Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Awal Yang Baru


__ADS_3

Akhirnya hari yang dinantikan tiba, Akio dan Naya pindah ke rumah baru pemberian daddy Ken. Rumah dengan fasilitas tak jauh beda dari rumah Ken sendiri. Besar dan megah, tentunya.


Naya pernah mengungkap penolakannya, tetapi Ken justru marah karena merasa Naya tidak menghargai pemberiannya. Lalu, pada akhirnya Naya tak bisa menolak lagi.


Dan saat ini, semua keluarga mengantar Akio juga Naya untuk melihat isi dalam rumah.


"Dad, terima kasih," ucap Akio sambil meneliti bangunan yang akan ditinggali.


Ken menepuk pundak putranya 2x. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Ini sudah hakmu."


"Dad, terima kasih banyak." Naya ikut mengucap terima kasih. Dan Ken hanya mengangguk.


Di sana juga ada ibu Naya yang ikut mengantar Naya menempati rumah baru. Dalam hatinya, tak henti mengucap syukur karena putrinya mendapat kebahagiaan. Tanpa tahu, hati Naya sebenarnya tidak tenang.


Memasuki rumah itu, semua fasilitas sudah lengkap. Termasuk beberapa pelayan yang ternyata sudah ada di sana.


Acara dilanjutkan dengan makan bersama, setelahnya berbincang-bincang di ruang keluarga. Ibu Naya yang kurang fit, terus menerus terbatuk. Naya meminta izin untuk mengajak ibunya beristirahat di kamar.


"Nay, Ibu lihat badanmu semakin kurus? Padahal orang hamil berat badannya tiap bulan harus naik." Ibu Naya menyadari keadaan putrinya.


"Doakan Nay baik-baik aja, Bu. Naya cuma lelah." Naya mengeluh. Tempat curhat paling aman dan nyaman adalah kepada ibunya, tetapi sejak menikah dengan Akio, dia belum pernah menceritakan apapun. Takut membuat beban pikiran ibunya.


Ibu Naya mengelus rambut Naya. Melihat wajah Naya dengan sudut mata berair.


Sungguh, rasanya Naya ingin memeluk erat tubuh ibunya dan berteriak segala beban yang membuatnya sesak.


"Ibu ...." Akhirnya Naya memeluk ibunya. Dia menangis.


Ibu Naya yang tadi merasa bersyukur kini mendadak cemas. Dia menganggap putrinya bahagia, ternyata tidak.


"Ada apa, Nay? Kenapa? Kamu nggak pernah cerita sama Ibu," berondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Kenapa sangat lama, Bu. Naya ingin segera bebas dari beban dan rasa bersalah ini." Naya mendongak dan menatap mata ibunya. Setelah sedikit tenang, akhirnya dia menceritakan sebagian apa yang dialami.


"Ibu kira kamu baik-baik saja tinggal bersama mereka, tapi ...." Ibu Naya menjeda kalimatnya. Tak tega melihat Naya tergugu, pilu.


"Kalau Ibu tahu, bagaimana pun caranya, Ibu akan bawa kamu pergi dari rumah mertuamu," sambungnya.


"Tapi Nay sudah di sini, Bu. Mungkin bisa sedikit tenang." Naya mulai mengatur napas, dia mengusap pipinya yang basah.

__ADS_1


Ibu Naya belum merespon, tapi suara batuk tak henti-hentinya terdengar.


"Ibu batuk terus. Ibu sakit?" Naya mengambil air putih yang sudah ada di atas meja, dia tak tahu kapan pelayan menyediakannya di sana.


Setelah diminum, batuk mulai mereda. "Ibu nggak pa-pa, Nay. Jangan pikirin Ibu. Ibu yang justru kepikiran sama kamu."


"Tinggal di sini Nay akan lebih baik, Bu. Nay akan mulai berusaha memperbaiki kekecewaan oma dan Kyu."


*


Malam hari.


"Nay, apa ada yang ingin kamu jelaskan dan keluhkan padaku, seperti kamu mengeluh pada ibumu tadi?"


Deg! Naya menoleh, juga mengerutkan dahi. Meski dapat menebak tapi dia berpura-pura tidak tahu maksud Akio.


"Apa selama ini oma dan Kyu tidak bersikap baik padamu?!" Wajah Akio terlihat menahan amarah.


"E-enggak! Me-reka, baik." Naya menjawab terbata.


"Tadi siang aku mendengar kamu mengeluhkan sikap mereka pada ibumu."


"Maafkan aku yang nggak peka dengan keadaan sekitar. Aku berpikir selama ini kamu baik-baik saja." Akio beralih menghapus air mata di pipi Naya. "Apa saja yang dilakukan oma dan Kyu? Mereka mengatakan apa?" cecarnya.


"Enggak. Mereka tidak melakukan yang berlebihan. Perasaanku saja yang sensitif. Kamu tahu sendiri, bagaimana aku akhir-akhir ini sering ngambek nggak jelas." Meski Akio telah mengetahui, Naya masih mencoba berkilah.


"Aku akan bertanya pada Kyu ...."


"Jangan! Nggak usah!" sentak Naya cepat. "Nggak usah diperpanjang. Yang terpenting sekarang kita sudah di rumah sendiri. Aku nggak merasa segan untuk melakukan apapun."


Akio membuang napas kasar. Bagaimana selama ini tidak mengetahui sama sekali tentang perilaku oma dan Kyu pada Naya. Dia semakin bersalah mengingat pesan dokter bahwa ibu hamil tidak boleh banyak pikiran. Mungkin selama ini Naya hanya memendamnya sendiri. Kasihan, Naya sampai terlihat kurus.


"Maaf," ucap Akio lagi. "Untuk ketidakpedulianku juga aku kurang paham mengerti keadaanmu. Maaf juga untuk sikap keluargaku."


Isakan Naya sudah mereda, tetapi mendengar Akio mengucap maaf, membuatnya kembali menitikkan air mata. Mungkin Akio juga memperlakukan Zee seperti ini, lembut dan perhatian hingga Zee juga tergila-gila dengannya.


'Tuhan, jangan permainan perasaanku. Tolong jaga perasaanku.'


Dengan gerakan canggung, reflek Akio membimbing Naya untuk dipeluk. Selama pernikahan mereka, ini pertama kalinya mereka berpelukan. Terlepas dari ketidaksadaran saat mereka tertidur dan tiba-tiba ketika mereka terbangun sudah dalam posisi berpelukan.

__ADS_1


'Aku akan tetap tanyakan ini pada mereka,' batin Akio menggebu.


"Mulai sekarang, ceritakan apapun padaku," pinta Akio. Dia sendiri merasa nyaman dengan pelukan itu.


"Di sini aku akan baik-baik saja, selama kamu tidak akan memaksaku."


"Hei, apa maksudmu? Aku tidak pernah memaksamu." Akio melepas pelukannya.


Naya sedikit mengulas senyum. Wajah sendu mulai berubah bersinar. Dia ingin mengalihkan pembicaraan supaya Akio lupa pembahasan mereka.


"Nah, gitu, dong. Kalau senyum terlihat cantik," puji Akio.


Naya memalingkan wajah, menghindari tatapan Akio. Ditatap secara intens membuatnya malu.


"Tapi jangan malu-malu seperti itu, aku sulit untuk menahan diri. Aku takut memaksamu."


"Ish ...!" Naya bergeser ke tengah ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Melihat itu Akio justru tertawa. Entah mengapa sebahagia itu melihat Naya bisa tersenyum. Apa hatinya sudah merasakan sesuatu. Entahlah ....


*


Menurut Naya, inilah awal perjalanan rumah tangga yang sesungguhnya. Dimana dia harus bangun pagi untuk menyiapkan kebutuhan Akio, lalu dilanjutkan memasak untuk membuat sarapan.


Pelayan sudah melarang Naya memasak sendirian, tetapi perempuan itu tak menggubris. Dia senang melakukannya, juga reaksi tubuhnya tidak terjadi apapun. Dia baik-baik saja, anak dalam perutnya juga baik-baik saja. Bahkan ada perasaan bahagia melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada yang melarang juga mengawasi.


Dari arah tangga terdengar suara langkah seseorang. "Nay, kamu di mana?" Oh ternyata Akio sudah bangun dan mencari keberadaan Naya, karena tidak menemukan Naya di kamar.


"Iya aku disini," jawab Naya sambil berteriak dari arah dapur. Tak lama Akio sudah muncul.


"Hei, kamu ngapain masak?"


"Kalian, kenapa diam saja melihat istriku memasak?!" Akio menatap tajam pelayan yang hanya diam mematung.


"Pagi-pagi udah marah-marah aja! Ini aku sendiri yang pengen masakin sarapan buat kamu," jawab Naya.


"Kenapa harus susah payah masak, kan ada mereka, Nay."


"Huft ...." Naya mengembus napas panjang. "Kamu nggak suka aku masakin?"


"Bukan begitu. Aku nggak mau kamu kelelahan. Kasihan kalau anak kita ikut kelelahan."

__ADS_1


'Bagaimana aku tidak senang dengan perhatianmu, Akio.'


__ADS_2