
Telah sampai didepan rumah Ken keluar dengan terburu-buru. Ia sudah tidak betah berada didalam mobil yang penuh bau seblak dan begitu menusuk indra perciumannya.
"Tuan Muda, ini pesanan Nona Kei tertinggal." Lee menghentikan langkah Ken. Ia menenteng plastik putih berisi seblak dan disodorkan didepan Ken. Tubuhnya yang lelah berharap bisa pulang lebih cepat.
"Apa-apaan kau ini. Aku tidak suka dengan aromanya. Singkirkan itu jauh dari ku. Kau yang bawa dan berikan pada Kei." perintahnya.
Tuan Ken sudah lebih dulu berjalan masuk, Lee mengikuti dibelakang.
Pelayan menyambut kedatangannya, tapi Ken acuh dan melewati begitu saja.
Menuju kekamar dan membuka pintu.
Pemandangan yang dilihat apalagi jika bukan berhias. Wanitanya itu senang sekali berada didepan cermin dan menatapi pantulan dirinya. Menjajal semua merk make up dan alat-alat untuk membentuk model rambut. Tapi berhasil, Kei yang sekarang lebih cantik, terlihat fres dan berpenampilan modis.
"Sayang, kau sudah pulang?" Kei berbalik dan menatap Ken yang berdiri didepan pintu dengan menggelengkan kepala.
"Iya. Aku pulang dan kau tidak menyambut ku?" Ken berjalan mendekat dan mencium candunya.
"Kau sangat wangi, Aku suka." ucapnya. Kedua wajah yang hampir menempel, hanya kurang beberapa centi keduanya saling bersatu.
Kedua tangan Kei terulur dibelakang leher Ken. Memejamkan mata, seolah ingin lebih dulu menciptakan ciuman panas. Padahal hal itu biasanya Ken yang memulai, tapi saat ini Kei lah yang lebih agresif.
Ia tak menyadari keberadaan orang lain yang sedang membeku didepan pintu.
Ken yang menyuruh masuk juga melupakan sosok sekretaris nya.
"Heeeemmmm...." deheman panjang keluar dari mulut Lee. Memandang lurus tanpa mau melihat kearah kedua orang yang tak berperasaan itu.
Kei segera melepas rengkuhannya dan mundur beberapa langkah. Ia terkejut mendengar seseorang berdehem, tak tau jika ada orang lain yang menyaksikan aksinya. Malu. Kei sangat malu, ia pasti terlihat agresif.
"Ah... Lee, kau mengganggu saja." terdengar decakan diakhir kalimat. Ken memandang Lee kesal.
"Jika anda tadi menyuruh saya pulang, keberadaan saya tidak akan mengganggu anda." Lee menjawab dengan nada santai. Padahal dalam hati menyimpan kekesalan yang teramat. Ia menyesal ikut masuk kedalam kamar dan melihat adegan yang membuatnya iri.
Iri? tentu. Selama Dewi hamil anak kedua, nasibnya mengalami kemalangan karna Dewi tidak mau didekati dirinya. Sekuat tenaga ia menahan diri tidak memaksakan kehendak pada istrinya. Tapi berbeda dengan Dewi, jika dia yang menginginkan maka harus dituruti dan selalu meminta servise dobel. Adegan itu pun sangat minim, jarang sekali Dewi meminta jatah. Membuat batinnya tersiksa. Ia pun mengupayakan agar dokter memberi solusi, tapi diberi kata sabar. Padahal kata sabar itu tidak tau sampai kapan akan bertahan.
"Kau bisa diam dan menutup matamu, Lee." Ken berkata sinis.
Lee menghembuskan nafas pelan. "Maaf Tuan Muda, saya tidak kepikiran."
__ADS_1
"Huh..." Ken mendengus sebal.
Tidak menghiraukan tuan mudanya, Lee ingin segera diberikan bungkusan seblak kepada Kei agar dirinya bebas segera pulang.
"Nona, ini seblak pesanan Anda." kata Lee. Ia menunjukan didepan Kei.
"Seblak?" ulang Kei seperti orang sedang berpikir. "Tapi aku sudah tidak ingin makan itu," jawabnya tanpa rasa bersalah.
'Oke, fix. Aku yakin Nona Kei pasti hamil lagi. Ini persis seperti sikap Dewi yang menginginkan sesuatu tapi dalam hitungan detik tidak mau lagi.' Lee membatin.
"Kalau begitu seblak ini biar saya buang. Dan sekalian saya ingin pamit pulang." Lee ingin berbalik badan.
"Tunggu!" secepatnya Kei menghentikan.
Lee kembali menghadap Kei dan Ken, sebelah alis itu terangkat, menandakan ia sedang bingung. Kenapa dirinya dicegah?
"Kalian berdua duduklah disana," perintah Kei.
Dari posisi kejauhan, Lee dan Ken saling menatap kebingungan. Untuk apa mereka berdua harus duduk bersama?
Tapi keduanya menurut dan duduk diatas sofa.
"Lee, kau kau suntuk. Wajahmu semakin terlihat tua." kata Ken.
"Saya memang sudah tua, Tuan. Sebentar lagi anak saya sudah 2." jawab Lee.
Tak butuh waktu lama kedua pelayan sudah membuka pintu dan membawa alat makan seperti perintah nona mudanya.
Kembali Kei menyuruh untuk memindahkan seblak kedalam mangkuk.
Setelah selesai, ia mengambil dua sendok dan diberikan pada dua pria yang menatapnya dengan pandangan aneh. "Aku ingin melihat kalian makan seblak itu." memerintah dengan nada santai.
Ken dan Lee melebarkan kelopak mata. Terkejut dengan perintah Kei barusan.
"Apa maksudmu, Honey?" Ken tidak percaya. Ia harus memastikan bahwa perintah Kei barusan hanyalah candaan. Tidak mungkin dirinya makan makanan mengerikan itu.
"Apa kurang jelas! Aku ingin melihat kalian makan itu," ulang Kei.
"Kau jangan becanda. Tidak mungkin aku makan makanan seperti ini, bahkan baunya saja bikin aku mau muntah." Ken menolak keras. Sungguh, demi apapun ia tidak mau makan seblak itu. Kuah orange kemerahan membuatnya bergidik.
__ADS_1
Lee nampak terkejut tapi kembali biasa. Meski reaksinya sama seperti tuan Ken, tapi demi mendapat izin pulang maka apapun akan segera dilakukan.
"Kau tidak mau melakukannya? kau tidak lagi sayang padaku? kalau begitu aku pergi saja,"
'Cih... mengancam lagi, mengancam lagi. Aahk'..' dalam hati Ken berteriak frustasi. Ia yakin ada yang tidak beres pada Kei. Meski tidak mau, tapi apa boleh buat. Kelemahannya adalah tangisan Kei. Ia tak akan tega melihat istrinya menangis.
"Lee, kau duluan yang makan."
"Saya?"
Ken mengangguk.
'Selalu saja, apapun yang tidak enak pasti harus aku duluan.'
Lee mengarahkan sendok, tapi gerakannya terhenti. Ia tidak yakin dengan makanan yang akan dimakannya. Seolah yang makanan itu bercampur dengan racun sianida.
"Ayo cepat makan, itu enak tau." kata Kei.
"Enak bagaimana Nona? makanan ini seperti racun." sahut Lee.
"Kau belum mencobanya. Coba, dan kau akan ketagihan. Makanan itu sangat terkenal didaerahku, kata orang sana rasanya gurih-gurih enyoi." Kei tertawa lebar.
"Apa itu enyui?" tanya Ken.
"Enyoi itu seperti kata sedap, mungkin?" Kei juga tidak terlalu paham.
"Aku ingin liat kamu duluan yang makan," perintah Kei pada Ken.
'Selamat selamat, aku aman. Rasakan kau tuan muda. Akhirnya aku bisa sedikit lega, kalau anda pingsan karna makanan itu, aku tidak perlu melanjutkannya.' batin Lee kegirangan.
Ken mulai memasukan sendok, saat diangkat kepermukaan muncul lah ceker ayam. Langsung saja sendok itu dihentak dengan kuat. Ken semakin bergidik, melihat ada kaki ayam didalam makanan itu. Bayangannya terlampau jauh, kaki ayam terlalu jorok karna untuk mengobrak-abrik sampah.
"Ayolah, coba kuahnya sedikit aja." Kei memaksa.
Berada diujung sendok, kuah kemerahan itu telah masuk kedalam mulut.
Bola mata Ken kembali melotot.
Lee melihat dengan seksama. 'Apakah sebentar lagi tuan muda akan kejang-kejang dan pingsan?' Lee mulai khawatir.
__ADS_1
Tapi diluar dari dugaan, tercetus kata. "Enak," dari mulut Ken.