
Tiga hari dirumah sakit dengan segala sikap tuan Ken yang berlebih posesif, cara yang ditunjukkan untuk menjaga kepemilikannya. Tuan muda dingin, sombong, arogan bertindak semaunya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Kei sedikit demi sedikit sudah mulai hafal dengan sikap yang ditunjukkan oleh tuan Ken, yaitu semua harus mengikuti kemauannya.
Meski sudah berhasil dioperasi Kei masih belum berjalan normal, dia belajar pelan menggerakkan sebelah kakinya. Hanya beberapa langkah dia berhenti dan tidak ingin memaksa untuk cepat berjalan, pelan-pelan dia pasti akan berjalan normal seperti yang lainnya.
Hari ini jadwal Kei pulang dari Rumah Sakit, Ken mengatakan bahwa dia akan menjemputnya tetapi lelaki arogan itu belum terlihat datang. Padahal jam pulang sudah lebih dari 1jam lalu tetapi sampai jam 2 siang Ken belum muncul, Kei jenuh menunggu.
"Apa aku pulang sendiri saja? tetapi bagaimana dengan tuan Ken dia pasti marah, jika sudah seperti itu akan sulit ditangani." Kei berbicara sendiri, diruangan itu tidak ada siapapun. Hari ini jadwal Ken menghadiri pertemuan sangat padat.
"Coba aku hubungi saja." Kei mencari nomor handphone suaminya.
"Kamu memang bodoh Kei, bahkan nomor suamimu sendiri tidak ada." Kei memukul pahanya sendiri dengan kesal terjebak disituasi menunggu tanpa kepastian, seperti rumah tangga yang dijalani tidak ada kepastian. Kei berbaring di ranjangnya kembali menunggu sampai tuan Ken datang.
Jam 4sore tuan Ken bersama sekretaris Lee terlihat berjalan dengan langkah kaki lebar, tuan muda itu sudah menggerutu disepanjang perjalanan membuat sekretaris Lee ingin meninggalkannya ditengah jalan.
Ceklek...
Ken melangkahkan kaki untuk masuk, sekretaris Lee yang ingin ikut masuk dicegah.
"Kau tidak perlu masuk, tunggu saja diluar."
"Baik, tuan muda." setelah Ken masuk sekretaris Lee mengepalkan tangan mengayunkan tangan seolah ingin menonjok.
"Kau berani denganku, Lee!!" Ken membuka pintu, menatap tajam sekretaris Lee yang kikuk.
"A,,O.. itu tuan muda, maaf tanganku kram. Ini hanya senam tangan, mana berani saya melawan tuan muda." Lee menunduk.
"Waktunya tidak tepat Lee, kapan-kapan aku akan meladeni mu."
"Ha... tidak tuan muda. Saya tidak berani dengan anda, mohon maafkan saya." tidak menjawab Ken kembali masuk.
'Tuan muda benar masuk atau hanya pura-pura? merepotkan sekali dengan sikapnya yang sekarang. Ck..' Lee duduk dikursi tunggu.
Ken menghampiri Kei yang terlelap diranjang, terlihat beberapa barang sudah dikemas.
__ADS_1
"Kau berkemas sendiri? maafkan aku." Ken berbicara lirih. Tidak berani mengganggu Kei yang terlelap. Ken duduk disamping ranjang menunggu Kei terbangun. Kei yang sudah 1jam lebih tertidur kini mengerjapkan mata pelan.
"Tuan..." Ken tersenyum.
"Aku kira anda lupa. Huam..." Kei menguap.
"Ada pertemuan diluar daerah, dijalan terjebak macet."
"3jam aku menunggu anda, jika tau anda akan selama itu aku pasti sudah pulang sedari tadi." Kei cemberut. Tiba-tiba Ken beranjak dan menyerang bibir Kei, 4hari Ken menahan diri tidak menyerang Kei tapi setelah melihat bibir Kei yang cemberut membuatnya gemas ingin melahapnya.
Ceklek...
Dua perawat mematung didepan pintu. Kei yang melihat langsung mendorong tubuh Ken hingga mundur kebelakang. Kei menunduk menahan malu telah kepergok berciuman.
"Kei..." Ken mengeram kesal. Kei menunjukan lewat sorot mata, Ken langsung melihat kepintu.
"Ck.. dasar! kemana sekretaris sialan itu!"
Dua perawat yang mulai tersadar itu ingin pergi.
"I,iya tuan Ken..." keduanya saling bersenggolan menyuruh satu sama lain untuk lebih dulu mendekat.
"Ah, ada apa kalian kemari?" duduk dan bertanya dengan nada dingin.
"Maaf tuan Ken, saya hanya mengecek kamar ini apa sudah kosong atau belum."
"Kami sudah akan pergi. Bawakan kursi roda."
"Iya tuan, akan saya ambilkan." Ken hanya melirik saja.
"Mirip sekali dengan manusia es." Kei menggerutu pelan, tidak habis pikir dengan sikap Ken yang sangat dingin dengan orang lain. Pantas saja semua orang takut jika mendengar nama tuan Ken. Beberapa saat perawat sudah kembali membawa kursi roda. Ken membantu Kei untuk pindah, Kei menurut. Ken mulai mendorong kursi roda keluar dari kamar, saat diluar tidak melihat sekretaris Lee. 'Pantas saja perawat tadi bisa masuk, kemana Lee?' Ken melihat kesana kemari tidak menemukanya. Tidak ambil pusing, kembali mendorong kursi roda.
Sampai didepan Rumah Sakit masih belum muncul.
__ADS_1
"Kemana kau Lee!!" raut wajah sudah merah padam menahan kesal, menekan tombol ponsel untuk menghubungi Lee. Tak berapa lama sekretaris Lee setengah berlari menghampiri tuan Ken.
"Hah.. kau ingin menggunakan pasal atau ku kirim ke negara lain?" pandangan lurus kedepan, berbicara dingin. Seketika raut wajah Lee memucat, menggeleng kuat. Kei yang mendengar dan bukan terdakwa saja ikut merinding. Aura kekejaman tuan Ken memang tidak bisa diragukan.
"Au...au..."
"Ada apa Kei? kenapa kau kesakitan?" Ken terlihat khawatir.
"Aku ingin segera pulang dan beristirahat."
"Lalu kenapa kau mengaduh kesakitan?"
"Ini kakiku sedikit sakit, ayo kita segera pulang."
"Sakit? bukan pulang, tapi kembali lagi keruang tadi agar dokter memeriksa kakimu." Ken memutar kursi roda yang diduduki Kei kembali masuk kedalam.
"Tidak tidak tuan, jangan!" Kei setengah berteriak, rencana ingin segera pulang agar tidak mendengar kemarahan tuan berimbas harus kembali keruang rawat lagi. Kei sudah sangat kesal, kesabaran setiap hari dibutuhkan. Ken berhenti mendorong.
"Aku ingin segera pulang tuan, ayolah kita pulang sekarang."
"Tapi bukannya kau kesakitan, berarti kau belum pulih."
'Berpikir Kei ayo berpikir agar tuan aneh itu menghentikan dramanya.' Kei menggaruk kepalanya. Aha... dia tersenyum secerah matahari.
"Aku bosan tidur diranjang rumah sakit, aku ingin tidur dikamar saja disana nyaman dan bisa memeluk guling terhangat." Kei tersenyum dan memasang wajah imut.
"Baiklah aku juga sudah tidak sabar ingin menyerang candu ku." Ken mengedipkan sebelah mata. Kei menatap horor, kode dari tuan Ken membuatnya merinding. Ken kembali berjalan keluar, orang-orang yang melihat merasa aneh tetapi tidak berani menatap, aura tuan Ken sangat kuat membuat nyali mereka menciut. Lee yang merasa tidak enak dengan tuan mudanya itu mencoba ingin menggantikan.
"Tuan muda biar saya saja yang mendorong kursi roda nona Kei."
"Iyah, kalau kau ingin aku kenakan pasal coba saja pegang kursi roda ini besok pagi kau akan berubah status menjadi terdakwa."
Kei menahan tawa, meski sikapnya dingin tetapi tuan Ken juga terkadang lucu.
__ADS_1
'Kenapa semua-semua berhubungan dengan pasal? sebenarnya anda menciptakan berapa pasal diotak anda, bahkan untuk membantu mendorong kursi roda Nona Kei juga ada pasalnya! disini aku yang eror atau tuan muda yang eror?' semua masuk kedalam mobil, Lee mengemudikan mobil meninggalkan pelataran rumah sakit.
Setelah mobil itu meninggalkan pelataran, dengan cepat beredar berita bahwa tuan Ken sudah pergi dari rumah sakit, dokter dan perawat yang berhubungan langsung bisa bernafas lega. Mendo'akan semoga tuan Ken atau keluarganya tidak ada yang sakit lagi hingga tidak direpotkan menghadapi tuan arogan.