Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Bertemu


__ADS_3

Usai menceritakan kisah masing-masing, Zee memutuskan untuk pulang ke apartemen. Dari cerita Faskieh barusan, sekarang dia tahu alasan pria itu menerima tawaran dari ayahnya. Tersentuh, tentu saja hati Zee tersentuh dengan kisah kesetiaan Faskieh terhadap kekasihnya. Lantas sekarang Zee tak lagi menyuruh Faskieh untuk kembali ke Indonesia. Membiarkan pria itu bertahan sebagai bodyguard-nya.


Akan tetapi dia mengajukan persyaratan agar pria itu tidak terlalu merecoki. Hanya ketika dia membutuhkan bantuan saja Faskieh harus membantu.


Zee berjalan menuju bangunan apartemen yang ditinggali, dengan Faskieh membuntuti di belakang. Pria itu ingin pergi ke sewa apartemennya sendiri. Yang memang terletak di depan apartemen Zee.


Zee menghentikan langkah mengetahui ada seseorang tengah duduk membungkuk di depan apartemen miliknya. Dia tidak mengenali siapa orang itu karena posisinya sedang menelungkupkan wajah.


"Siapa, ya?" tanyanya.


Faskieh yang berjalan tepat di belakangnya otomatis ikut terhenti. Penglihatannya sama seperti Zee, dan dia mengendikkan bahu karena juga tidak tahu. "Mungkin temen Kakak," jawabnya.


Zee lanjut berjalan, semakin dekat, rasanya dia tidak asing dengan perempuan itu. Langkahnya semakin mendekat dan mendekat ....


Seseorang itu mendongak. Dan ... keduanya sama-sama terpaku di tempat. Sudut matanya sama-sama memproduksi kristal bening. Sama-sama mengaburkan penglihatan mereka. Jantung mereka sama-sama berpacu lebih cepat.


Hanya satu yang membedakan yaitu, emosi jiwa masing-masing. Zee dengan segala kemurkaan, kekecewaan dan kebencian. Sedangkan Naya dengan sebuah rasa bersalah dan penuh pengharapan.


"Zee ...."


"Pergi kamu!!!"


Panggilan Naya di balas sebuah pekik tertahan dari Zee. Keduanya sama-sama meneteskan air mata. Di tengah-tengah mereka ada Faskieh yang jelas kebingungan dan keterkejutan.


"Zee, aku ingin bicara denganmu," pinta Naya.


"Aku tidak mau dan tidak sudi bicara denganmu. Pergi sekarang juga!" usir Zee dengan kemarahan.


Naya menelan ludah bulat-bulat. Dia sudah membayangkan hal ini akan terjadi. Siapapun akan bereaksi sama bila bertemu orang yang paling di benci. Ini salahnya, dia yang telah menyakiti Zee. Dia pantas mendapat kebencian seperti ini.


"Aku mohon ...."

__ADS_1


"Pergi Nay! Apa kamu kurang puas menyakitiku sampai kamu harus menyusul ku ke sini!? Kamu ingin memamerkan kebahagiaanmu sudah berhasil merebut kak Io! Kurang puas kamu. Hah?!" Kedua tangan Zee terkepal erat. Bukti perempuan itu menahan amarah sekaligus sebuah kesakitan tak kasat mata.


"Tidak Zee. Aku akan jelaskan. Ku mohon beri aku kesempatan bicara."


Faskieh terdiam dengan jarak beberapa meter dari keduanya. Melihat dan mendengar keributan mereka, dia mulai tahu siapa perempuan yang datang dengan perut buncit itu. Dia mengawasi, tetapi bila keributan mereka semakin tegang, dia akan melerai.


"Aku tidak mau memberimu kesempatan, karena apa yang akan kamu jelaskan menyakitiku. Kamu tidak tahu, bagaimana aku mencoba melupakan kesakitan ku. Dan sekarang kamu justru datang padaku. Apa maumu, Nay! Belum puas kamu menyakitiku?"


Naya melangkah mendekati Zee dan mencoba memegang tangannya untuk memohon. Namun Zee jelas mengibaskan tangan dengan kasar. Gerakannya sampai membuat Naya mundur. Naasnya tidak bisa menjaga keseimbangan lalu terjatuh.


"Au' ...," rintihnya dengan memegangi perut yang seketika terasa kencang.


"Kak ... jaga emosi. Dia sedang hamil, jangan sampai terjadi sesuatu dengan bayinya. Kakak bisa terjerat hukum di negara orang." Faskieh mendekat dan memberi peringatan pada Zee untuk lebih menjaga diri dan tidak berbuat keras.


Selain ada setitik rasa kasihan kepada perempuan hamil, dia wajib mengingatkan Zee untuk tidak bertindak bodoh.


"Aku tidak peduli. Seperti dia juga tidak peduli saat aku terjatuh dan tersakiti lebih dari apa yang aku lakukan saat ini," ucap Zee datar.


Naya sendiri pun tidak tahu ada cairan merah pekat keluar dari hidungnya. Dia menyentuh bagian atas bibir dan jemarinya terdapat noda merah. Dia segera membersihkan dengan ujung baju yang dipakai.


Kepalanya berdenyut tetapi tak dihiraukan. Saat ini tidak mau menyiakan waktu, dia harus berhasil membuat Zee untuk bicara empat mata. Bicara dari hati ke hati.


*


Hening. Detak jarum jam terdengar mencekam dengan atmosfer masih terasa dingin di antara dua perempuan yang saling berhadapan.


"Dari mana kamu tahu aku di sini?" tanya Zee dengan suara masih tidak suka.


"Dari seseorang. Tapi aku tidak bisa mengatakan siapa dia."


"Hanya beberapa orang yang tahu aku di sini. Aku hanya menebak dari mereka."

__ADS_1


Zee melirik Naya sekilas. Perempuan itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali dia melihatnya.


"Dengan siapa kamu datang ke sini?" Jika bersama Akio, di mana pria itu, kerena dia tidak melihatnya sama sekali.


"Aku datang sendiri."


Zee mengernyit, tidak mempercayai jawaban Naya. Mana mungkin perempuan itu datang sendiri ke negara ini. Sungguh aneh. Apa tujuan Naya sesungguhnya. Dia tidak bisa menebak.


"Apa tujuanmu? Cepat katakan!" Semua tak membuat Zee melunak. Kemarahan dan kebenciannya masih besar terhadap Naya. "Kalau kamu datang hanya ingin meminta maaf. Sampai kamu mengemis pun aku tidak memaafkanmu," sinis nya.


"Untuk maaf, aku sadar diri dengan kesalahanku. Aku mungkin memang tidak pantas mendapat maaf darimu. Tapi tujuan utamaku bukan itu ...."


"Aku mencarimu sampai ke sini, hanya ingin memintamu untuk kembali pada Akio."


Zee tertawa meledek. "Kamu sudah gila?!" cibirnya. Permintaan Naya sungguh tidak masuk akal.


"Aku memang sudah gila. Dan aku gila karena rasa bersalahku padamu," sambung Naya.


Zee melengos, muak dengan kepandaian Naya dalam berakting. Dia sulit mempercayai perkataan di luar.


"Kamu memang pantas hidup dalam rasa bersalah. Bahkan sampai kapanpun kamu akan dihantui perasaan itu. Semua sangat pantas untuk perempuan yang tega menghancurkan pernikahan perempuan lain," tuding Zee dengan dada bergemuruh.


"Semua ketidaksengajaan, Zee. Aku hanya menggantikan posisimu untuk sementara. Aku bisa pastikan, selama aku menikah dengan Akio. Kami tidak melakukan apapun. Aku hanya mencari status untuk calon anakku."


"Ketidaksengajaan? Ketidaksengajaan bagaimana sampai kamu hamil anak kak Io?"


"Zee, selama aku menikah, aku selalu berpikir Akio bukanlah milikku, dia tetap milikmu. Setelah anak ini lahir, aku sudah berencana untuk menitipkan anak ini padamu dan aku akan pergi jauh dari hidup kalian."


Zee terdiam. Dia mengira Naya sedang merencanakan sesuatu, tetapi perempuan itu terlalu serius. Benar-benar sulit ditebak.


"Kamu kira semudah itu? Apa setelah kamu mengembalikan kak Io padaku, semua masih sama? Enggak! Hatiku, rasa sakit ku akan tetap ada. Kamu tidak perlu menjadi sok baik dengan mengembalikan kak Io padaku. Bagiku kamu tetap wanita rendahan."

__ADS_1


"Hina aku semaumu. Untuk apa aku berlaku baik, aku juga tahu, kamu dan orang yang memandang dengan kesalahan akan tetap menilai ku buruk."


__ADS_2