
"Ada apa Ken, kau menyuruh Mami dan Lee kesini?" tanya mami Lyra.
Entah, sejak dirinya dan Lee datang ke rumah sakit Herlambang sudah menunggu diluar, sedangkan Ken terlihat uring-uringan.
"Mami mengantar wanita munafik itu pulang ke rumah kita!" tegas Ken.
"Dia bukan wanita munafik, dia istrimu, Ken." mami Lyra memberitahu lagi dengan pelan, berharap Ken bisa mengingatnya.
"Cukup Mi, jangan katakan yang tidak masuk akal. Tidak mungkin aku menikahinya. Ken bahkan sangat membenci wanita sok polos itu."
Ken mengangkat tangannya untuk menyangga kepala yang terasa berdenyut. Mencoba mengingat sesuatu. Tapi nihil.
Melihat Ken kesakitan, Lee maju kedepan untuk berjaga-jaga.
"Tuan Muda, anda harus banyak istirahat supaya lekas sembuh." Lee menyela sedikit perdebatan itu.
"Ssttt, kepala ku sakit Lee." rintih Ken.
"Dokter sedang menuju kemari, Tuan. Anda berbaring saja." Lee membimbing Ken untuk kembali rebahan.
Ken tidak menjawab tapi menurut dengan membaringkan tubuhnya.
Dan benar, tidak berapa lama beberapa dokter mulai masuk lalu mendekati ranjang Ken.
"Tolong periksa Ken, dia mengeluh kepalanya sakit." mami Lyra sedikit menggeser tubuhnya agar dokter lebih leluasa memeriksa keadaan Ken.
"Baik Nyonya,"
"Akh.. aku tidak tahan. Kepalaku sakit sekali. Aku tidak mungkin menikah dengan wanita itu." Ken memejamkan mata dan memegangi kepalanya. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Tentu tidak percaya jika dirinya menikahi wanita itu, sedangkan dia sangat membenci Kei yang dianggapnya wanita sok baik.
Dokter menyuruh Lee dan mami Lyra untuk menunggu diluar.
Saat membuka pintu Herlambang sudah menghadang. "Bagaimana kondisi Ken?" tanyanya.
"Masih belum tahu. Dokter masih memeriksa keadaan Ken." jawab mami Lyra.
"Ya Tuhan... bagaimana ini bisa terjadi, Ken melupakan keluarganya dan kembali bersikap seperti dulu." mami Lyra mengeluh dan menjatuhkan dirinya dikursi tunggu.
Herlambang langsung menggiringnya untuk dipeluk.
__ADS_1
Lee mengalihkan pandangannya. Tidak mau fokus pada pemandangan didepannya.
Lebih baik mengambil ponsel dan menghubungi Tony untuk meminta bantuan padanya, mengintai perusahaan Taisei comporatian agar tidak ada musuh yang menyerang pada data privat perusahaan.
Saat ini tuan Ken tidak bisa mengurus perusahaan, dirinya juga sibuk kesana kemari mengurus segala hal. Meski sudah ada beberapa orang penting yang dikerahkan untuk menjadi tameng perusahaan, tapi tak membuat hati Lee lega. Perasaannya masih waspada akan bahaya yang kapan saja datang. Mengingat banyak perusahaan yang telah menginginkan Taisei Comporatian gulung tikar. Lee benar-benar harus siap siaga.
Ditengah kesibukannya berbincang dengan Tony, mata Lee melirik pintu yang terbuka, setelah tahu dokter keluar Lee segera mengakhiri panggilan. Lalu mendekati dokter itu.
"Tuan, Nyonya, dan sekretaris Lee." mereka belum ada yang bersuara, tapi dokter lebih dulu memanggil dengan mimik wajah serius.
Ketiga orang dewasa itu juga memandang dengan mimik wajah serius.
"Setelah melakukan pemeriksaan dengan menanyai beberapa hal pada tuan Ken, kami menduga Tuan Ken terkena amnesia retrograde. Kondisi ini dialami oleh seseorang yang kehilangan sebagian ingatannya karna mengalami cedera otak atau seusai menjalani operasi dibagian kepala, sehingga mengakibatkan hilangnya sebagian memori ingatan." terang dokter.
Meski ketiganya sudah menduga akan hal itu, tapi begitu mendengar langsung mereka tetap terkesiap.
Mami Lyra memegangi dadanya yang terasa sesak, ketika Ken sadar hatinya sudah tenang, tapi meskipun Ken sudah melewati masa kritis kenapa semuanya menjadi rumit.
"Lalu bagaimana Dok, apakah ingatan Ken bisa kembali? kasihan dengan Kei dan kedua anaknya, karna Ken sama sekali tidak mengingat mereka." sedih mami Lyra.
"Amnesia retrograde masih bisa disembuhkan dengan menjalani terapi, minum obat vitamin secara teratur agar jaringan otak tidak semakin parah, asupan makanan juga perlu diperhatikan." dokter menjeda kalimat sebentar untuk ruang bernapas.
"Apa.... selama itu?" tubuh mami Lyra lunglai, segera Herlambang memegangi mami Lyra.
"Astaga..." mami Lyra berucap lirih dengan bersamaan luruhnya airmata. Mami Lyra menangis dipelukan suaminya.
Bukan hanya mami Lyra yang shok, Lee juga terkesiap mengetahui penjelasan dokter tentang waktu yang diperkirakan penyembuhan tuan mudanya.
"Mas... bagaimana ini? kalau sampai selama itu, bagaimana dengan nasib Kei dan cucu-cucu kita?" mami Lyra mengadu pada Herlambang dengan menangis tersedu-sedu.
Herlambang sendiri tidak tau harus bagaimana, semua sudah takdir yang harus dijalani. Tidak ada yang menginginkan itu, Tuhan lah yang sudah mengatur semuanya. Didalam rumah tangga Ken sedang di uji dengan cobaan berat, hanya berdo'a yang bisa dilakuan, mudah-mudahan ujian itu segera berlalu.
"Sabar Sayang, pasti ada upaya untuk mengembalikan lagi ingatan Ken."
Lee terdiam dalam posisinya, kini pemikirannya kembali penuh dengan mengetahui kondisi Ken. Beban berat yang ditanggung akan semakin besar, apalagi dalam jangka waktu yang panjang.
Berkali-kali ia menghembuskan napas, memberi ruang pada otaknya supaya tidak terlalu tegang dan pusing.
Pada saat Ken kecelakaan bersama Olive dan mengalami kelumpuhan, ia masih bisa bersama-sama mengurus perusahaan dengan Ken yang bekerja dirumah. Tapi kondisi saat ini, justru lebih sulit, jika Ken lupa dengan kejadian selama beberapa tahun terakhir, tentu semuanya juga akan dilupakan. Termasuk urusan proyek kantor dan urusan kantor lainnya.
__ADS_1
"Bagaimana kita memberitahu kondisi Ken pada Kei? dia juga pasti akan sedih."
"Nyonya, menurut saya, jangan katakan apapun pada Nona. Setelah kondisi Nona membaik baru kita jelaskan." Lee memberi saran. Jika memberitahu sekarang, sudah pasti Kei juga akan shok dan mempengaruhi kesehatannya.
"Iya Lee, kamu benar. Untuk sekarang jangan sampai Kei tahu, aku takut pada kondisinya yang belum stabil."
Kei sedang menikmati bubur ayam suir yang dihidangkan oleh pelayan. Meski tidak memiliki nafsu makan, tapi Kei tetap memakan bubur itu.
Mendengar putrinya menangis, ia bertekad kuat demi Kyura. Meski jiwanya sedang rapuh, tapi fisiknya harus kuat demi buah hatinya.
Ketika menyendok bubur kedalam mulut, terdengar ketukan pintu. Pelayan yang berdiri tidak jauh darinya segera membukakan pintu.
Muncul Dewi dengan mendorong stoiler bayi bersama Zee dan masuk kedalam kamar Kei.
"Kei..." Dewi mendekati Kei yang duduk di ranjang.
"Mbak..." belum-belum mata Kei sudah berkaca-kaca dan siap terjatuh kapan saja.
"Yang sabar ya, keluarga kecilmu sedang diuji. Kamu pasti bisa melewati ujian itu. Kamu tegar, kuat. Kamu Ibu yang hebat, kamu harus kuat demi anak-anak mu." Dewi mengusap lengan Kei. Memberi semangat pada sahabatnya yang sedang dirundung kesedihan.
Meskipun Kei belum menceritakan apapun tentang kondisi Ken, Dewi pasti tahu kondisi Ken dari suaminya.
__ADS_1