
Beberapa hari istirahat total di Rumah Sakit, saat ini Ken dan Kei sudah diizinkan pulang. Mereka sedang berada diperjalanan, mobil mereka sudah seperti iringan mobil pejabat dibelakang mobil tuan Ken ada 3 mobil pengawal yang menjaga.
Kei hanya diam saja tidak berbicara apapun, Kei sibuk dengan pemikirannya. 'Aku sudah sembuh, apa tuan Ken akan menceraikan ku dan mengusirku seperti yang dia katakan diRumah Sakit? kenapa hatiku berat, harusnya aku bisa rela karna ini juga keputusanku.' Kei memandang kearah jendela, melamun dan sibuk dengan pemikirannya.
Sedari tadi Ken mendiamkan Kei, ia bersikap acuh tanpa memperdulikan Kei seperti biasanya. Kei merasa aneh dengan sikap tuan Ken.
"Kau ingat dengan perkataanmu?" Ken mengawali dengan pertanyaan. "Ingat tentang apa, tuan?" Kei yang tidak mengerti berganti bertanya.
"Kei, maafkan aku. Aku sudah memutuskan untuk memiliki keturunan." Ken terlihat serius.
Deg... Mendengar itu Kei langsung menoleh dan menatap kearah tuan Ken. Jantungnya seperti terhenti, matanya sudah berkaca-kaca.
"Kau tau maksutku?" Ken juga menatap kearah Kei yang sudah meneteskan airmata, sebenarnya tidak tega harus mengatakan itu dan membuat Kei menangis. 'Baru saja aku memikirkan itu tetapi sedetik kemudian tuan Ken mengatakan itu! apa yang kau harapkan dengan pernikahan ini Kei, tuan Ken tidak pernah menyatakan cintanya untukmu itu berarti tuan Ken tidak menginginkanmu. Lalu kebersamaan yang sudah dilalui hanya sebuah nafsu saja.' Kei menahan suara tangisnya, meski dia tau ini akan terjadi tetapi ketika mengalami tetap terasa sakit.
"Jika itu keputusan tuan, baiklah aku terima. Kalau begitu katakan sekarang saja tuan, dan aku akan pergi sekarang juga. Turunkan aku dijalan karna aku tidak akan ikut tuan pulang kerumah itu lagi." Kei memejamkan mata, menahan sakit yang teramat. Ternyata sesakit ini jika benar-benar berpisah dengan tuan Ken.
"Aku tidak akan mengatakannya, tetapi nanti akan ada surat dari pengadilan." dalam hati Ken sangat tidak tega melakukan itu, tetapi dia sendiri sudah berniat.
"Setelah ini semoga tuan mendapatkan istri yang sempurna, istri yang bisa memberikan kebahagiaan yang utuh. Maafkan aku jika tidak bisa memberi tuan kebahagiaan. Aku ucapkan terima kasih untuk kebaikan tuan, semoga Tuhan selalu melindungi anda." Kei menghapus airmata yang turun begitu deras.
Ken tidak memberi respon apapun, sikap dingin dan arogannya sudah kembali.
__ADS_1
"Sekretaris Lee, tolong hentikan mobilnya."
"Kau tidak ingin pulang kerumah setidaknya berpamitan kepada mami?" Ken bertanya. Kei diam sejenak memikirkan itu, jika dia berpamitan kepada mami Lyra maka akan semakin berat untuk meninggalkan semuanya.
"Tidak tuan, sampaikan permohonan maaf dan rasa terima kasihku kepada mami." semakin sedih rasanya ia ingin berteriak dan menyesali semuanya, membuka pintu mobil dan ingin segera keluar.
"Kei..." Ken mencegah. Kei melihat kearah tuan Ken. "Kau tidak ingin memberi perpisahan terindah dengan memberiku ciuman." Ken mengatakan dengan senyuman. 'Kau tersenyum, apa kau begitu bahagia berpisah denganku tuan. Lagi-lagi aku yang harus tersakiti.'
"Sepertinya tidak tuan, aku ingin turun sekarang." tetapi Ken mencegah lagi dan menarik Kei kedalam pelukannya, memeluk dengan erat. Kei semakin terisak, dia juga membalas pelukan tuan Ken dengan erat. 'Sungguh, aku begitu berat berpisah dengan mu tuan. Kenapa hanya aku yang mencintaimu? kenapa tuan tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Tuhan, jalan takdir yang kedua ini begitu menyakitkan. Kenapa aku selalu mengalami hal seperti ini? jika aku wanita sempurna mungkin aku bisa mempertahankan rumah tanggaku.' Ken merenggangkan pelukannya dan berganti mencium bibir Kei, menikmati candu yang sudah beberapa lama tidak ia nikmati. Setelah inipun tidak tau apa yang akan terjadi.
Lee duduk bagaikan patung, memutar kaca spion kearah kiri agar matanya tidak ternoda dengan pemandangan dibelakangnya. Dia menyunggingkan senyum kala mengingat ciuman pertamanya bersama Dewi, dia merindukan perempuan itu sudah beberapa hari tidak bertemu karna kesibukannya mengurus tuan Ken di Rumah sakit.
"Kei, maafkan aku." Ken kembali meminta maaf. "Tidak apa-apa tuan, mungkin takdir jodoh kita hanya sampai disini." Ken hanya bisa membatin untuk menjawab perkataan dari Kei. "Setelah ini semoga kau baik-baik saja." ucap Ken mengelus rambut Kei. Kei hanya mengangguk. Setelah itu Kei benar-benar turun dari mobil tuan Ken, dan tanpa perasaan mobil tuan Ken melanjutkan perjalanan.
"Lee..." Ken mendesah berat. "Tidak apa-apa tuan, itu sudah niat anda." Lee menjawab, tangannya sibuk mengetik sesuatu diposelnya.
"Aku sudah berniat Lee, tetapi aku membuatnya menangis seperti itu. Ck.." Ken mengusap wajah kasar dan terakhir berdecak kesal.
"Tuan muda bersiap-siap saja."
"Huh, aku sudah bersiap Lee tetapi...Hah,,, sudahlah... kau tidak akan mengerti." Ken memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah mobil tuan Ken pergi, Kei berjongkok dipinggir jalan menumpahkan tangis yang dia tahan sedari tadi, yang dia takutkan dan dia pikirkan tadi menjadi kenyataan.
"Aaa'...hiks..." Kei menahan suara, memegangi dadanya yang terasa sesak. 'Kau memang tidak bisa ditebak tuan, kemarin kau masih begitu baik tetapi hari ini kau begitu mengejutkan.' Kei sudah berjalan gontai menyusuri jalan.
"Ya Tuhan, rasanya ini seperti mimpi buruk. Semua terjadi begitu cepat, secepat ini hubunganku dengan tuan Ken harus berakhir. Aku sudah berjanji kepada-Mu Tuhan, jika pernikahanku yang kedua ini gagal aku tidak akan menikah dan mencintai seorang laki-laki lagi. Aku memohon kepada-Mu, berikan aku kekuatan agar bisa jauh dari tuan Ken." Kei berbicara sendiri, sesekali menyeka airmata yang masih menetes. Kei tidak menyadari jika Dewi sudah menghentikan motornya dibahu jalan.
"Kei..." Dewi memanggil Kei yang terus berjalan tanpa menoleh kekanan dan kekiri.
"Mbak Dewi?" Kei baru menyadari kehadiran Dewi dan dengan cepat memeluknya, kembali tangisnya pecah.
"Hei... ada apa lagi? kenapa kau berada dijalanan? dimana tuan Ken? bukankah harusnya kau bersama tuan Ken?" Kei mereda-kan tangisnya dan menceritakan semuanya kepada Dewi, Dewi mendengarkan dengan seksama.
"Ssttt... sudah jangan menangis lagi, kamu wanita hebat Kei, kamu pasti bisa melewati ini semua. Kau masih punya aku, aku akan selalu memberi suport dan akan selalu mendukungmu. Heum..." Dewi menenangkan Kei.
"Kau mau kemana?" Dewi bertanya, Kei hanya menggeleng pertanda dia sendiri belum tau ingin pergi kemana. Belum siap jika harus pulang ke Desa, tubuhnya masih terlalu lemas.
"Ayo ikut aku saja."
"Tapi mbak, aku akan merepotkan mbak lagi." Kei ingin menolak.
"Kei, dalam pertemanan tidak ada yang namanya merepotkan kita saling membantu disaat membutuhkan. Sudah ayo ikut, daripada kamu dijalanan seperti ini."
__ADS_1