
"Hem... ternyata rasanya tidak terlalu buruk." jawab Lee sambil mengunyah nasi dengan lauk ikan asin itu. "Jangan-jangan suami sengaja dihabisin biar aku nggak makan pakai lauk ikan asin itu!" Dewi cemberut. "Istri, sudahi acara ngambek-ngambeknya ya... aku sudah tidak sanggup, bebanku akhir-akhir ini bertambah." Lee memperlambat kunyahannya, mata itu menerawang teringat dengan nasib tuan mudanya yang masih terkena musibah.
"Kamu kenapa suami?" tanya Dewi yang heran suaminya itu tiba-tiba seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Dari kemarin Lee belum menceritakan kondisi Kei, dia takut istrinya itu akan parno dengan kehamilannya. Tanpa Lee terpikir bahwa kehamilan Dewi dan Kei berbeda, istrinya hamil dengan kondisi yang sehat sedangkan Kei hamil dengan satu ginjal yang lebih berisiko dari ibu hamil normal.
"Apa pekerjaan kantor juga belum selesai?" kembali Dewi melayangkan pertanyaan. Lee menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan. "Sebenarnya tadi malam aku tidur dirumah sakit. Bukan lembur di Kantor dengan tuan Ken." Lee tidak akan menyembunyikan kebenaran itu lagi pada istrinya. Dewi mengerutkan dahi.
"Kenapa kau berbohong. Apa yang kamu sembunyikan dariku? katakan! aku tidak suka dibohongi. Apa ada wanita lain yang kau sembunyikan dirumah sakit?"
'Hah...pemikiran macam apa itu! kalaupun aku punya perempuan lain akan aku sembunyikan dihotel bukan dirumah sakit!' Lee membatin, wajahnya berubah masam.
"Dengarkan aku dulu. Nona Kei sedang dirawat dirumah sakit, dan aku bertugas menemani tuan Ken." Lee menjelaskan. "Apa...!" Dewi sontak berdiri dari duduknya karna teramat terkejut. "Istri, kau bisa membahayakan calon anak kita!" Lee ikut berdiri, dia lebih khawatir dengan calon anaknya karna gerakan Dewi tadi bisa membahayakan janin yang masih rentan.
Dewi segera mengusap perutnya, "Sayang maafin Mama ya, mama terlalu kaget." Dewi meminta maaf pada janin diperutnya yang masih datar. Ketika sudah tenang, dirinya kembali duduk. "Memang Kei kenapa sampai dirawat dirumah sakit? bukankah kemarin pas acara tujuh bulanan masih baik-baik saja." Dewi bertanya, kini ia juga merasa khawatir.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau pasti, tapi saat ini kondisinya kritis." Lee sedih mengatakan itu. "Apa..." Dewi kembali terkejut, tapi kali ini nada suaranya dibuat rendah tidak histeris seperti tadi. Lee mengangguk, menandakan semuanya itu benar.
"Ya Tuhan, Kei." Dewi menutup mulut dengan kedua tangganya. Shok, ternyata kondisi sahabatnya itu sedang kritis. "Aku ingin menjenguknya." pinta Dewi. "Jika menjenguk saat ini juga percuma, Nona Kei tidak bisa dijenguk. Dokter membatasi orang-orang yang akan masuk keruang rawatnya, apalagi tuan Ken tidak ingin jauh dengan Nona Kei jadi kita tidak akan ada kesempatan untuk masuk."
Dewi terlihat sedih, ia ingin sekali menjenguk sahabatnya. Ada alasan lain kenapa sekretaris Lee melebih-lebihkan kalimatnya. Ia tidak ingin istrinya itu terlalu bersedih saat melihat kondisi Kei yang terbaring lemah. Dia bisa memprediksi bahwa istrinya itu pasti akan menangis dan berlarut dalam kesedihan jika mengetahui kondisi Kei secara langsung.
"Padahal aku ingin sekali menjenguk Kei dirumah sakit." rengek Dewi. "Kita jenguknya besok saja kalau nona Kei sudah dipindahkan keruang biasa." Lee mencegah keinginan istrinya demi kebaikan Dewi sendiri dan juga calon anaknya.
"Ya sudah. Tapi kalau Kei sudah Dipindahkan keruang biasa, kamu harus ajak aku buat jenguk Kei dirumah sakit." kalimat Dewi mengandung ancaman. Lee mengangguk, dalam hati merasa lega karna Dewi tidak terlalu memaksa.
Diruang sakit tuan Ken tidak mau keluar dari ruangan Kei, dia bertahan disisi istrinya. 2 dokter dan 2perawat masuk keruangan itu untuk mengecek kondisi Kei. Terpaksa Ken harus keluar.
"Ken..." mami Lyra berdiri dan menghampiri anaknya yang terlihat jelas kesedihannya. Tuan Ken melihat maminya sebentar dan tidak merespon. Dia menjatuhkan tubuhnya dikursi tunggu, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Mami Lyra sangat paham dengan kesedihan yang dirasakan anaknya itu. Dia tau, kesedihannya tidak sebanding dengan kesedihan yang dirasakan Ken saat ini.
__ADS_1
"Sabarlah Nak, kita tidak berhenti berdo'a untuk kesembuhan Kei."
"Kenapa keadaan Kei belum membaik mi, Ken tidak tega melihatnya seperti itu." tuan Ken masih menyangga kepala dengan kedua telapak tangannya. Ray diam saja hanya menjadi pendengar, ia takut untuk ikut berbicara. Kejadian kemarin membuatnya lebih berhati-hati saat berada disamping kakaknya yang sedang kacau itu.
"Iya, mami juga sangat sedih melihatnya seperti itu, tapi kita hanya bisa berpasrah dengan Tuhan dan juga pada kemampuan dokter. Semoga Kei kuat untuk bertahan."
Disela obrolan itu terlihat beberapa dokter berlarian masuk keruangan Kei. Tuan Ken mengamati, dalam hati bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi? kenapa para dokter itu sampai terlihat panik begitu.
"Mi, ada apa? kenapa mereka terlihat panik?" Ken bertanya kepada maminya. Tentu saja mami Lyra juga tidak tau ala yang terjadi. Rasa penasaran yang tinggi memaksa tuan muda itu mendobrak pintu ruang rawat Kei dan masuk kedalam untuk mengetahui apa yang terjadi.
Kedua bola matanya memanas, para dokter sedang mengelilingi tubuh istrinya dan salah satu dokter memegang alat kejut jantung. Tubuh tuan Ken membeku didepan pintu, antara percaya dan tidak percaya, istrinya sampai harus merasakan sakitnya alat itu. Dokter dan perawat yang mengetahui kehadiran tuan Ken segera menghampiri dan mengajaknya untuk keluar. Tubuh Ken yang sudah sangat lemas itu menurut saat perawat dan dokter menggiringnya keluar.
Ketika sudah diluar, tuan Ken meminta kunci mobil pada Ray sedikit paksaan akhirnya Ray memberikan kunci mobilnya. Tanpa sepatah kata tuan Ken berjalan kearah luar rumah sakit. Kedua kakinya melangkahpun tidak sadar, serasa tubuhnya seperti tak bertulang.
__ADS_1
Didalam mobil tuan Ken memukul setir mobil dengan kuat, airmatanya keluar begitu saja. Dia segera menghidupkan mesin dan menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi. Mobil itu melesat membelah jalanan yang padat, seolah jalan itu miliknya ia mengendarai mobil dengab semaunya.
Dirumah sakit mami Lyra menangis terisak, sebelumnya perawat memberitahu kondisi Kei yang semakin mengalami penurunan dan dokter sedang mengusahakan yang terbaik.