Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menghadapi Sikap Over Protective Tuan Ken.


__ADS_3

"Tuan..." Kei memanggil Ken yang masih memeluknya.


"Ssttt..." Ken memberi kode agar Kei tidak melanjutkan perkataannya.


"Antar ke Rumah Sakit xxx." Ken memberitahu tujuannya kepada supir Kantor untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit. Ken sangat khawatir mengetahui luka dipipi Kei, untuk itu harus memerlukan perawatan. Mobil sudah melesat menuju ke Rumah sakit tidak lama mereka sudah sampai, Ken menuntun Kei untuk masuk. Didepan pintu Rumah sakit sudah ada beberapa perawat yang menyambut dengan mendorong kursi roda.


"Ini berlebihan." kata Kei. Ken tidak mengindahkan perkataan Kei tetap memaksa Kei untuk duduk dikursi roda, perawat perempuan beralih mendorong kursi roda itu membawa keruang perawatan VIP. Setelah Kei masuk keruang perawatan, tidak lama beberapa dokter datang untuk bersiap siaga menangani anggota keluarga tuan Ken.


Dokter mulai melihat luka diwajah nona muda itu dan akan mengobati. Sesekali Kei meringis saat kulit yang terluka itu dioles obat.


"Hei... pelan-pelan, tidak lihat istriku kesakitan!" lelaki dengan segala kekuasaannya itu sudah mulai menunjukkan sikap aneh, lebih tepatnya protective berlebih karna terlalu khawatir.


"Ini sudah sangat pelan tuan Ken, lukanya memang sedikit parah untuk itu nona sangat kesakitan."


"Parah...!" Ken mengulangi. Nadanya terdengar dingin, namun juga khawatir.


'Mati aku, apa aku salah berucap.' dokter yang mengatakan kalimat tadi ketakutan dan bingung, harus bagaimana menjelaskan. Melirik kearah teman seprofesinya, namun hanya mendapat gelengan kepala. Pertanda dia tidak bisa membantu.


"Tidak, ini tidak terlalu sakit dokter. Teruskan saja." kata Kei pelan, memecah kesunyian.


"Dokter saja mengatakan itu, sudah pasti dokter yang benar, karna dia lebih tau! kalau dokter berkata parah itu berati lukamu parah!" bukan lebih tenang, Ken justru bertambah marah karna Kei mencoba menahan rasa sakitnya. Para perawat sudah takut dan menyerah jika berhadapan dengan tuan Ken. Dan lagi para dokterpun sama, ingin menyerah jika berhadapan dengan tuan arogan itu.

__ADS_1


"Tuan... sungguh ini tidak parah dan tidak sakit." Kei meyakinkan, agar Ken tidak bersikap berlebihan lagi.


"Cepat lakukan tindakan visum, rontgen atau tindakan pemeriksaan lainnya. Jika perlu lakukan operasi agar luka itu tidak infeksi dan bertambah parah!" Ken berkata dengan dingin. Dokter, perawat dan Kei saling pandang, sudah tidak habis pikir dengan pemikiran tuan Ken. Dokter benar-benar bingung harus mengambil sikap apa, luka yang dialami nona Kei tidak perlu tindakan seperti itu. Bahkan tidak perlu adanya operasi, tetapi tidak kuasa bila menolak perintah tuan Ken. Lalu mereka harus bagaimana?.


"Tuan Ken, mohon maaf luka nona Kei tidak perlu tindakan seperti yang anda katakan tadi. Luka nona Kei hanya perlu dibersihkan dengan antiseptik, dioles obat dan nona Kei hanya perlu meminum obat saja tidak perlu tindakan lain." dokter menjelaskan kepada tuan Ken.


"Yang dijelaskan oleh dokter tadi memang benar tuan, ini hanya luka biasa tidak perlu divisum, Rontgen apalagi operasi. Luka seperti ini 2hari pasti sudah sembuh." Kei ikut menjelaskan pada tuan arogan itu.


"Kei, diamlah. Ujung bibirmu mengeluarkan darah itu pasti sakit sekali, kau tidak perlu banyak bicara. Aku mengkhawatirkan mu."


'Ya Tuhan, aku harus senang atau sedih mendapat suami seperti ini. Kenapa tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain, aku tau anda khawatir tuan, tetapi tidak perlu berlebihan.' Kei merasa frustasi menghadapi kegilaan suaminya yang over protective.


"Tuan, aku tidak apa-apa sungguh anda tidak perlu terlalu khawatir." Kei sangat berharap tuan Ken mau mengerti.


"Baiklah tuan Ken, kami akan melakukan tindakan seperti yang anda perintahkan tadi. Tetapi kami mohon anda menunggu diruang khusus saja agar tidak mengganggu konsentrasi kami." salah satu dokter memberanikan diri berbicara, jika tidak keadaannya tidak akan tenang. Tuan Ken akan tetap bersikap seperti itu.


"Hei, kau mengusirku!" Ken memandang dengan sorot mata tajam.


'Ya Tuhan, selamatkan kami dari kegilaan tuan Ken.' dokter membatin.


"Tidak tuan Ken, kami tidak akan berani mengusir anda." dokter menunduk takut.

__ADS_1


"Hah..." Ken membuang nafas kasar, kenapa tidak ada yang mau mengerti tentang kekhawatirannya.


Tok...tok...


"Tuan muda..." sekretaris Lee muncul dari balik pintu dan berjalan mendekat.


"Sekretaris Lee, tuan Ken menyuruh kami untuk melakukan tindakan visum dan Rontgen pada luka diwajah nona Kei, kami menyuruh tuan Ken agar menunggu diruang khusus." dokter memberitahu, lebih tepatnya mengadu kepada sekretaris Lee agar bisa membantunya keluar dari situasi yang menyeramkan.


"Hah, kau berani mengusirku lagi!" memasukkan kedua tangan disaku celana, tetap menatap dengan tajam, raut wajah terlihat kesal. Membuat dokter dan perawat tidak berani melihat langsung kearah tuan Ken, mereka hanya melirik sekilas. Sekretaris Lee menautkan alis pertanda dia juga bingung mendengar penjelasan dokter barusan. Lee berganti mencermati luka diwajah nona muda itu, luka yang tidak tidak terlalu parah. Lalu untuk apa menyuruh melakukan tindakan tadi? bukankah itu berlebihan. Dokter mengedipkan mata beberapa kali kearah sekretaris Lee sebagai isyarat agar sekretaris Lee membantu mereka, sedari tadi mereka sudah sangat kesulitan menghadapi tuan Ken.


"Tuan muda, sepertinya luka diwajah nona Kei tidak terlalu parah. Anda tidak perlu menyuruh dokter untuk melakukan tindakan visum dan Rontgen, biarkan mereka mengobati luka nona dengan prosedur mereka. Para dokter sudah pasti mengerti harus mengobati dengan cara seperti apa. Sebaiknya kita menunggu diruang khusus, agar dokter segera mengobati luka nona Kei."


"Lee, kau juga mengusirku! kalian tidak berguna." Ken tetaplah Ken, susah mengerti dan susah untuk dimengerti.


"Mereka yang bilang bahwa luka diwajah Kei parah, Kei juga sangat kesakitan. Aku ingin dokter itu menangani Kei dengan baik." Ken menunjuk kearah dokter yang berjejer.


"Kami tau tuan muda, luka nona Kei hanya luka luar itu tidak perlu melakukan tindakan. Luka itu sudah sembuh dengan dibersihkan dengan antiseptik, dioles salep dan juga rutin meminum obat sampai sembuh." dokter kembali memberi penjelasan, sekarang tidak terlalu takut karna ada sekretaris Lee yang akan mengantisipasi kemarahan tuan Ken.


"Tuan muda, sebaiknya kita pindah keruang khusus ada hal yang ingin aku bicarakan dengan anda." Lee memberi alasan agar tuan Ken mau meninggalkan ruang perawatan, sekretaris Lee mengerti para dokter dan perawat sangat kesusahan menghadapi tuan protective dan arogan itu. Ken nampak berpikir, sebelum memberi jawaban.


"Baiklah, aku akan menunggu diruang khusus. Dengar, kalian harus melakukan tugas dengan baik. Jika ada kesalahan sedikitpun atau istriku masih kesakitan, kalian akan terkena pasal! kalian mengerti." sebelum pergi Ken memberi ancaman.

__ADS_1


"Mengerti tuan Ken." beberapa dokter dan perawat menjawab bersamaan.


"Kei, aku keluar sebentar. Jika terjadi sesuatu padamu, kau harus segera menghubungiku. Mana ponselmu, ponsel itu harus selalu kau genggam, mengerti! aku akan segera datang jika kau menghubungiku."


__ADS_2