapan istrinya itu. Tapi dia juga tidak punya alasan untuk menerka apa yang membuat Naya menangis. Atau, mungkin istrinya itu sedang rindu dengan ibunya.


"Kamu sudah siap-siap belum? Aku mau ajak kamu keluar?"


"Aku udah mandi, tapi aku nggak suka berdandan."


"Nggak pa-pa, gitu aja sudah lumayan," ujar Akio dengan senyum simpul.


"Lumayan?! Jujur aja kalau aku jelek," sungut Naya.


Akio justru tertawa. "Enggak. Bukan begitu."


"Kamu mandi aja, biar aku dandan." Naya berjalan menuju meja rias. Tak ada percakapan lagi, Akio berlalu ke kamar mandi.


Melihat Akio hilang dibalik pintu, Naya mengelus dada. Sudut matanya kembali memanas. "Jaga hati, Nay! Jaga," ucapnya lirih.


*


Selama perjalanan, Naya tak membuka mulut sama sekali. Akio juga larut dalam lamunannya. Hampir satu bulan sama sekali tidak tahu kabar Zee. Diam-diam perasaanya merasakan sesuatu yang berbeda.


Sikap Naya dengan Zee berbanding jauh. Bila Naya jarang bicara, Zee justru banyak bicara. Bila Naya acuh tak acuh, Zee sangat perhatian.


Bila Naya lebih suka diam tanpa mengatakan apa yang dirasa, Zee justru selalu merecokinya dengan curhatan.

__ADS_1


Sikap kedua perempuan itu benar-benar sangat berbeda.


Selama satu bulan, Akio tak melewatkan untuk mengecek nomor Zee. Siapa tahu nomornya yang di backlist sudah dibuka kembali, tapi sampai beberapa menit tadi masih tetap sama.


Bukan karena sebuah rasa, hanya saja dia merasa kehilangan sosok sahabat, adik, juga partner bertengkar. Hatinya diselubungi rasa bersalah, membuatnya tak tenang memikirkan kelanjutan hidup Zee. Apalagi dia minim info dari Zee. Paman Lee juga tidak mengatakan apapun, bahkan menyuruhnya melanjutkan hidup tanpa bertanya lagi tentang Zee.


Naya melirik dengan ujung matanya, Akio fokus menyetir seolah di kursi samping tak ada orang. Dia memilin-milin tali baju, hatinya menertawai pernikahannya. Bahkan dia bingung, tak tahu harus memanggil suaminya dengan sebutan apa.


"Aku pernah dengar cerita kamu dan Zee sudah di jodohkan dari lahir, ya?" Entah mendapat kekuatan dari mana, tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Naya. Bingung memanggil, dia memilih menggunakan aku-kamu.


"Kenapa tanya itu?"


"Nggak pa-pa, aku cuma pengen denger cerita itu langsung dari kamu."


"Tanya hal yang lain aja." Akio sungkan untuk bercerita tentang Zee, meski dia tak tahu perasaan Naya terhadapnya, namun entah mengapa dia ingin menjaga perasaan Naya. Biarkan dia dan Zee menjadi masa lalu, yang sekarang, itulah yang harus dijalani.


"Aku mau dengar cerita itu."


Akio menghela napas panjang, akhirnya dia bercerita tentang Zee dan keluarganya yang begitu dekat hingga menginginkan hubungan semakin erat dengan menjodohkannya bersama Zee.


Andai saja cerita Akio bersama Zee tak pernah ada, mungkin saat ini Khanayya Rumi Sahila menjadi perempuan paling beruntung karena bisa menjadi istri sah seorang Akio Ryuga Kenichi. Namun, semua itu menjadi berbeda cerita karena Naya hadir di saat tidak tepat. Kehadirannya tidak diinginkan siapapun, termasuk Akio sendiri. Miris sekali. Naya menganggap semuanya benar-benar sebagai kesalahan.


Akio terus bercerita tentang kedekatannya bersama Zee, membuat Naya membenarkan kata-kata Kyu. Kenapa? Kenapa dia melakukan kekhilafan dan harus hadir di antara mereka.


"Kamu yang maksa aku bercerita. Kan kamu jadi bengong begini," ujar Akio memecah lamunan Naya.


Naya berusaha tersenyum. "Nggak pa-pa, aku jadi tahu cerita kamu bersama Zee."


'Dengan ceritamu juga beban bersalahku semakin besar. Akio, aku janji, aku akan mengembalikanmu dengan Zee,' batin Naya dengan menekuni wajah Akio.


"Sebentar lagi sampai. Aku ingin membelikan kebutuhanmu," ucap Akio. Dari radius beberapa meter sudah terlihat bangunan megah sebuah pusat pembelanjaan.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Pakaian, perhiasan, kosmetik dan apapun kebutuhanmu," jelas Akio.


Naya mengernyit. "Itu nggak perlu. Sudah, kita cari makan aja. Aku lapar."


"Bagaimana nggak perlu? Semua itu kebutuhanmu. Biasanya wanita suka berbelanja. Maaf, aku tadi melihat pakaianmu cuma itu saja, jadi aku pengen ajak kamu berbelanja pakaian dan lainnya."


"Kalau pakaianku cuma sedikit dan itu-itu saja memang kenapa? Kamu malu?"


"Bukan begitu maksudku, Nay. Aku suamimu, bukankah itu salah satu kewajibanku memenuhi kebutuhanmu."


Tak ingin berlanjut, Naya memilih mengalah ketika Akio mengajaknya turun. Begitu berada di depan pintu mall, Akio menyodorkan tangan di depan Naya, memberi kode agar Naya menggandeng tangannya.


"Aku takut kita kepisah."


Naya tersenyum simpul. Baginya itu konyol. "Emang aku anak kecil, kalau kepisah nggak bisa cari kamu. Lagian, ada hp, aku bisa telpon kan?" Naya masih menampilkan senyum samar.


Akio menarik tangan dan menggaruk bagian kepala belakang. Dia menyengir. "Iya juga," sahutnya.


'Ini di tempat umum, aku nggak mau ada orang yang kenal kita dan tahu kalau kita jalan bareng,' batin Naya.


Akio membawa dari satu butik ke butik lainnya, bukan itu saja, semua perlengkapan sendal, sepatu, tas dan aksesoris juga disinggahi. Sesudah itu Akio juga membelikan Naya ponsel baru dengan merk keluaran terbaru. Meski Naya menolak, Akio memaksanya. Bukan Naya saja, dia pun membelikan juga untuk ibu Naya.


Terakhir Akio menggeret Naya ke toko perhiasan. Namun, di sini Naya mati-matian menolak, dia benar-benar tidak mau. Baginya, apa yang dibelikan Akio sudah sangat cukup.


Akhirnya mereka memutuskan pulang. Tapi di tengah perjalanan Naya mendadak menghentikan Akio, dia menginginkan seporsi ayam bledek dengan sambal pedas nampol. Melihat baner makanan, berhasil membuatnya tergiur.


Di tenda sederhana, wajah Naya justru terlihat berbinar. Mungkin karena kali ini adalah keinginannya. Sambil menunggu pesanan yang sedang dibuat oleh pedagangnya, mereka kembali berbincang.


"Sesudah anak ini lahir, apakah kamu sudah memikirkan tindakan selanjutnya?" tanya Naya serius.

__ADS_1


"Apa kita terus begini sedangkan kita tak punya perasaan apapun, nanti kembali saja dengan Zee," celetuk Naya berhasil mengejutkan Akio.


"Pernikahan kita baru beberapa hari dan kamu berbicara seperti ini. Aku dan Zee sudah menjadi cerita. Lagian ... Zee juga sudah tidak akan mau denganku."


__ADS_2