
Saat Kei sudah dipindah keruang rawat, Ken menunggu disofa dekat ranjang. Mata itu tertutup rapat, wajahnya masih terlihat pucat. Ken menggenggam tangan Kei.
"Kapan matamu akan terbuka, seperti yang aku katakan aku menunggu mu." mencium punggung tangan Kei.
Sekretaris Lee pergi ke Kantor karna ada sesuatu yang harus diurus, Tante Lyra pulang lebih dulu beralasan kurang enak badan.
Tinggal Ken yang menunggu Kei sadar. Sedari tadi tuan muda arogan itu menggerutu kesal sampai saat ini Kei masih belum bangun, tuan muda yang tidak bisa sabar padahal baru 1jam dari waktu yang diperkirakan oleh dokter. Harusnya masih 2jam lagi Kei baru sadar, tetapi sedari tadi gelisah, kesal, menggerutu bahkan memarahi perawat yang datang untuk mengecek kondisi Kei. Mengajukan pertanyaan yang sama, kenapa belum sadar? kapan akan sadar!. Perawat yang mendapat tugas untuk mengecek kondisi Kei benar-benar harus siap mental menghadapi tuan Ken.
Saat perawat sudah pergi Ken kembali memandangi wajah Kei, rasanya sangat lama menunggu mata itu terbuka. Dia tidak sabar ingin berbicara padanya meski sekedar bertanya apa kamu baik-baik saja, atau menggoda wanita itu agar merajuk Ken sangat senang melihat Kei merajuk terlihat lucu dan menggemaskan.
Lelah menggerutu dan menunggu akhirnya Ken tertidur, tangan masih menggenggam jemari Kei. Ruangan itu menjadi sunyi senyap hanya jarum jam yang terdengar.
Mata Kei pelan mengerjap, punggung tangan yang sebelah terasa hangat ternyata Ken masih menggenggam erat. Berganti Kei yang terpaku menatap wajah suaminya, mengangumi pesona tuan muda arogan. Wajah itu nyaris sempurna, mata, hidung, garis bibir yang mempunyai ukuran pas. 'Kamu memang sangat tampan tuan, wanita akan mengagumi pesona wajahmu. Tidak semua orang bisa seberuntung aku yang bisa menjadi istri sah, tetapi lebih beruntung lagi wanita yang bisa mendapatkan cintamu.'
Merasa sedikit kram Kei ingin menggerakkan badannya, tangan yang ada digenggaman Ken harus dilepasnya dengan pelan. Ken merasakan pergerakan itu dan membuka mata.
"Kei, kau sudah sadar?" Ken membenarkan posisi duduknya.
"Iya tuan. Maaf membangunkan anda."
"Tidak, aku memang sudah ingin bangun."
Kei melihat sekitar tetapi tidak melihat siapapun.
"Kau mencari siapa? hanya aku yang menunggu."
"Tidak mencari siapapun tuan, badanku pegal-pegal. Belum bisa terlalu bergerak semua terasa kaku."
"Aku panggilkan dokter." Ken sudah akan berdiri untuk menekan tombol.
"Tidak perlu tuan, sebenarnya aku ingin bersender." mengetahui itu Ken mengatur ranjang tempat tidur Kei.
"Tuan tidak pergi ke Kantor?"
__ADS_1
"Aku sudah bilang akan menunggu mu."
"Terima kasih, harusnya tidak perlu menunggu pasti lama." Ken menghela nafas.
"Aku tenang jika mengetahui kau baik-baik saja."
'Jangan terlena Kei, itu hanya bentuk kepedulian nya padamu.' Kei menyadarkan dirinya sendiri.
Handphone milik Ken berbunyi, Ken menjawab telpon dan berjalan kearah jendela sepertinya dari rekan bisnis. Kei hanya diam kalut dalam pemikirannya.
Dokter dan perawat datang untuk mengecek kondisi Kei.
"Nona sudah sadar, kakinya belum bisa digerakkan." ucap dokter.
"Belum dok, masih belum terasa." Kei masih lemas.
"Nanti setelah efek obat bius tadi hilang luka bekas operasi akan terasa panas dan nyeri, untuk masa pemulihan masih harus disini 4hari lagi."
"Hah... kalian bisa pindah." Ken yang sudah selesai menutup telpon ikut menjawab.
"Kenapa 4hari disini. Apa Kei tidak bisa pulang dan dirawat dirumah saja." dokter dan perawat saling pandang.
"Pasien yang baru selesai operasi memang membutuhkan waktu pemulihan sedikit lama tuan, jika disini kami bisa setiap saat memantau kondisi Nona." Ken berdecak kesal tidak sesuai keinginannya. Dokter berpamitan untuk pergi, Ken masih menggerutu. Kei merasa bersalah karna sudah merepotkan.
"Maaf.." ucap Kei membuat Ken menghentikan gerutuannya.
"Untuk?"
"Karna gara-gara aku anda kerepotan, anda tidak perlu menemani ku." lagi Ken menghela nafas. 'Kenapa wanita susah sekali mengerti.'
"Pertama kamu tidak merepotkan! kedua, aku tetap akan menemanimu." Ken menatap tajam, menginginkan Kei mengerti. Kei yang tidak mau berdebat lebih baik diam, biarkan saja tuan muda arogan tidak terbantahkan itu bertindak semaunya.
Jam terus berputar waktunya makan malam, Ken mengambilkan makanan untuk Kei dan menyuapinya.
__ADS_1
"Makanlah.." Kei membuka mulut dan memakan bubur yang disiapkan untuknya.
"Tuan, boleh aku meminta sesuatu." Ken melihat kearah Kei.
"Tolong jangan terlalu peduli dengan ku." Ken memejamkan mata sebentar, permintaan macam apa itu!.
"Apa maksut mu!" bertanya tegas.
"Seperti sebelumnya, pernikahan kita tidak berjalan normal seperti yang lain jadi... aku minta sikap tuan tidak perlu terlalu baik seperti ini." Ken berdecak.
"Pernikahan normal seperti apa yang kau inginkan!" memandang tajam. Kei menggigit bibirnya, tidak berani membalas pandangan Ken. 'Pernikahan yang bahagia tuan, keduanya saling memiliki perasaan tidak seperti kita yang tidak tau arah tujuan pernikahan kita akankah bertahan lama atau hanya akan kandas ditengah jalan. Sampai saat ini aku belum tau perasaan mu, aku takut menyalah artikan kebaikan yang kamu tunjukkan.'. Melihat Kei terdiam dan menunduk, Ken yang tadi emosi meredamnya pelan. Dia tau saat ini kondisi Kei belum stabil, jika wanita itu merajuk Ken sangat senang dan gemas. Tetapi wanita itu bersedih, dia tidak tega melihatnya seperti itu.
"Habiskan makanmu." suara Ken lembut dan menyuapinya lagi. Kei tak lagi membahas permintaanya tadi, mungkin waktunya belum tepat.
"Anda tidak pulang?" makanan sudah habis Ken memberikan segelas air putih.
"Bagaimana aku pulang jika kamu disini."
"Aku tidak apa-apa, aku sudah terbiasa sendiri tuan."
"Ok, baiklah.. kau yang menyuruhku pulang. Aku akan pulang." Ken berdiri dan berbalik menuju kepintu.
"Ah... sebelum pulang aku hanya ingin mengatakan, tadi pagi ada korban kecelakaan yang meninggal. Dan aku senang kamu menyuruhku pulang." dengan santai Ken berjalan keluar kamar. Bola mata Kei melotot, menengok ke kanan dan ke kiri. Dengan cepat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tentu saja takut mendengar ucapan tuan Ken tadi. 'Kurang ajar kau tuan, kau berhasil membuatku takut! selama ini aku hidup sendiri tidak ada yang aku takutkan. Kau pasti sengaja menakut-nakutiku. hik..hik... bagaimana ini, aku benar-benar sendiri.'.
Pelan sekali Ken kembali masuk. 'Sangat menyenangkan jika menjahilimu.' Ken tersenyum puas.
"Hem..."
"Aaaa'.... ampun setan! jangan menggangguku...kasihani aku yang hanya sendirian." didalam selimut Kei sudah gemetaran, takut sekali mendengar deheman seseorang padahal diruangan itu hanya dia sendiri. Mulut Kei komat-kamit membaca do'a.
'Sial!! aku dikira setan.' Ken mengumpat dalam hati. Tetapi kembali tersenyum lebar melihat Kei ketakutan menutup tubuh dengan rapat.
"Berani sekali kau mengatakan aku setan!" Kei membuka selimut.
__ADS_1
"Tu tuan?" Kei bernafas lega menghirup udara sebanyak-banyaknya.