Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Jadwal Peninjauan.


__ADS_3

Untuk hari pertama masuk kerja tuan Ken merasa lelah, menyandarkan tubuh dikursi belakang. Mereka sedang berada dalam hiruk pikuknya lautan kendaraan.


"Tuan, satu minggu lagi kita ada peninjauan dikota Surabaya." Lee memberitahu jadwal tuan muda yang harus pergi keluar daerah.


"Kau saja yang pergi," tuan Ken memejamkan mata, ia sama sekali tidak tertarik untuk pergi.


"Tapi, tuan. Tuan Mahendra meminta anda sendiri yang datang, untuk meninjau secara langsung pekerjaan yang ada sana." kata Lee.


"Ck.. aku malas untuk pergi jauh, Lee. Susah untuk meninggalkan mereka." tuan Ken berdecak.


"Maafkan saya tuan muda, saya sudah membereskan semua, anda tinggal berangkat." kata Lee. Dia, adalah orang paling bertanggung jawab untuk mengurus jadwal, bahkan tuan Ken sendiri tidak tau kegiatan apa yang harus dijalani.


Terdengar helaan nafas dari kursi belakang. Lee hanya melirik sebentar.


"Berapa jam kita disana?" akhirnya bertanya jadwal. Bukan karna ingin pergi. Jika bisa, ia ingin menyiasati dengan cara lain. Seperti sebelumnya, tuan muda yang masih bahagia dengan kelahiran sang putra tentu berat untuk jauh darinya, walau satu jam saja. Tapi, demi tanggung jawab kantor dengan ribuan karyawan, ia tidak boleh egois.


"Satu hari satu malam, tuan."


"Apa...? kau gila, Lee!" tuan Ken terkejut. Jauh dari pemikirannya. Ternyata, ia harus pergi selama itu! bisakah?


"Bagaimana bisa, ada jadwal selama itu? biasanya hanya 2 atau 3 jam saja, 'kan?" tanyanya lagi.


"Kita meninjau proyek Hotel dan Mall, membutuhkan waktu lama. Biasanya sampai 2hari atau tiga hari, jadwal itu sudah saya percepat." jawab Lee.


Di kursi belakang terdengar desahan berat, bisa ditebak, tuan muda itu sudah dalam mood tidak baik.


Kendaraan roda empat itu sudah memasuki pelataran. Seperti biasa, Lee membukakan pintu dan mengikuti tuannya untuk masuk kedalam rumah. Membawakan tas dan mengantarkannya kekamar. Setelah pekerjaannya selesai, ia buru-buru pulang. Jika tuan Ken tidak sabar ingin bertemu baby Kio, Lee sendiri tidak sabar ingin bertemu Dewi dan perut buncitnya.


"Honey..." Ken melihat sekeliling kamar, bola mata bergerak kesana kemari tapi tidak menemukan belahan jiwanya.


Melangkah menuju box bayi, dari jauh sudah terlihat pergerakan anaknya.


"Stop...!" teriak Kei.


Ken menghentikan langkah karna terkejut, saat menoleh kearah sumber suara, tuan muda itu tertegun.


"Kau baru pulang bekerja, sayang. Bersihkan badanmu dulu." perintah Kei.

__ADS_1


Ken masih kesusahan mengontrol jiwa, oh... dia pasti tergoda dengan penampilan Kei yang hanya menggunakan handuk menggantung diatas paha. Buah da** yang sedikit terlihat.


Menyadari itu, Kei segera berlalu keruang ganti Sebelum suaminya itu menyadari keadaan.


Hilangnya Kei dari pandangan membuat tuan Ken tersadar, dengan langkah cepat menyusul keruang ganti. Disana Kei sedang memakai kacamata yang menutupi bagian da**nya. Segitiga tipis sudah dikenakan.


"Honey," terdengar suara berat Ken yang mendekat.


Kei mendesis, kenapa harus ikut masuk. Dia sedang menggali lubangnya sendiri. Bukankah dia sedang berpuasa, kenapa mendekati santapan yang enak-enak? itu akan menyusahkan dia sendiri. Kei menerutuki suaminya.


"Hem," jawabnya berdehem. Ia harus segera memakai baju dengan cepat.


"Ah...kau menggodaku." suara tuan Ken terdengar berat.


"Aku tidak sengaja. Kau juga kenapa mengikuti ku keruang ganti?" Kei bertanya sehalus mungkin, meski dia tadi menerutuki suaminya, tapi tak mungkin untuk memarahi.


"Burung gagakku sudah bangun." Ken sudah mendekat tubuh Kei dari belakang.


Kei memejamkan mata, menikmati sentuhan dan pelukan dari Ken.


"Tapi sarangku masih belum pulih. Kau harus bersabar satu minggu lagi." jawab Kei.


Dari luar terdengar baby Kio menangis kencang. Kei melepas pelukan dari suaminya dan segera keluar.


Tuan Ken menjatuhkan diri diatas sofa singgle yang ada diruang itu, memejamkan mata dengan memijat pelipis. Meredakan sesuatu yang membara.


Diluar Kei menggendong baby Kio, melihat kearah suaminya yang berjalan menuju kekamar mandi. Sebenarnya tak tega harus melihat wajah lesu dari Ken, tapi apa boleh buat, mereka sedang diuji dengan keadaan.


Selesai dengan ritualnya, tuan Ken menghampiri Kei dan baby Kio.


"Anak Daddy, sini.." Ken merentangkan tangan untuk menerima baby Kio dan menggendongnya. Ken fokus melihat kearah baby Kio dan menciuminya, menghirup harum wangi khas bayi.


"Sayang, kamu tidak marah 'kan?" tanya Kei. Ia sadar belum, saat ini belum bisa melayani suaminya.


"Tidak Honey, kenapa aku harus marah?" jawab Ken. Memandang Kei dengan sorot mata yang hangat.


Mendengar itu Kei menjadi lega, ia bisa menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Apa baby Kio hari ini nakal?"


"Enggak dong Daddy, baby Kio anak yang baik, dia tidak nakal sama sekali." Kei menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


Begitu nyaman berada digendongan Daddy nya, baby Kio terlelap lagi. Membuat Kei dan Ken saling pandang dengan senyum dibibir mereka. Melihat wajah baby Kio yang menggemaskan, membuat kedua orang dewasa itu bahagia.


Keduanya sudah tidak sabar ingin melihat pertumbuhan baby Kio sampai anaknya bisa menyebut Daddy dan Mommy. Mereka sangat menunggu momen itu.


"Sweety, satu minggu lagi aku ada perjalan bisnis ke Surabaya." kata Ken.


"Heum. Berapa lama?" tanya Kei.


"Kata Lee, satu hari satu malam. Nanti menginap di Hotel."


"Sebenarnya aku malas untuk pergi. Lee tidak bisa mengatur jadwal dengan baik! harusnya aku tidak perlu kesana." Ken terlihat tidak bersemangat.


"Kenapa? bukannya sudah menjadi tugasmu sebagai pemilik perusahaan untuk melakukan pertemuan dengan orang-orang penting."


"Aku tidak ingin meninggalkan kalian. Aku tak bisa menahan rindu ku pada kalian."


'Uh, itu kata romantis atau kata lebay!' batin Kei, kesal sekaligus gemas melihat suaminya yang terlihat lucu dengan raut wajah sendu.


"Hanya satu hari satu malam, sayang. Bukan satu tahun." jawab Kei dengan senyuman.


"Satu hari satu malam itu waktu yang panjang Sweety, aku harus berada jauh dari kalian. Seharian berada dikantor pikiranku selalu bercabang pada kalian. Aku merindukan jagoan kecilku." Ken mencium baby Kio. Bayi itu menggeliat, terganggu dengan ulah Daddy.


'Dasar tuan muda over. Hanya satu hari satu malam saja begitu dramatis kata-katamu.' batin Kei, menggelengkan kepalanya.


"Bulu didagumu membuat baby Kio geli, sayang. Kau harus mencukurnya."


"Aku lupa, nanti akan aku rapikan."


"Apa kalian ikut saja kesana? sekalian kita berlibur?" tuan Ken terlihat antusias. Bola mata yang berbinar-binar.


"Tidak bisa, sayang. Aku belum pulih, baby Kio juga masih terlalu kecil." tolak Kei.


"Satu minggu lagi berati aku sudah pulih, nanti aku kasih jatah servise." imbuh Kei.

__ADS_1


"Benarkah?" Ken memastikan.


Kei mengangguk cepat. Mendengar itu, membuat Ken tersenyum cerah. Kabut sendu telah lenyap, ia bersemangat menantikan waktu berbuka untuk burung gagak hitamnya.


__ADS_2