
Kei dan tuan Ken sudah sampai didepan rumah sederhana berukuran 9x9meter, bangunan yang sudah terlihat usang karna belum direnovasi tapi membuat Kei begitu mengingat bangunan itu. Bangunan yang menyimpan kenangan indah semasa kecil hingga dirinya besar, terakhir kali keluar dari rumah itu saat dirinya akan pergi ke Ibu Kota. Kei memandang setiap sudut, bahkan warna cat yang memudar itu belum diganti oleh pakde, rumah itu benar-benar masih sama seperti terakhir kali Kei lihat. Kei mengajak tuan Ken untuk mendekat, baru saja tangan Kei akan mengetuk pintu tapi pintu itu sudah terbuka.
"Ayo masuk, Kei." pakde Bejo-lah yang membuka pintu. Setelah dipersilahkan masuk, Kei mengajak tuan Ken untuk masuk. Di desa sudah menjadi kebiasaan setiap tamu yang berkunjung akan melepas alas kaki, tapi tuan Ken tidak pernah melakukan itu, dia tidak mau melepas sepatunya. Kei merasa tidak enak, tapi apa boleh buat tuan arogan itu tidak bisa dicegah.
Diruang tamu itu hanya ada kursi yang terbuat dari bambu, bagi Kei itu memang wajar didesa memang untuk kalangan biasa kursi bambu itu sudah pantas untuk duduk. Tapi seumur tuan Ken belum pernah duduk dikursi seperti itu, hingga membuatnya aneh dan kesal.
Tidak berapa lama, bude Parmi terlihat keluar dan duduk disamping suaminya.
"Nduk, kok kamu lama nggak ada kabar? kamu juga nggak pernah pulang?" tanya pakde Bejo.
"Iya pakde, Kei tadinya bekerja di Jakarta, makanya lama nggak pulang." jawab kei.
"Nasibmu sekarang sudah baik ya, nduk?"
"Ya, Alhamdulillah pakde, nasib Kei seperti ini."
"Kamu tau nduk, Bu Esih sudah pindah rumah." pakde Bejo memberitahu, mendengar itu aku tersentak. Ibu Esih, mantan ibu mertuaku, orang yang dulu membenci ketidak sempurnaanku. Orang pertama yang tidak merestui pernikahanku dengan anaknya. Perlakuan dan caci maki yang masih sangat aku ingat, orang pertama yang meng-klaim aku mandul. Aku masih larut dengan pemikiranku.
"Memang pindah kemana, pakde?" tanyaku, aku memang tidak tau lagi kabar mantan mertuaku itu. Bahkan, aku juga tidak tau kabar mas Izham bagaimana keadaannya dan berada dimana, aku sangat lama tidak melihatnya. Aku tidak berani bertanya kepada tuan Ken, aku takut dia akan salah paham.
"Pindah dipojok rumah nduk, bekas rumahnya Mbah Win."
__ADS_1
"Mbah Win?" Kei mengulang, tentu terkejut. Dia tau bahwa rumah bekas milik Mbah Win itu kecil dan juga bangunannya sudah sangat tua.
"Pak Wahyu sakit-sakitan, untuk membiayai pengobatannya membutuhkan uang yang banyak, mereka terpaksa menjual rumahnya yang dulu untuk biaya rumah sakit." pakde Bejo sedikit menceritakan keadaan keluarga Izham.
"Bu, mbok keponakanmu itu dibikinin minum to, kasihan mereka pasti kehausan." pakde Bejo memberi perintah kepada bude Parmi. Tapi bude Parmi masih terlihat sinis, seperti tidak menyukai tamunya.
"Gulanya abis, pak. Biarin ajalah, toh mereka juga nggak akan lama-lama. Dia itu cuma Kei, bukan tamu istimewa." ucapnya masih ketus. Mendengar itu, Kei hanya tersenyum miring, tidak habis pikir sikap bude Parmi masih seperti itu.
"Ibu, jaga mulut anda. Saya perhatikan dari tadi anda tidak menghargai, istri saya!" sekian lama tuan Ken terdiam, akhirnya suara ancaman darinya keluar. Dari tadi tuan arogan itu diam-diam memperhatikan sikap bude Parmi.
Kei mengusap lengan tuan Ken, semoga tuan posesif itu bisa dikendalikan. Jika tuan muda itu sudah emosi maka semua akan menjadi rumit.
"Hei, memang Kei itu siapa? Hah, meski sekarang penampilannya berubah tapi bagiku itu sama saja. Dia masih sama saja seperti Kei yang dulu." jawaban dari bude Parmi seolah menantang, membuat tuan muda itu naik pitam.
"Saya sudah memperingatkan anda!" tuan Ken menggebrak meja bambu didepannya dengan kuat, membuat tuan rumah yang sudah paruh baya itu terlonjak kaget.
"Sayang... sayang, kendalikan dirimu, jangan membuat ribut. Sabar ya... Mereka bude dan pakde aku. Maaf, sikap bude memang seperti itu." Kei ingin menenangkan tuan Ken yang sudah terlihat emosi, bukannya tenang, tuan muda itu semakin nyalang.
"Apa kau bilang, sabar? heh... aku tidak kenal sabar untuk menghadapi sikap orang seperti itu!"
"Hei anak muda, sombong sekali kau! mentang-mentang dirimu ganteng lalu kau belagu begitu? cih..." bude Parmi semakin merendahkan.
__ADS_1
"Samuel Aaron Lee!!" tuan Ken memanggil sekretaris Lee yang masih diluar rumah. Lee yang masih menerima telpon dari Dewi itu segera memutus sambungan dan segera menghampiri tuan mudanya.
Kini tuan Ken itu benar-benar terlihat marah, wajah putih bersih itu memerah karna menahan amarah.
"Saya, tuan muda." sekretaris Lee sudah berdiri didepan tuan Ken.
Bagi orang desa, mereka tidak begitu familiar dengan sebutan tuan muda, mereka merasa heran kenapa lelaki yang beberapa saat lalu menggebrak meja dipanggil dengan sebutan itu. Sebutan seperti orang-orang penting yang berkuasa.
Bude Parmi yang tadinya memandang nyalang dan tajam kini tatapannya itu melemah, seperti ada getaran ketakutan tetapi ia tutupi.
"Masukan wanita paruh baya itu kedalam penjara, berikan dia pasal berlapis biar membusuk dipenjara." tuan Ken berkata dingin.
"Huh, aku tau! kau itu cuma menggertakku saja 'kan? aku nggak takut! aku punya kenalan orang yang bekerja di Kantor polisi sebagai tukang sapu, kau tau temanku itu sangat kenal sama polisi yang punya jabatan tinggi. Dia pasti bisa menolongku." bude Parmi mencoba menutupi rasa takut juga rasa gugupnya.
"Bu, sudah. Kau jangan bersikap seperti itu, dia itu tamu kita bersikaplah baik." pakde Bejo merasa malu dengan ulah istrinya.
"Bapak yang diam, aku sudah hapal orang-orang model beginian, pak. Mereka yang sok ganteng sama berpenampilan rapi gitu cuma bekerja didealer motor saja kita tidak perlu takut."
"Anda bilang apa? dealer motor!" sentak tuan Ken, tidak terima dirinya dikatakan sebagai pekerja didealer motor. Sekretaris Lee terlihat bingung karna dia tidak tau masalahnya, ketika masuk kedalam suasananya sudah mencekam.
Tuan mudanya sudah memanas dengan dikelilingi awan hitam.
__ADS_1
"Ibu, tolong berhati-hatilah jika berbicara dengn tuan muda. Jangan membuat tuan muda marah." sekretaris Lee memberi peringatan kepada bude Parmi.
"Heleh... tuan muda, tuan muda... pret... sudah seperti keturunan bangsawan saja. Kalian belum tau 'kan, siapa mantuku? dia seorang PNS dengan guru honorer. Jadi aku tidak akan takut dengan ancaman kalian yang sok-sok tuan muda segala. Huh..." bude Parmi masih tidak mau mengalah, dari tadi mengibarkan bendera merah dihadapan tuan Ken. Dia belum tau dengan lelaki didepannya, yang dia sebut bekerja di dealer motor itu asli seorang tuan muda. Tuan muda yang sukses diusia muda dan menjadi milyader di-Indonesia. Seorang tuan muda yang sangat ditakuti dikalangan dunia bisnis karna kekuasaannya.