Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Seperti penggrebekan


__ADS_3

Hot Daddy baru pulang, sebelah tangan menggenggam telapak tangan mungil milik Kio. Bocah kecil itu mendekap mainan robot besar hampir separuh dari tinggi badannya. Dibibir mungil menyungging senyum ceria. Apa yang dia minta saat itu juga terkabul. Wajar, dia anak sultan yang kelak dewasa akan menggantikan gelar ayahnya.


Berbeda dengan Kio, raut wajah Ken terlihat lelah. Apa yang terjadi?


Bossy kecil memintanya untuk menyetir mobil sendiri tanpa bantuan supir pribadi, sekretaris Lee atau pengawal. Hari itu Kio hanya ingin berdua saja dengan dirinya. Kio meminta duduk diatas pangkuannya, anak kecil itu ingin belajar menyetir mobil bahkan bercerita jika besar nanti ingin menjadi pembalap handal.


Ken menanggapi dengan senyuman, putranya belum mengenal bangku pendidikan tapi sudah sangat pintar.


Ayah dan anak itu sudah masuk kedalam rumah. Diruang depan ada Mami Lyra yang sedang sibuk membolak-balik majalah fashion.


"Eh, cucu Oma baru pulang?" Mami Lyra menyambut Kio dengan senyuman.


"Oma, Kio beli robot besar bisa berjalan sendiri. Bagus." Kio memberitahu tentang mainan barunya.


"Mi, Ken lelah. Mami jaga Kio sebentar, Aku ingin istirahat." pinta Ken.


"Heum..." Mami Lyra berdehem dengan disertai anggukan.


"Dad mau kemana? temani Io main." kini berganti putranya yang meminta ditemani bermain.


Mengalahkan ego, Ken berjongkok didepan badan Kio. Memegang kedua bahu putranya. "Io, Dad lelah. Jagoan Dad pintar, mainan sama Oma dulu ya," Ken memberi pengertian.


"Oke Dad."


Mendapat persetujuan dari Kio, Ken segera berlalu menuju kamarnya.


Sampai didalam kamar bahkan Kei masih terlelap dengan nyaman. 'Kenapa tidurnya lama sekali?' batin Ken. Ia segera mendekat dan berbaring disampingnya.


Mendekap untuk mencari kehangatan dan kenyamanan. Hari ini tubuhnya terasa lelah, ia ingin beristirahat sebentar.


Merasakan dekapan hangat, tangan kokoh melingkar dibagian pinggang hingga depan perut membuat Kei menggeliat dan terbangun.


"Sayang sudah pulang?" Kei bertanya.


"Baru saja," Ken menjawab lirih, kedua matanya sudah terpejam. Bahkan sebentar lagi sudah menuju ke alam mimpi.


"Aku senang kau memelukku," kata Kei.


"Iya Baby, aku akan selalu memelukmu." kantuk yang menyerang membuat Ken kurang bersemangat untuk menjawab. Memberi jawaban singkat agar sesi pembicaraan itu segera berakhir dan dirinya bisa terlelap dengan damai. Hari ini benar-benar melelahkan.


"Sayang," panggil Kei lirih.

__ADS_1


"Heum..." yang keluar dari mulut Ken hanya deheman.


"Aku ingin melakukan itu," pinta Kei dengan malu-malu.


"Lakukan saja sesuka hatimu." Ken menjawab asal. Padahal tidak tau keinginan Kei.


"Ya sudah, ayo kita lakukan." ajak Kei.


"Hem..." lagi-lagi hanya sebuah deheman yang keluar.


Posisi Kei tadi sedang membelakangi, tapi kini ia ingin berbalik menghadap Ken. Dan dilihat suaminya itu malah tertidur dan terdengar dengkuran halus.


Kei berdecak kesal, ia memukul pipi Ken dan membangunkannya.


"Ada apa Baby, aku ngantuk." kata Ken dengan setengah sadar.


"Sarang ku ingin ditengok burung gagak hitam mu," kedua pipinya muncul semburat kemerahan. Ia sebenarnya malu untuk meminta duluan, tapi lagi-lagi dorongan dalam dirinya seperti tak bisa diabaikan. Kei juga merasa aneh, tapi tidak tau apa yang terjadi dengan perasaanya yang mudah berubah-ubah.


Meski sudah bertahun-tahun menjalani rumah tangga dengan Ken, tapi masih ada rasa malu jika membahas masalah nafkah batin.


Ken yang tadi sudah sampai didepan pintu alam mimpi, seolah berbalik dengan cepat untuk kembali ke dunia nyata.


Kedua bola mata yang redup beralih memancarkan hasrat membara.


Tentu, seperti cerita diatas. Kei jarang sekali mengutarakan keinginannya secara langsung. Permintaanya kali ini sungguh langka, ia harus segera mengabulkan.


"Sarang mu ingin ditengok burung gagak ku?" Ken memastikan pendengarannya. Ia takut suara tadi hanya mimpi. Dengan wajah berbinar ia menunggu jawaban.


Kei mengangguk malu.


"Kau tidak perlu malu, Baby. Semua yang ada di diriku adalah milikmu." sebelum memulai pergumulan panas, harus diawali dengan sedikit rayuan.


Kei semakin menunduk, tingkat rasa malu semakin tinggi. Entah, rasa itu juga terasa aneh. Biasanya dia tidak seperti itu.


Tapi karna hasrat yang menggebu, hadir begitu besar hingga mengalahkan keanehan yang terjadi.


Keduanya sudah saling berpagutan, tangan Ken sudah mulai aktip menjelajah balon kembar secara bergantian.


Balon yang terasa kenyal seperti nutrigel tapi tidak bisa hancur. Sangat pas berada dalam genggaman tangan kekarnya. Tapi ada yang berbeda, balon yang sering ia pegang dan menurutnya pas kini berubah semakin besar. Ia semakin bersemangat untuk melanjutkan.


Suara desahan dari mulut Kei semakin merdu seperti melodi terindah sepanjang sejarah musik tercipta. Mengalahkan lagu barat, dangdut atau keroncong.

__ADS_1


Suara yang hanya bisa didengar saat mereka sedang berdua dan menikmati gelora nafsu.


Aktivitas yang baru dimulai membuat keduanya bagai melayang di awan-awan tinggi. Belum puas jika belum menuju ke awan ketujuh.


Kini permainan semakin ganas ketika Kei ikut andil memimpin permainan.


Lagi-lagi seperti sejarah baru yang tercipta, Kei semakin liar tak terkendali.


Padahal biasanya ia hanya menerima dan menurut.


Tapi kali ini Ken dibuat tercengang dengan aksinya. Aneh tapi nikmat.


Ada Sensasi berbeda.


"Baby, lanjutkan... sore ini kau akan menjadi pemenang," lirih Ken berbisik ditelinga Kei. Sesekali lidahnya menyapu daun telinga dan memberikan rasa yang berbeda.


Keringat bercucuran dihari yang semakin sore, keduanya sampai melupakan waktu. Asik dengan kegiatan panas.


Keduanya hampir sampai di awan ketujuh, tapi ada sesuatu yang terjadi.


Tok... tok...


"Dad... Mom... kenapa pintunya nggak bisa dibuka. Io mau masuk!" suara bocah kecil itu terdengar keras.


Fantasi angan-angan ke awan ke tujuh harus dipaksa turun dan terjatuh ke bumi.


"Sial...!" Ken mengumpat.


"Huh, padahal sedikit lagi sudah menang." gerutu Kei.


Ken menjatuhkan tubuh Kei, tak menghiraukan panggilan dari putranya. Sudah kepalang tanggung, jika tidak dituntaskan akan menjadi kesusahan untuk dirinya.


Ken kembali memacu kekuatan. Bahkan suara Mami Lyra juga terdengar, tapi ia butuh konsentrasi untuk menyelesaikan misi.


"Sayang, mungkin Dad dan Mom masih tidur. Ayo kita mandi dikamar Oma aja," Mami Lyra membujuk Kio.


"Tidak mau! Io mau mandi dengan Mom. Kalau Dad dan Mom sedang tidur aku akan bangunkan." sungutnya kesal.


Gedoran di daun pintu semakin keras, beruntung misi kedua orang dewasa itu sudah selesai. Kalang kabut dengan gerakan secepat kilat keduanya kembali memakai pakaiannya.


Berniat membersihkan diri tapi mereka harus menunda. Gedoran di daun pintu semakin keras, suara Kio nyaring terdengar seperti speaker pengeras. Hampir sama seperti penggrebekan maling atau perselingkuhan.

__ADS_1


Dengan langkah lebar Ken berjalan dan membuka kunci pintu.


Baru membuka pintu sudah mendapat hadiah yang mencengangkan....


__ADS_2