Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Dialah Sultannya.


__ADS_3

Memasuki kehamilan bulan ke-9 adalah saat mendebarkan bagi calon ibu. Masa yang diselimuti rasa takut, tinggal menghitung hari untuk ber- jihat melahirkan putra atau putri yang didamba.


Bertaruh nyawa dalam ketidakpastian. Tapi itulah kodrat seorang wanita, menjadikannya derajat tinggi.


Surga ada dibawah telapak kaki ibu, itu Benar. Sepadan dengan perjuangannya.


Dari terakhir kali berdebat dengan tuan Ken, akhirnya tuan muda itu melepas kungkung-an yang menjerat sang istri.


Menyetujui keinginan Kei yang ingin bet rest dirumah. Meski didalam rumah tidak melakukan aktivitas bebas, setidaknya ibu hamil itu tidak harus berbaring diranjang kesakitan.


Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, tuan Ken benar-benar menjaga Kei dengan ektra ketat. Disela-sela kesibukan Kantor selalu menyempatkan diri menghubungi Kei setiap satu jam sekali.


Bukan hanya ibu hamil yang memiliki ketakutan tinggi, justru tuan Ken lebih-lebih merasa takut.


Hari weekend, calon ibu dan ayah sedang bersiap. Mereka akan pergi ke Mall, membeli perlengkapan bayi.


Sejak kandungan Kei memasuki usia 7bulan, sudah ada rencana untuk membeli kebutuhan anaknya, tapi saat itu harus tertunda karna kesehatan sang Ibu yang menurun.


Sampai didepan parkiran, sekretaris Lee membuka pintu untuk kedua majikannya. Ia segera menyiapkan kursi roda untuk nona Kei.


Kursi roda? apa Kei tidak bisa berjalan? jawabannya, Bisa. Tuan Kendra tidak akan membiarkan sang istri berjalan mengelilingi bangunan Mall yang luas.


Didepan umum tuan Ken sama sekali tidak merasa malu harus mendorong kursi roda Kei.


Ia tak memusingkan tatapan orang-orang sekitar.


Beberapa pengawal mengikuti dibelakang, menjaga keamanan tuan dan nona muda.


Mata Kei berbinar saat memasuki toko yang menyediakan baju bayi. Baju yang dipajang terlihat imut dengan berbagai motif gambar dan warna yang menarik.


Mengambil baju bergambar tokoh kartun, dan lainnya. Hanya sekejap troli belanjaan itu sudah penuh.


Tuan Ken membiarkan Kei memborong semua baju bayi, ia tak pandai untuk urusan itu.


Tetapi ada beberapa baju yang menyita perhatian mata tuan Ken. Ia mengambil beberapa potong dengan warna yang berbeda dan memasukan kedalam troli.


Keranjang itu sudah hampir tidak muat, semua penuh dengan baju bayi saja, padahal perlengkapan yang lain belum diambil.

__ADS_1


Kei melihat keranjang troli dan terkejut. Ternyata keasikan berbelanja sampai semua diambil. "Sayang, maafkan aku. Lihatlah, semua aku borong." ucap Kei. Mendongak menatap suaminya.


Apalagi yang diberikan tuan Ken selain senyuman. "Tidak pa-pa Honey, kau ingin menghabiskan seisi Mall aku mampu membelikannya untukmu. Mall ini milikku."


Kei membuka mulut, ia terkejut mengetahui tempat perbelanjaan terbesar yang ia kunjungi ternyata milik suaminya. Benar-benar keturunan sultan?


Pantas saja para pegawai menunduk hormat saat melihat keberadaan mereka.


Kei hanya mampu menggelengkan kepala, entah berapa lagi kekayaan tuan Ken yang tidak ia ketahui.


"Wah... benarkah Mall ini milikmu? suamiku benar-benar seorang sultan." kata Kei dengan wajah kekagumannya.


Tuan Ken tergelak, istrinya sendiri tidak mengetahui kekayaan yang dimiliki. Bahkan orang lain saja berlomba-lomba menghitung jumlah aset keuntungannya.


"Wajahmu sangat lucu, sayang." sudut bibir tuan Ken masih terdapat senyuman.


"Kenapa kau tertawa? pasti wajahku terlihat bodoh?" Kei cemberut.


"Sedikit."


Penjaga toko terus memperhatikan 2orang penting, sebelumnya tuan Ken jarang menunjukan diri dihadapan umum. Ketika datang ke Mall selalu lewat jalur khusus dan langsung menuju kelantai atas untuk mengecek keadaan Mall.


Tuan Ken bukan orang sembarangan, sangat menjaga identitas diri didepan publik. Mengingat, setiap saat banyak musuh yang ingin menjatuhkan dirinya.


"Berati, aku masih boleh memilih barang?" tanya Kei, kedua bola mata yang masih haus dengan perlengkapan bayi.


"Ambil yang kau inginkan. Biar pelayan yang akan mengemas dan mengirim kerumah kita." tuan Ken menjawab santai, baginya itu semua belum ada seujung kuku untuk menghabiskan harta yang dimiliki.


Kei meminta didorong menuju deretan kereta bayi, padahal barang itu masih lama untuk digunakan. Tapi Kei sudah sangat ingin menyiapkan segala sesuatu dengan kelengkapan sempurna.


Tuan Ken menuruti, kini sudah berpindah dideretan troli bayi yang berjajar rapi dengan kwalitas super unggulan.


Kei memilih warna biru langit, ia menyukai warna itu.


Tapi tuan Ken menggeleng, ia lebih suka dengan warna merah yang melambangkan keberanian.


"Tidak ada hubungannya dengan keberanian! kau ini ada-ada saja, anak kita menggunakannya saat bayi, tidak ada sangkut paut dengan keberanian!" Kei terlihat kesal, keduanya kekeh dengan keinginan masing-masing.

__ADS_1


"Ya sudah kita beli saja dua-duanya," kata tuan Ken. Malas berdebat hanya untuk urusan sepele.


"Beli dua-duanya untuk apa? kita hanya membutuhkan satu." jiwa kesederhanaan Kei tidak berubah, meski memiliki suami tajir melintir ia tetap berpikir, jika barang yang dibeli tidak terlalu bermanfaat maka akan mubazir. Dan lagi untuk ukuran kereta bayi dibandrol dengan harga 50juta, menurut Kei itu sudah harga yang fantastis.


Tuan Ken menyetujui pilihan Kei, memilih warna biru langit. Tapi ketika istrinya sedang sibuk melihat-lihat yang lain, ia mendekati pelayan dan memesan sesuai keinginannya yang tadi. Ia harus sembunyi memesan kereta bayi sesuai pilihan yang ia mau, agar Kei tidak marah. Ketika barang sudah sampai dirumah, tidak mungkin istrinya akan menolak.


Perlengkapan yang diinginkan istrinya sudah terpenuhi, tuan Ken mengajak Kei untuk pindah kelantai atas untuk beristirahat sebentar.


Diruang atas lengkap dengan segala sesuatu, tuan Ken menyuruh Lee untuk membawakan makanan. Lee sudah paham makanan apa yang dikonsumsi ia dan istrinya.


Kei masih tak bisa menutupi kekaguman dan keterkejutan. Dari atas ia bisa melihat bangunan gedung tinggi lainnya.


Jika takdir tak menyatukan dia dan tuan Ken tidak mungkin ia bisa berada disini, tidak bisa menikmati kemewahan ini.


Tuan Ken memeluk dari belakang, "Apa yang kau pikirkan?" berbicara disamping telinga Kei. Membuat Kei merinding.


"Aku sedang memikirkan kebaikan Tuhan yang mempertemukan kita. Saat ini, aku benar-benar bahagia memiliki suami sepertimu. Terima kasih untuk segala yang kau berikan, membahagiakanku dengan sepenuh hati." bulir cairan bening menetes, tak kuasa merasakan kebahagiaan.


"Segala yang ku miliki juga milikmu, apapun yang bisa kuberikan akan kuberikan padamu dan buah hati kita. Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajibanku membahagiakanmu."


Keduanya larut dalam perasaan bahagia, bibir yang sudah bertautan dengan menjalar kehangatan.


"Hem..." sekretaris Lee dengan beberapa orang sudah berdiri dibelakang mereka.


Kedua insan yang saling menikmati candu harus menghentikan kegiatan itu. Kei menunduk malu.


"Lee, kau mengganggu!" tuan Ken sudah berdiri dan menatap tajam.


"Maaf tuan muda, saya kurang tepat memperhitungkan waktu." Lee menunduk, takut dengan tatapan tajam dari tuan Ken, seperti singa yang siap menerkam musuh.


Tuan Ken mendengus sebal, ia tidak suka ada yang mengganggu.


Tapi ia juga lupa, bahwa dia sendiri yang menyuruh menyiapkan makanan.


Bagaimanapun itu, ia tak dapat disalahkan.


Dialah sultannya.

__ADS_1


__ADS_2