
"Hari weekend, pagi buta kau sudah sampai disini." ucap Ken sinis.
"Dimana pun kau selalu menyambut dengan cibiran mu Ken. Belum pernah menyambut ku dengan ramah." meski mendapat penyambutan kurang baik tapi Tristan acuh dan dengan santai ia duduk dirumah Ken.
"Ada apa kau kemari?" tanya Ken tanpa melihat kearah Tristan. Ia masih asik membaca koran bisnis.
"Ck... kau ini, ada sahabat datang malah cuek begitu. Ayolah, aku kemari membawa berita bagus." kata Tristan dengan menyahut koran bisnis yang ada ditangan Ken.
Berganti Ken yang berdecak kesal, "Cepat katakan, berita apa?" tanya Ken, kini bola mata itu menatap Tristan.
Setelah Ken sudah tidak sibuk, Tristan melempar selembar kertas tebal diatas meja. Yang dia lemparkan tadi adalah undangan pernikahan.
Melihat itu Ken tergelak.
"Sial kau Ken, bukannya mengucap selamat malah tertawa begitu." ucapnya kesal.
"Ternyata ada wanita yang mau dengan mu, aku kira kau akan menjadi perjaka tua." Ken terus meledek.
Tristan berdecih.
Ken meraih kertas tebal diatas meja dengan warna hijau muda, disana tertera nama Tristan dan calon mempelai wanita.
Ken mengerutkan dahi. "Sepertinya aku tidak asing dengan nama ini?" ucap Ken, setelah membaca nama yang tertera di undangan.
"Betul. Bahkan kau sering bertemu dengannya." jawab Tristan dengan tersenyum miring.
Ken masih nampak berpikir, ia mengingat-ingatnya.
Tetapi Tristan tidak sabar dan segera memberitahu. "Dia Sofia, dokter kandungan yang menangani istrimu dulu."
Ken sedikit terkejut, bagaimana bisa Tristan bisa langsung menikah dengan Sofia. Dia tidak tau proses mereka bertemu.
"Bagaimana kau langsung menikah dengannya?" akhirnya Ken penasaran.
"Sebenarnya sudah lama aku kenal dengan dia. Waktu menjenguk istrimu yang sedang dirawat karna kehamilannya ada masalah. Setelah meminta nomor, aku dan dia sering berhubungan." jelas Tristan.
"Kebetulan yang menguntungkan dirimu. Selamat untuk hari bahagia mu, akhirnya kau menemukan cinta yang sesungguhnya." ucap Ken dengan tersenyum tulus dan menepuk bahu Tristan.
"Terima kasih Ken, kau masih perduli denganku. Do'akan semua lancar sampai aku sudah sah menjadikan dia sebagai istriku."
"Tentu. Aku selalu mendo'akan yang terbaik."
Mami Lyra baru terlihat, ia berjalan mendekat.
"Oh... ada tamu. Ken, kamu nggak bilang kalau ada tamu?" Mami Lyra duduk dikursi yang berseberangan.
Meski dulu Tristan pernah bermusuhan dengan Ken, pernah berkelahi bahkan memfitnah dengan kejam, tapi dendam yang dimiliki sudah terkikis dengan waktu. Ken sudah menjelaskan bahwa ia dan Tristan kembali bersahabat, untuk itu Mami Lyra bersikap baik dan perlahan melupakan permusuhan antar keduanya.
Tristan berdiri dan mencium punggung tangan Mami Lyra. Sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Mami Lyra menyambut dengan senyuman.
__ADS_1
"Sudah dari tadi?" Mami Lyra bertanya kembali.
"Belum, barusan datang kok Tante." jawab Tristan.
"Bi Nini..." Mami Lyra memanggil pelayan.
"Iya, Nya?"
Wanita tua setengah berlari menghampiri majikannya.
"Bik, tolong buatkan minum untuk tamu Ken." perintah Mami Lyra.
"Baik, Nya." Bi Nini segera berlalu.
"Ada apa pagi-pagi sudah sampai disini?" tanya Mami Lyra dengan ramah.
"Saya mengantar undangan untuk pernikahan saya sendiri, Tan." jawab Tristan dengan sopan.
"Kamu sudah mau menikah? selamat ya nak Tristan. Semoga nanti acaranya berjalan lancar."
"Amin, makasih do'anya Tan. Jangan lupa kehadirannya, Tristan tunggu."
"Iya, jika tidak ada halangan kami pasti datang."
"Mi, Kio dimana? kenapa belum turun?" Ken bertanya dan mengalihkan topik yang tadi.
"Tadi masih mandi sama Kei. Mungkin sebentar lagi turun."
"Daddy...." yang dibicarakan barusan telah muncul. Kei menggendong Kio dan mendekat.
Balita itu mencebik, wajahnya yang chubby tampak suram.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Ken menatap wajah Kio lekat.
"Io tadi terjatuh, Dad. Sakit." adunya. Dan menjatuhkan kepalanya dipundak Ken.
"Kenapa bisa terjatuh?"
"Habis mandi dia lari-lari dilantai yang licin," Kei menjawab.
"Mana yang sakit?" tanya Ken.
Tangan mungilnya menunjuk pa*** bagian bawah. Ken mengusap dengan pelan.
"Apa dia jatuh dengan keras? Kio kesakitan, apa kita bawa kerumah sakit?" Ken melihat kearah Kei dan Maminya secara bergantian. Ingin bertanya tentang pendapat mereka.
"Tidak perlu sayang, Kio hanya terpeleset. Aku sudah memeriksa bagian penting, tapi tidak ada yang serius." jawab Kei dengan nada santai. Memang benar yang dikatakan, Kio terjatuh tidak terlalu keras. Suaminya tidak perlu sepanik itu.
"Eum, Hay..." Kei menyapa Tristan, tapi ia bingung memanggil dengan sebutan apa.
"Hay, Kei..." Tristan membalas sapaan dengan senyum cerah.
__ADS_1
"Hei.. jangan menatap istriku. Ingat, kau mau menikah. Tatap saja kertas undangan mu!" sentak Ken.
"Astaga... Ken. Sudah tua masih saja bersikap posesif." ucap Tristan.
"Eh, walau aku tua. Tapi wajahku masih tampan." Ken melirik sinis. Sedangkan Tristan malah tertawa.
Kei menggelengkan kepala.
"Sepertinya kalau aku masih tetap disini, suamimu akan terbakar cemburu Kei. Lebih baik aku pamit sekarang."
"Nak Tristan, kenapa buru-buru? Jangan diambil hati, Ken tadi cuma bercanda." kata Mami Lyra.
"Iya Tan, kami sudah biasa seperti ini. Tante jangan khawatir. Tristan ada keperluan lain, masih ada beberapa undangan yang harus dibagi, untuk itu aku harus berpamit." Tristan berdiri dan kembali mencium punggung tangan Mami Lyra.
"Kalau begitu hati-hati dijalan ya Nak." kata Mami Lyra.
"Iya Tan, aku permisi."
"Hei, kenapa pulang." tanya Ken.
"Kau ini, tadi aku disini kau tidak suka dan cemburu. Setelah aku mau pulang sok menghentikan, dasar..." omel Tristan.
Ken menanggapi dengan senyum miring.
"Kei, aku pamit pulang." Tristan berganti bercanda dengan berpamitan pada Kei. Ia tau Ken pasti akan marah lagi.
"Pulang-pulang saja, tidak usah pamit sama Kei!" sentaknya.
Tergelak dengan tawa, Tristan segera kabur dari hadapan Ken. Amarah Ken mulai menguar, ia harus segera berlalu dari sana.
"Kau ini, kenapa selalu begitu dengan Tristan!" Kei mengomel.
"Dia itu menyebalkan!" dari wajah Ken tampak tidak suka.
"Bukannya dulu kamu sendiri yang mengajak berdamai, sekarang malah seperti tikus dan kucing."
"Kenapa kau belain dia?"
"Siapa yang belain dia? dia itu tamu, harusnya kau memperlakukan dengan baik. Dari tadi malah berbicara ketus."
"Berhenti! Dad dan Mom tidak boleh berantem." suara Kio menghentikan keduanya.
Mami Lyra hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Oke Oke... Dad dan Mom tidak akan bertengkar sayang." Ken mencium pipi putranya.
"Kalau sudah baikan, ayo kita jalan-jalan." ajaknya.
"Ough, jagoan Daddy mau jalan-jalan kemana?"
"Aku ingin main kerumah, Ze."
__ADS_1
Ken memandang kearah Kei, tapi istrinya menggeleng.
Kio mengajak bermain kerumah Ze, yang berati juga berkunjung kerumah Lee.