
Akio masih bergeming di depan pintu kamar. Dia soroti tubuh Naya yang masih nyaman dalam tidurnya. Untuk saat ini nyaman, tapi beberapa menit lagi, di saat dia memberitahukan kabar duka, kenyamanan itu akan berubah kesedihan.
Dia menelan ludah bulat-bulat, rasanya lidah begitu kelu untuk memanggil Naya dan membangunkan dari tidur lelapnya. Sungguh tidak tega untuk memberitahukan kabar duka tersebut.
Fokus Akio beralih pada ponsel di atas meja, dari jarak dia berdiri dapat terlihat layar ponselnya menyala. Bisa ditebak itu pasti mommy yang menghubunginya. Dia berjalan pelan untuk mengambil ponsel dan menjawab telepon.
"Mom?"
'Io ... ya Tuhan ... ibunya Naya ....' Kei tidak melanjutkan kalimatnya. Dia yakin putranya pasti sudah tahu.
"Innalillahi wa'inaillaihi rajiun ... Mom, Io bingung harus bagaimana memberitahu Naya soal ibunya," ujar Akio selirih mungkin. Dia takut Naya terbangun karena mendengar suaranya.
'Beritahu secara pelan, Io. Bagaimanapun Naya harus segera diberitahu. Dan ... kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, Nak. Waktu Naya mendengar ibunya koma, dia langsung drop. Apalagi sekarang kalau tahu ibunya sudah meninggal. Mom juga sangat mengkhawatirkan Naya,' ucap Kei panjang lebar.
"Io akan coba beritahu Naya pelan-pelan. Mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk. Mom tolong tunggu dulu di rumah sakit, tunggu Io dan Naya datang," pinta Akio.
'Iya. Mom juga sudah menelpon daddy-mu, sebentar lagi akan datang.'
Setelah telepon di matikan, Akio dikejutkan dengan teriakan Naya yang sepertinya mengigau tentang ibunya.
"Ibu ... Nay, ingin ikut ibu. Jangan tinggalin Nay, Bu! Ibu ...!"
"Nay ... Nay! Bangun!" Akio menggoyangkan bahu Naya pelan.
"Ibu ...!" Naya yang terkejut langsung terbangun. Natranya di suguhkan pemandangan wajah Akio. Lalu beberapa detik dia mengedar seluruh ruangan, dia baru ingat sedang tidur di rumah.
"Aku cuma mimpi," ucapnya.
"Kamu mimpi apa?"
"Seperti kemarin, aku mimpi ibu mau pergi jauh. Ya Tuhan ... aku bener-bener takut. Perasaanku nggak tenang sama sekali." Naya bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Ini jam berapa? Sepertinya aku tertidur lama banget. Ayo, ke rumah sakit lagi," ajak Naya.
Akio tak bergeming, lidahnya benar-benar kelu untuk memberitahu.
Naya yang menyadari itu segera bertanya. "Ada apa?"
Akio tiba-tiba mendekat dan mendekap Naya dengan erat. "Nay, jangan sedih. Aku sekarang suamimu, aku janji nggak akan biarin kamu sendirian. Aku yang akan menjagamu."
Naya tak membalas pelukan Akio, dia justru bingung dengan sikap Akio yang menurutnya aneh.
__ADS_1
Akio melepas dekapannya dan memegang kedua bahu Naya. "Kamu sayang nggak dengan bayimu?"
"Apa sih, dari tadi aku nggak jelas kamu bicara apa?" bingung Naya. "Jelaslah aku sayang dengan bayiku."
"Kamu nggak mau kan dia kenapa-napa?"
"Ada apa, sih?"
"Aku ingin memberitahumu, tapi aku takut kamu nggak bisa menahan diri."
"Memberitahu apa?" Lama-lama Naya mulai kesal dengan penjelasan Akio yang berbelit-belit.
"Ibu, Nay ...."
"Ibu? Ibu kenapa?!" Dari sini hati Naya mulai berdebar. Ada apa dengan ibunya? Apakah terjadi sesuatu buruk! "Ibu kenapa?! Kenapa diam? Ibu kenapa?"
"Aku beritahu, tapi ku mohon kendalikan dirimu. Ingat, di dalam perutmu ada calon anak kita."
"Cepat katakan ada apa?"
"Ibu ... sudah pergi dengan tenang, Nay."
Deg ... deg .... Tubuh Naya melemas. Kedua bola mata dipenuhi cairan bening membuat pemandangannya seketika mengabur.
"Kenapa kamu tega bilang ibu sudah pergi dengan tenang? Kamu mau menyakitiku?" ucapnya lagi.
"Pembuluh darah ibu pecah dan ibu tidak tertolong. Ikhlas, Nay, biarkan ibu pergi dengan tenang."
"Enggak, Akio! Aku bilang enggak! Ibu nggak mungkin tega ninggalin aku sendiri. Aku cuma punya ibu, aku nggak punya siapa-siapa lagi." Naya mulai histeris.
"Ada aku, Nay. Kamu punya aku."
"Aku nggak punya siapapun. Kamu punya Zee, bukan punyaku. Bukan!" Akio kembali memeluk Naya. Membiarkan Naya menangis menumpahkan segala kesedihan.
Siapapun yang berada di posisi Naya, semua akan merasakan kehilangan dan kesedihan yang sama.
*
Di rumah sakit.
Oma Lyra bersama Kyu baru saja tiba di pelataran rumah sakit. Nenek dan cucunya itu langsung masuk dan menanyakan ruang rawat ibunya Naya. Setelah diberitahu, keduanya segera memasuki lift untuk menuju lantai teratas.
__ADS_1
Ketika keluar lift dan dari lorong, Kyu juga oma Lyra dapat melihat Kei duduk di ruang tunggu sambil menunduk.
"Itu Mom," ucap Kyu. Keduanya mendekat.
"Kei ...," panggil oma Lyra.
Kei mendongak. "Mi, ibunya Naya meninggal," dia langsung memberitahu.
"I-ibunya Naya meninggalkan?" ulang oma Lyra.
"Iya. Satu jam lalu ibunya Naya mengembuskan napas terakhir. Maaf, Kei sampai belum sempat menghubungi Mami. Kei cuma sendiri, Akio dan Naya baru pulang."
"Ya Tuhan ... ibunya kak Naya meninggal, Mom?" sela Kyu bertanya.
"Iya, sayang," jawab Kei.
*
Langit mendung menurunkan rintik air dengan ritme panjang. Sepanjang kesedihan Naya yang harus mengikhlaskan kepergian ibunya untuk selama-lamanya.
Beberapa kali perempuan itu sempat tak sadarkan diri, hingga saat terakhir, dia harus menegarkan hati untuk ikut di proses terakhir pemakaman ibunya.
Akio selalu mendekap tubuh Naya. Sesekali membisikan kalimat penenang. Meski dia tahu, kesedihan Naya tidak akan luntur begitu saja, setidaknya dia terus mengingatkan Naya agar ingat akan kondisinya yang sedang hamil.
Tes ... tes ....
Rintik hujan bersama rintik air mata bersamaan berjatuhan. Bibir Naya terkatup rapat, namun hatinya tak henti bersuara.
'Kenapa ibu harus pergi secepat ini? Setelah nanti Nay berpisah dengan Akio, Nay akan hidup dengan siapa? Ibu bahkan belum melihat dan menggendong cucu ibu. Maafin aku, belum bisa membahagiakan ibu. Doakan Nay kuat untuk menjalani hidup selanjutnya.'
"Ayo, pulang."
Naya melirik sekilas, dia tidak sadar ternyata orang-orang sudah mulai membubarkan diri. Hanya dia, keluarga Akio dan keluarga Zee yang masih berada di makam ibunya.
"Nay, sudah hampir petang, ayo kita pulang, Nak," ucap Kei ikut membujuk.
"Mommy, Daddy, Oma dan Kyu, pulang duluan saja. Nay masih ingin di sini."
"Nggak pa-pa, Mom, biar aku temenin Naya dulu. Kalian pulang saja," sahut Akio.
Kei mengangguk. "Jangan terlalu lama, hujannya semakin deras," pesannya.
__ADS_1
Setelah semua pergi, tinggal mereka berdua. Hening, tak ada pembicaraan apapun. Naya tak lepas melihat batu nisan bertuliskan nama ibunya. Hati dilingkupi rasa sesal, kenapa dia tak ada di samping ibunya saat terakhir ibunya mengembuskan napas.
Dia kembali ke rumah sakit setelah sang ibu sudah terbujur kaku. Sesal hanya tinggal sesal, andai tidak memikirkan calon anaknya, mungkin saat ini dia memilih pergi bersama ibunya.