
Mobil sport melaju kencang menuju ke Kantor, sesampainya di Kantor Lee membukakan pintu belakang untuk tuan Ken. Merasa sedikit canggung karna tidak memakai pakaian Kantor dan hanya mengenakan kaos dengan celana jeans, tuan Ken juga berpenampilan sama dengan dirinya. Mengikuti tuan Ken yang masuk ke lobby kantor, bukan menuju keruangan nya melainkan langsung menuju kebagian ruang OB.
Banyak karyawan yang memperhatikan 2 pria yang begitu tampan menggunakan pakaian biasa, terlihat lebih muda dan keren. Tetapi mereka heran melihat tuan Ken dan sekretaris Lee menuju keruang OB. Mereka menerka-nerka ada masalah atau ada kejadian apa yang membuat pemilik perusahaan itu menuju kesana. Semua terdiam melihat kedatangan tuan Ken, dari raut wajah tuan Ken sudah menunjukan ketegasan.
"Semua keluar, kami ada perlu dengan Dewi." sekretaris Lee menyuruh beberapa orang yang ada diruangan itu untuk keluar, semua berjalan keluar dengan menyimpan pertanyaannya masing-masing. Penasaran dengan apa yang terjadi tetapi tidak berani untuk mengetahui lebih lanjut.
Dewi sendiri sudah bisa menebak kenapa tuan Ken mencarinya, pasti karna Kei ia hanya menundukkan kepala.
"Dimana Kei?" bertanya dengan nada dingin.
"Ta-tadi Kei meminta diturunkan dijalan xxx tuan, dekat dengan Panti Asuhan."
"Kau wanita bodoh! beraninya kau menyembunyikan Kei, hah!! kenapa tidak menghubungiku!" mulai tersulut emosi.
"Kei melarangku tuan."
"Kau bisa menghubungiku tanpa sepengetahuannya 'kan? kau mau aku menggunakan pasal agar kau masuk penjara, hah!" Ken menatap dengan tajam, tangan Dewi gemetaran menahan takut.
"Tidak tuan, jangan! jangan masukkan saya kedalam penjara. Mohon mengerti lah tuan." Dewi benar-benar takut jika tuan Ken akan memasukkannya kedalam penjara. Lee merasa kasihan dan tidak tega melihat Dewi ketakutan seperti itu, biasanya dia tidak ikut campur tetapi kali ini ada dorongan dari hati agar menolong gadis itu.
"Tuan muda, jangan menggunakan pasal untuk dia walau bagaimanapun dia juga sudah memberi kebaikan kepada nona Kei karna sudah memberi tempat tinggal semalam, jika tidak nona Kei bisa tidur dijalanan. Lebih baik kita fokus saja mencari nona Kei. Jangan membuang-buang waktu." Lee memberi pembelaan kepada Dewi. Dewi memandang kearah Lee, dia tidak menyangka tuan sekretaris membelanya.
"Kau...ingat! jika Kei menghubungimu atau kembali kerumahmu kau harus menghubungi Lee. Mengerti!!" Ken mengancam dengan jari telunjuk menunjuk didepan wajah Dewi.
"Mengerti tuan." Ken berbalik dan menuju kepintu keluar, Lee akan mengikuti dibelakangnya.
"Tuan sekretaris, terima kasih." Dewi mengucapkan terima kasih, Lee mengangguk sebelum keluar dari ruangan itu. Setelah tuan Ken dan sekretarisnya pergi, banyak yang mengerumuni Dewi dan menanyakan kenapa tuan Ken menemuinya. Dewi menutupi dengan berbohong dan memberi alasan jika tuan Ken sedang menanyakan alamat seseorang, meski banyak yang tidak percaya tetapi sebisa mungkin Dewi menutupinya.
__ADS_1
"Kenapa kau harus pergi dan mencari kontrakan Kei! apa kau sudah tidak ingin bersamaku?" Ken berbicara sendiri dibelakang.
"Lee, apa hanya aku yang tidak bisa jauh darinya. Menurutmu apa Kei tidak mempunyai perasaan untukku?" sekarang tuan muda itu bertanya kepada Lee yang fokus mengemudikan mobil.
"Tetapi jika dilihat dari tatapan nona Kei, sepertinya nona mempunyai perasaan untuk anda." Lee menjawab dengan hati-hati agar tidak salah kata yang membuat emosi tuan Ken menjadi labil kembali.
"Kenapa dia meninggalkanku, Lee?" masih kekeh dengan pertanyaan itu.
"Anda harus meyakinkan perasaan nona Kei agar dia tidak ragu dengan perasaan anda. Tuan maaf, untuk masalah keturunan sebaiknya anda mengajak nona Kei untuk konsultasi dengan dokter ahli dibidang kehamilan mungkin bisa memberi saran atau ada cara lain agar nona Kei bisa hamil."
"Tetapi Kei sudah mengatakan dia mandul Lee, jika aku mengajaknya menemui dokter dan dokter membenarkan fakta itu aku takut Kei bertambah sedih."
"Jika begitu anda tanyakan kepada nona Kei hasil pemeriksaan yang menyatakan jika nona Kei benar mandul, setelah itu baru anda memikirkan tindakan selanjutnya." dikursi belakang Ken menghembuskan nafas pelan. Memikirkan saran Lee barusan, semua seperti benang kusut yang belum menemui titik terang.
"Tuan muda, didepan itu bangunan Panti Asuhan kita berpencar atau bagaimana?" Lee menghentikan mobil dipinggir jalan.
"Kita berpencar saja, kau hubungi pengawal untuk mencari didekat sini."
Langkahnya terhenti, kedua tangan mengepal kuat, kedua mata seperti menyala sedetik kemudian setengah berlari menghampiri orang yang sangat dia kenal.
Buk...
"Tu-tuan...!" Kei terkejut tiba-tiba tuan Ken datang.
"Ken...!"
"Beraninya kau mendekatinya!!"
__ADS_1
Buk...
"Kurang ajar kau Ken, tiba-tiba menyerang ku!"
Buk...buk...
2kali Tristan membalas pukulan dari Ken, dia tidak terima Ken memukulnya. Ken yang tidak siap dan tubuhnya sedikit lemah terjatuh ditanah, dari hidungnya mengeluarkan darah.
"Tuan-tuan tolong berhenti...!" Kei sudah menangis menyaksikan pertengkaran itu, tetapi bara api diantara keduanya sudah berkobar. Ken berdiri.
"Kau selalu mengusik orang terdekatku Tan, akan ku bunuh kau!!" Ken melayangkan pukulan lagi.
"Haha... aku sangat suka mengganggu milikmu Ken dan akan terus menganggu nya! akan ku rebut milikmu seperti kau merebut Olive!!" Tristan menatap nyalang. Tangan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Aku tidak pernah merebut Olive baj*ng*n!! kami saling mencintai!"
"Apa kau bilang? mencintai...Haha.... Kau gila Ken, jika kau mencintai kau tidak akan melenyapkan nyawanya."
Deg... seketika Ken diam mematung, teringat dengan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Olive dan calon anaknya. Tristan menggunakan kelengahan Ken untuk kembali menyerang hingga Ken tersungkur diatas tanah dan Tristan melayangkan pukulan.
Kei sangat panik melihat Ken tidak berdaya wajahnya penuh dengan darah, wajah Tristan juga hampir sama keduanya masih tetap tidak ada yang menyudahi.
"Tolong...tolong...siapapun tolong. Hentikan!!" Kei berteriak mencoba melerai, tetapi naas perutnya terkena hempasan sudut siku Tristan hingga terjatuh dan meringis kesakitan.
"Kei...!"
"Kei...!" kedua lelaki yang sudah babak belur berteriak memanggil nama Kei bersamaan.
__ADS_1
"B*jingan! aku benar-benar akan membunuhmu Tristan!"
"Kita buktikan siapa yang akan mati lebih dulu. Aku atau kau Kendra Kenichi b*ngs*t!!" keduanya memang tidak bisa dipisahkan, Kei duduk memegangi perutnya, bekas operasi waktu itu terasa nyeri. Dengan sisa tenaga yang ada Kei berteriak meminta tolong agar perkelahian dua orang itu ada yang menghentikan.