
Jam 4sore tuan Ken dan sekretaris Lee sudah menyusuri jalanan yang padat, waktu jam pulang kantor memang jalanan selalu padat.
Tuan muda itu terlihat lelah bersandaran dikursi belakang. "Lee, apa Viona pulang ke-Amerika?" Ken bertanya. "Sepertinya belum tuan muda, bahkan ada kemungkinan Viona tidak akan kembali ke-Negara itu."
"Selama tidak menggangu ya sudah biarkan saja, mungkin sudah sadar."
Mobil yang memecah jalanan tadi sudah sampai didepan gerbang dan mulai merangkak maju menuju halaman depan rumah tuan Ken, seperti biasa Lee sigap membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya.
Pengawal yang berjaga menundukkan badan ketika tuan Ken mewati nya.
Masuk kedalam rumah ada pengawal yang berjaga didalam rumah, kembali melakukan yang sama yaitu membungkukkan badan.
"Dimana nona, kalian?" Ken bertanya. "Nona sedang berada dihalaman belakang dengan Nyonya besar, tuan." menjawab dengan menunduk tidak berani menatap langsung kearah tuan Ken. Ken langsung berjalan menuju halaman belakang, rasa rindu dengan sang istri tidak bisa ditahan. Segera ingin melihat wajah Kei.
"Suamimu pulang kau tidak menyambut?" dari jauh Ken sudah bersuara dan menghampiri kedua wanita yang begitu berharga dalam hidupnya.
"Maaf sayang, aku tidak tau." Kei meminta maaf. "Kamu sudah pulang, Ken?" mami Lyra berbasa-basi. "Sudah mi, baru sampai. Huh, aku lelah sekali." Ken duduk dikursi bergabung dengan Kei, menggerakkan kepala kekanan dan kekiri seperti bukti bahwa dia memang lelah.
"Biar aku pijitin lehernya," Kei sudah akan berdiri, gerakan cepat Ken melarang. "Kau tidak boleh kelelahan." kalimat itu mungkin sudah terucap seribu kali. "Sayang, aku tidak akan kelelahan hanya dengan memijitmu." ingin rasanya Kei melayangkan protes dalam hatinya.
"Tetap saja kau jangan melakukan itu!"
"Mami, lihatlah sikap putramu." Kei meminta pembelaan mami Lyra. Mami Lyra menyunggingkan senyum, dia sendiri juga hapal dengan sikap anaknya yang memang bersikap berlebihan.
__ADS_1
"Ken, sekali-kali biarkan istrimu melakukan rutinitas biasa." hanya bisa mengatakan itu, tidak bisa memberi pembelaan yang lebih. "Mami jangan lupa, aku dan Kei sedang program hamil. Dan semua perintah ku itu sudah anjuran dari dokter." sangat pintar memberi jawaban.
"Program hamil tidak harus semuanya dilarang, Ken. Istrimu bisa melakukan aktivitas biasa yang terpenting tidak terlalu berat." mami Lyra belum menyerah dalam membela kebebasan Kei.
"Sayang, lihatlah telapak tanganku sampai licin! aku tidak pernah memegang apapun." Kei mengatakannya dengan raut cemberut.
"Itu bagus, honey. Tandanya aku berhasil membahagiakanmu."
'Hei, pernyataan macam apa itu? seperti ini bukan membahagiakan tuan, tetapi menyiksaku.'
"Kau menginginkan sesuatu?" Ken bertanya. 'Iya aku menginginkan anda menghentikan kegilaan ini!' bantahan Kei dalam hati.
"Aku tidak menginginkan apapun, kamu sudah memberiku segalanya. Tapi hanya satu yang tidak aku dapatkan..." Kei menggantung kalimatnya, membuat tuan Ken penasaran. Menurut penerawangan tuan Ken sendiri dia sudah memenuhi keinginan istrinya dengan baik, lalu apakah itu semua masih kurang? masih ada yang terlewat? atau dia melalukan keteledoran? tuan yang over itu sudah terlihat ketar-ketir. "Apa yang belum kau dapatkan, sweety?"
"Kebebasan." melirik kearah tuan Ken, apakah suaminya itu akan marah. Tentu saja tuan Ken sudah merubah raut wajahnya. "Kebebasan! jadi kau mau kebebasan? apa kau tidak sudah tidak ingin diperhatikan?" itulah yang membuat Kei setengah frustasi, satu kata yang dia ucap akan mendapat balasan opini tersendiri dari suaminya yang over.
"Hiya, kau istriku bukan pembantu ku!" tidak terima semakin menunjukan kemarahan. 'Beginilah jika berbicara dengan Anda, aku juga ikutan setengah waras. Huh!' Kei memijat pelipisnya, tidak tahan untuk meladeni suami yang tidak terbantahkan.
"Kau... kau kenapa memijat kepalamu, apa kau pusing? aku akan menelpon Lee untuk mengantar ke rumah sakit."
'Oh, Tuhan.. aku benar-benar ikut tidak waras menghadapi suamiku sendiri.' membatin. Kei mendekatkannya mulutnya disamping telinga mami Lyra dan berbisik. "Mi, jika seperti ini aku bisa beneran pusing!" Kei berbisik pelan, nada suara yang terdengar frustasi. Berbeda mami Lyra malah tertawa, "Kalian ini memang pasangan suami istri yang unik dan lucu. Haha..."
"Mami...." Ken dan Kei serentak menghentikan suara tawa mami Lyra.
__ADS_1
"Sayang, jika kamu ingin ke Rumah Sakit silahkan saja. Tetapi aku tidak mau ikut dan aku juga tidak pusing, apa mengerti sayang?"
"Kau tadi memijat kepalamu berati kau sakit kepala, atau jangan-jangan..."
"Belum....!" kini giliran Kei dan mami Lyra yang serentak menghentikan pemikiran tuan Ken.
"Ough, belum ya..." tubuh Ken melemas. "Jangan begitu, seperti kata dokter tunggu satu atau dua bulan lagi." Kei mengingatkan suaminya tentang penjelasan dokter waktu itu.
"Eum, iya. Kenapa harus menunggu selama itu!"
"Sabar Ken, yang terpenting kalian sudah berusaha pasti akan segera mendapat hasil yang baik." do'a mami Lyra. "Amin..." Kei dan Ken meng-aminkan do'a itu. Keluarga yang bahagia, disore hari menikmati senja yang terpancar dilangit terlihat begitu indah. Mereka bertiga melanjutkan perbincangan ringan seputar kenakalan tuan Ken semasa kecil, Ken lebih bandel daripada adiknya yaitu Rayden. Tawa ceria terus menghiasi wajah-wajah mereka, keluarga yang hangat dan normal sebelum tuan Ken berubah over lagi. Tidak terasa langit jingga itu sudah akan tenggelam berganti langit yang hitam dengan hiasan bintang-bintang.
"Honey, ayo kita masuk. Udara sore seperti ini tidak bagus untuk kesehatan mu dan mami."
"Oce.. mari mi, kita masuk. Sang pemimpin sudah memberi perintah." ucap Kei meledek. "Hist... kau ini!" Ken mengacak rambut Kei karna Kei sudah meledeknya. Mami Lyra tertawa kembali, sungguh hatinya sangat bahagia menyaksikan keduanya.
Sampai didepan anak tangga tiba-tiba Ken meraih tubuh Kei untuk digendongnya. "Houh,, sayang! kau membuatku terkejut." Kei berpegangan erat pada leher tuan Ken.
"Ken, kamu ini ada-ada saja! dasar suami over protective, kau benar-benar tidak membiarkan Kei bergerak bebas! awas, hati-hati jika juniormu sudah hadir dia bisa membalasmu." kata mami Lyra, dulu almarhum suaminya sama persis dengan Ken yang bersikap over. Setelah mami Lyra hamil, jabang bayi yang dikandung selalu meminta yang aneh-aneh membuat suaminya kewalahan. Dan seperti itulah pembalasannya.
"Mami ini bicara apa? juniorku tidak akan seperti itu." Ken rasa itu tidak akan terjadi kepadanya.
"Heum, kita lihat saja kedepan-nya." ucap mami Lyra, mereka berpisah didepan kamar masing-masing.
__ADS_1
Didalam kamar Ken menurunkan tubuh Kei diatas ranjang. "Ayo kita berusaha lagi membuat benih Ken junior." Ken mengerlingkan matanya, Kei menatap horor.
"Nanti malam saja, bukannya kamu lelah." Kei melakukan penolakan secara halus. "Untuk membuat Ken junior aku tidak akan lelah honey, bahkan bisa nambah." tersenyum mengerikan. Sudah seperti itu tidak lagi bisa mengajukan penolakan, jalan satu-satunya PASRAH.