Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Penolakan


__ADS_3

"Akhirnya Daddy nya Io udah bangun ya, Mom. Io udah bisa peluk Dad." ucap Kio dengan tersenyum penuh, giginya yang rapi menambah kesan tampan pada wajah bocah kecil itu.


Bola mata yang penuh kebahagiaan tengah menatap manik mata ibunya.


Kei menganggukkan kepala beberapa kali, tersenyum lebar seperti putranya. Kei mengusap rambut Kio dengan pelan. "Iya Sayang. Alhamdulillah, Dad udah sadar. Mom juga nggak sabar ingin peluk Dad." kata Kei.


"Pak, lebih cepat lagi ya, biar segera sampai dirumah sakit." perintah Kei.


"Baik, Nona." jawab supir pribadi yang bekerja di rumah Ken. Di belakang mobil yang ditumpangi Kei ada juga satu mobil pengawal yang mengikuti. Menjaga keselamatan nona muda mereka seperti perintah Ken.


Supir pribadi telah menambah kecepatan mobilnya, kini mobil itu semakin dekat dengan gedung rumah sakit yang terlihat megah meski dari jarak beberapa meter.


Mobil yang ditumpangi itu sudah sampai didepan halaman rumah sakit.


Supir pribadi turun lebih dulu untuk membukakan pintu.


Tepat pada saat Kei turun, dengan kebetulan mobil sekretaris Lee juga baru sampai.


Lee yang baru turun langsung menghampiri Kei.


"Selamat pagi, Nona." Lee menyapa dengan hormat. Meski hubungan mereka kini sudah sebagai saudara tapi Lee masih tetap bersikap seperti sebelumnya.


"Jangan terlalu formal, sekretaris Lee. Bukankah kita sudah menjadi saudara." Kei tidak nyaman dengan sikap Lee yang terlalu formal padanya. Bukankah tali persaudaraan itu semakin erat.


"Saya tetap Samuel Aeron Lee, sekretaris Tuan Muda. Jadi, saya tetap hormat pada Anda seperti sebelumnya. Mungkin ada waktunya kita bersikap seperti saudara." Lee mengatakan pendapatnya. Ia tetap akan bersikap seperti sebelumnya.


Kei menghembuskan napas lalu menggelengkan kepala. Tidak memaksa Lee untuk bersikap biasa. Saat ini pikirannya tidak fokus dengan obrolan bersama Lee, yang ada dalam benaknya hanya ingin segera menemui suaminya


"Baiklah terserahmu. Ayo kita masuk." Kei mengajak Lee untuk masuk rumah sakit bersama-sama. Tapi Lee mengusungkan tangannya memberi tanda agar Kei berjalan lebih dulu.


Lee tidak mau mengambil resiko dengan berjalan beriringan bersama istri tersayangnya tuan Ken.


Dari dulu sikap over posesif yang dimiliki si Koi tetap ada, bahkan semakin mengerikan.


Meskipun rahasianya sebagai Tupai akan terbongkar namun Lee sengaja menjaga jarak dengan Kei. Bagaimanapun juga saat ini tuan Ken baru sadar dari koma, sudah pasti belum bisa berpikir jernih. Ia masih harus menjaga keamanan dan suasana hati si Koi.


Kei menggendong Kyura yang tengah terlelap, sedangkan telapak tangannya tengah menggenggam telapak tangan mungil milik Kio.


Meski berada dalam satu lift, Kei maupun Lee tidak ada yang mengawali perkataan. Keduanya hanya diam saja.


"Paman Lee, Daddy ku sudah bangun. Aku tidak jadi menganggap Paman sebagai ayahku." kata Kio tiba-tiba.

__ADS_1


Kening Lee mengerut dan memandang ke arah Kio dengan heran. Ia tidak mengerti dengan maksud ucapan anak dari bos nya itu.


" Sayang, Paman Lee tidak tau pembicaraan kamu dengan Zee, jadi Paman Lee juga tidak paham dengan perkataan mu." Kei yang menjawab.


"Oh iya, Io lupa, Mom." Kio menepuk dahinya dengan tangan yang sebelah, membuat Kei menggelengkan kepala dan tertawa lucu.


Lee yang berdiri disudut lift hanya bergantian melihat Kei dan Kio, benar-benar tidak paham dengan mereka.


Kei mengetahui kebingungan sekretaris Lee. Ia segera berkata. "Tidak apa-apa sekretaris Lee, hanya salah percakapan saja."


Lee menanggapi dengan senyum simpul.


Dentingan lift sudah berbunyi, pintu lift dengan pelan mulai terbuka. Kei dan Kio keluar lebih dulu, barulah Lee mengikuti dibelakang.


Para pengawal belum menyusul, mereka masih berada dilantai bawah.


Kei mempercepat laju jalannya, Kio juga mengimbangi langkah mommy nya.


Dan mereka sudah sampai di lorong tempat Ken dirawat. Mami Lyra terlihat berdiri didepan pintu dan tengah berbincang ditelpon.


"Oma..." panggil Kio yang berlari ke arah mami Lyra.


"Hei... Sayangnya Oma sudah datang." mami Lyra menyambut Kio dan mencium pucuk kepala Kio.


"Iya Ray, nanti Mami sampaikan pada kakak mu." kata mami Lyra terakhir dan segera menutup sambungan telpon.


"Mi," panggil Kei.


"Iya Kei, kalian bisa datang bersamaan?" mami Lyra melihat Kei dan Lee bergantian.


"Iya Mi, tadi bertemu di depan rumah sakit."


"Mi, benar suamiku sudah sadar? aku tidak sabar ingin bertemu dengannya." kata Kei lagi dengan tidak sabar.


"Iya Oma, Io juga ingin peluk Dad. Daddy ku sudah bangun kan, Oma?" Kio menyela.


"Iya, Daddy nya Io sudah bangun. Ayo kita masuk dan lihat Daddy Ken." ajak mami Lyra.


"Lee, ayo kita masuk." mami Lyra juga mengajak Lee untuk masuk. Lee menunduk dan mengikuti langkah mereka.


Mami Lyra segera meraih handel pintu dan membukanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Ken, lihatlah... anak dan istrimu sudah datang." ucap mami Lyra. Mereka mulai berjalan mendekati ranjang Ken.


Ken segera melirik kearah mereka.


"Daddy... Io, rindu Daddy." Kio berlari kearah Ken dengan merentangkan tangannya.


Aneh... benar-benar aneh. Ken tidak menyambut rentangan tangan Kio. Dahinya mengerut dan terlihat keheranan.


"Daddy?!" ucap Ken kebingungan.


Deg...


Langkah mereka terhenti.


Kio yang tidak mengerti terus saja mendekati ayahnya dan menjangkau tubuh Ken semampunya. Baginya bisa menjangkau tubuh ayahnya sudah membuatnya senang.


Ken menepis tangan Kio, "Aku bukan Daddy, mu." ucapnya. Dia menolak pelukan dari Kio.


"Daddy Ken yang tampan adalah Daddy nya Io. Iya kan, Oma?" Kio mencoba menjelaskan semampunya. Lalu melihat ke arah Omanya.


"Iya Ken, Io adalah putramu." ucap mami Lyra meyakinkan. Bola matanya sudah berkaca-kaca.


"Dan Kei adalah istrimu." imbuh mami Lyra.


"Wanita munafik itu istriku? Mami jangan bercanda, tidak lucu." tolak Ken. Meski mengatakan dengan suara lirih tetap saja semuanya mendengar jelas perkataan Ken.


Jantung Kei seolah berhenti berdetak.


Tes... tes...


Airmatanya sudah tidak bisa dibendung, mengalir begitu deras. Tubuh Kei melemas dan hampir terjatuh jika mami Lyra dan Lee tidak sigap memegangi.


Tangan Kei gemetaran, mendekap Kyura dengan erat. Mami Lyra langsung mengambil alih Kyura dari gendongan Kei, sedangkan Lee menuntun Kei untuk duduk di sofa.


Meski mendapat penolakan dari Daddy nya, tidak membuat Kio menjauh, Kio tetap berdiri disamping ranjang Ken dan memperhatikan wajah Ken yang terlihat dingin.


Wajah Ken bukan seperti ayahnya yang selalu tersenyum dan bersikap hangat padanya.


Umur Kio yang masih kecil tentu belum paham dengan perubahan sikap Daddy nya.


Bahkan dia yang amat merindukan pelukan Daddy nya mencoba merengkuh kan tangan mungilnya lagi. Tapi langsung ditepis oleh Ken.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku. Aku bukan Daddy mu!!!" tegas Ken.


Herlambang langsung beralih mendekati Kio.


__ADS_2