
Hati Naya merasa lega setelah mobil Akio meninggalkan pelataran rumah orang tuanya. Jantungnya kembali berdetak dengan normal, tanpa tegang memikirkan ketakutan yang tak mendasar. Raut muka Naya pun turut berubah sedikit cerah tidak murung dan tegang seperti tadi.
"Bu, Naya mau kuah soto buatan ibu. Nanti sampai rumah tolong buatin ya, Bu," pinta Naya. Dia menoleh ke kursi belakang, ibunya duduk sendiri di kursi belakang bersama beberapa tas kecil.
"Iya nanti ibu buatkan. Tapi liat persediaan ayamnya masih ada apa enggak, kalau abis, tunggu besok pagi ibu pulang dari pasar," jawab ibu Naya.
"Ohya, Naya lupa kemarin ibu belum sempet belanja." Perempuan itu menepuk jidat pelan, lupa bahwa mereka sibuk mempersiapkan diri untuk acara penting Naya, sampai lupa tidak memikirkan belanja bahan makanan.
Akio fokus menyetir, namun obrolan Naya dengan ibunya masih bisa didengar. Sekitar satu kilo meter dI depan sana kebetulan ada supermaket, tanpa disangka Akio menghentikan mobilnya di depan supermarket itu membuat Naya dan ibunya kebingungan.
"Kenapa berhenti?" tanya Naya.
"Buat beli bahan-bahan dapur," jawabnya santai.
"Hah?" Naya terkejut.
"Bu, maaf, ibu bisa beli bahan makanan sekarang tanpa menunggu besok. Ibu nggak keberatan kalau belanja sendiri?" Akio menoleh ke belakang sambil memberikan lembar uang berwarna merah pada ibu Naya.
"Nggak papa. Ya sudah ibu belanja dulu." Setelah menerima uang itu, ibu Naya lekas keluar dari mobil. Kini tinggal Naya dan Akio.
Naya yang duduk di kursi depan terus memandang keluar jendela. Dia maupun Akio sama-sama terdiam.
Lamanya mereka hening, Naya memulai pembicaraan.
"Setelah ini, apa rencanamu?" Naya bertanya tanpa melihat pada Akio.
"Nggak ada."
Naya tidak jadi melanjutkan obrolannya. Jawaban Akio yang singkat mengurungkan niatnya untuk bicara serius tentang kedepannya.
__ADS_1
"Memang kamu maunya aku bagaimana?" Mengetahui Naya langsung diam, Akio balik bertanya lebih spesifik.
"Terserah, tapi aku nggak mau rumah tangga kita berada dalam naungan orang tuamu."
"Maksud kamu?" Kali ini Akio yang terkejut dengan kalimat yang dikatakan Naya.
Naya justru menghendikan bahu.
"Mereka orang tuaku. Dari segi materi, dad tidak mungkin melepaskan aku begitu saja. Sebelum aku menikah, aku sudah ditetapkan sebagai pewaris. Tapi untuk urusan keluarga kecil kita, mereka tidak akan ikut campur. Kamu sudah kenal mom, hanya saja belum sepenuhnya mengenal daddy. Dia sebenarnya baik dan sangat hangat, tapi sikapnya memang tegas dan terlalu over. Aku tahu kamu belum terbiasa dengan keluargaku, tapi kalau kamu sudah mengenal mereka, kamu pasti nyaman." Panjang lebar Akio berkata, mencoba meyakinkan Naya supaya tidak canggung lagi dengan keluarganya.
"Maaf, untuk saat ini aku belum terbiasa. Tapi akan aku usahakan untuk mengenal mereka. Kita menikah memang bukan karena paksaan, tapi pernikahan kita juga bukan keinginan mereka, jadi aku harap kamu mengerti."
Pembicaraan mereka terhenti karena ibu Naya sudah kembali membawa kantung belanjaan. Lalu Akio melanjutkan perjalanan menuju rumah Naya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil SUV sudah berhenti di pelataran rumah Naya. Mereka semua turun, ibu Naya segera membuka pintu dan menyuruh Akio masuk.
Kini dalam hati berganti Akio yang tercengang melihat keadaan rumah Naya yang sangat-sangat buruk baginya. Bahkan paviliun di rumahnya lebih layak dari bangunan yang saat ini dipijak.
Akio menelan ludah susah payah, bisakah malam ini dia tidur di tempat barunya sekarang? Dengan keadaan yang demikian jauh dari tempat tinggal sebelumnya. Amat sangat sederhana.
Dia menerutuk, kenapa Naya tidak mau menerima tawaran daddy-nya untuk menempati salah satu apartemen keluarga Kenichi, bahkan Naya kekeuh ingin pulang ke rumahnya yang nyatanya bangunan itu sungguh tidak layak.
Singkatnya.
Ketika malam hari menjelang tidur, Akio lebih memendam kekesalan. Bagaimana tidak, di kamar Naya terasa panas dan engap. Kipas gantung tak sedikitpun mampu memberi kesejukan. Beberapa kali Akio mendesah, dia tak bisa tidur dengan kamar sesempit itu. Beberapa kali dia hanya mendekus.
Naya baru kembali dari kamar ibunya, mendapati Akio tengah duduk di depan jendela kamar.
"Kukira udah tidur."
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Naya pergi ke kamar ibunya, dia hanya menghindari Akio. Berharap suaminya itu tidur lebih dulu dan dia tidak akan canggung tidur di sisi sebelahnya.
Bukan dia tak tahu kewajibannya, tapi sebelum ini dia sudah membicarakannya bersama Akio bahwa mereka belum melakukan hubungan suami istri sebelum adanya perasaan di antara mereka.
"Aku nggak bisa tidur," jawab Akio tanpa menoleh.
"Pasti kamar ini nggak nyaman buat kamu."
"Kalau kamu nggak mau tinggal di rumahku, setidaknya kita bisa tinggal di apartemen. Di sana lebih nyaman."
Entah kenapa Naya langsung tersinggung. "Ini salah satu yang buat aku ragu kita menikah. Aku dan kamu berbeda, kamu nggak akan bisa menerima keadaanku dan sebaliknya aku juga sulit membaur dengan keadaanmu."
Akio mendengus. "Apa yang membuatmu sulit membaur dengan keadaanku?"
"Aku nggak pantes hadir di tengah keluargamu. Harusnya kamu bersama Zee yang sepadan denganmu. Aku dan ibuku hanya akan dianggap numpang hidup. Keadaanku sekarang lebih sulit, aku nggak bisa kerja, tapi kalau aku dan ibu bergantung denganmu, keluargamu akan lebih buruk menilai kami."
"Pikiranmu terlalu jauh. Semua itu hanya pendapatmu sendiri. Keluargaku nggak mungkin seperti itu. Kita sudah menikah, sudah tanggung jawabku menafkahi kamu dan ibumu. Kamu tidak tahu, berapa yayasan yang ada dalam naungan perusahaan daddy. Ada ribuan orang yang dibantu, tapi semua itu bukan beban. Keluargaku tidak pernah merendahkan mereka. Apalagi kamu, kamu istriku, keluargaku tidak mungkin menganggap kalian seperti itu."
"Nay, jangan berpikir pernikahan ini berat untukmu saja. Bagiku ini juga sulit, tapi aku berusaha untuk menjalani. Jangan terus-terusan merasa rendah diri, semua tidak seburuk yang ada dalam pikiranmu."
Dari kejadian Ken meragukan janin yang dikandung, pikiran Naya begitu buruk terhadap Ken. Apalagi sikap ayah mertuanya yang kurang care, menjadikannya lebih rendah diri.
.
.
.
Penasaran tidak, bagaimana mereka akan menjalanI rumah tangga mereka?
__ADS_1
Mari kita mulai perjalanan rumah tangga mereka. Bisakah bersatu dengan damai atau diwarnai perdebatan-perdebatan lainnya. Akankah bahagia atau justru menjadi tekanan batin?
Tunggu dulu, ya, rumah tangga di awal tidak semulus jalan tol. Apalagi mereka bersatu dengan waktu tiba-tiba, pasti butuh penyesuaian. 😊🙏🏻 Bab sebelumnya sudah direvisi ya. Supaya nyambung, kalian boleh baca ulang. Terima kasih.