
Tubuh Ken terlihat melemas, kini mulai bersandar di sandaran kursi seperti Lee. Mencoba rileks tapi pikirannya malah semakin rumit. Apa dia akan menceritakan kisah John Lee pada Lee atau tidak?
"Lee, kau tau, Mami menikah sudah tiga kali." Ken berpikir lebih baik Lee tau agar tangan kanannya itu bisa membantu untuk mencari anak dari John Lee.
Tapi Ken sendiri tidak habis pikir, dugaannya yang semula sangat kuat kini mulai mengendor. Tadinya masih ada harapan jika Lee adalah anak John Lee, karna memiliki nama belakang yang sama.
Tapi Lee sendiri tidak mengenal atau pun ingat tentang masa kecilnya. Tentu ini sangat rumit, benar-benar tak semudah yang dibayangkan.
"Tiga kali, Tuan?!" tanya Lee seolah terkejut.
"Hem... hebat bukan, aku baru tau tadi setelah memergoki Mami mengunjungi salah satu makam dekat makam Olive." Ken menghembuskan napas.
"Ceritanya sangat panjang dan rumit, kau pasti paham aku tidak suka mengulang cerita dan berkata panjang lebar."
Lee mengangguk. Padahal dalam hati sangat dongkol, semuanya harus ia sendiri yang berpikir keras untuk menjabarkan kalimat singka, seperti biasa nya.
"Tapi Anda belum bercerita, Tuan?!" tanya Lee.
"Aku tadi sudah menceritakan ulang pada Kei, semuanya. Hampir sama persis seperti versi cerita Mami." kata Ken.
'Astaga... mulai kambuh otak gesreknya. Dia yang bercerita pada nona Kei, bukan bercerita padaku. Cih, dasar Bos gila. Biarkan saja, tinggal jawab iya, iya saja. Beres.' batin Lee.
"Lalu?!" Lee bertanya singkat.
"Ini yang tidak aku sukai! aku berbicara panjang dan orang lain hanya menjawab pendek. Menyebalkan." Ken menggerutu.
Lee menelan ludah beberapa kali karna saking geramnya dengan Ken.
"Baik Tuan Muda, anda tidak perlu menceritakannya lagi pada Saya. Saya sudah paham. Bolehkah Saya permisi pulang?" Lee bertanya dengan membenarkan jas yang dikenakan, bersiap untuk beranjak pergi.
"Aeron Lee, kau mau mati! sejak kapan kau berani kurang ajar padaku?!" mata Ken mulai memancarkan kemarahan.
Akhirnya Lee terdiam ditempat, menundukkan pandangan dan tidak berani untuk menatap. 'Jika dia marah, maka diam saja. Pasti akan aman.'
'Menghadapi tuan muda memang serba salah, wajar dia anak sultan. Sedangkan aku hanya anak bawang yang nggak jelas.' Lee tak henti membatin.
__ADS_1
Ken menghembuskan napas panjang, kembali merilekskan tubuhnya.
"Aku memanggilmu kemari karna ingin menanyakan hal penting." disaat Ken mengatakan itu barulah Lee berani mendongak untuk melihat wajah Ken.
"Ceritanya sangat panjang. Intinya, dulu Mami pernah diberi amanah dari almarhum suami pertamanya untuk menjaga anaknya bersama wanita lain. Karna Papi tidak setuju maka menyuruh untuk membuang anak itu. Dan, Mami menaruh anak itu di panti asuhan." Ken menceritakan garis besarnya saja tanpa embel-embel panjang lebar.
Mulutnya tentu terasa kaku jika kebanyakan berbicara.
Lee sangat serius mendengarkan, tidak berani menyela atau memotong kalimatnya.
"Tadi, Mami meminta bantuan agar aku mencari anak itu lagi." kalimat Ken membuat Lee terkejut dan langsung mendongak.
"Bukankah kejadian itu sangat lama Tuan? kenapa Nyonya Besar ingin mencari anak itu lagi?!" Lee memberanikan diri bertanya karna penasaran dengan alasan mami Lyra untuk mencari anak itu lagi.
"Benar, kejadian itu sudah sangat lama. Bahkan sejak aku belum ada. Akhir-akhir ini almarhum John Lee sering menemui Mami dalam mimpi. Meski tidak mengatakan apapun, tapi Mami kembali mengingat amanah yang dititipkan padanya." jelas Ken.
Lee manggut-manggut, sekarang ia sudah tau alasannya.
"Apa karna nama belakang almarhum suami Nyonya besar yang pertama mirip nama Saya, lalu anda berpikir ada kemungkinan anak itu adalah saya?!" selidik Lee.
"Meski nama orang sama, bukan berati dia anak dan ayah kan, Tuan. Banyak orang memiliki kesamaan nama, apalagi orang-orang jaman sekarang yang mempermudah mencari nama dengan bertanya pada internet pencarian. Tentu banyak nama yang sama. Tapi tidak bisa diklaim bahwa mereka saudara."
"Benar juga, tapi seseorang tidak bisa dilarang untuk memiliki praduga juga kan?" Ken membalikkan kalimat.
Lee mengangguk. " Memang tidak ada yang melarang." ucap Lee singkat.
"Intinya, kau harus membantuku untuk mencari anak itu. Kerahkan semua orang-orang kita. Dan, hubungi juga si Tony menyebalkan itu, untuk ikut membantu." titah Ken.
Lagi-lagi Lee mengangguk. "Tuan, biar lebih mudah dan lebih spesifik, anda tanyakan pada Nyonya besar dimana alamat panti asuhan itu. Jika lokasi panti asuhan itu sudah ketemu, kita tinggal tanya siapa yang telah mengadopsi anak itu." Lee memberi saran.
"Pemikiranmu terlalu pintar Lee, harusnya aku yang mengatakan itu. Kenapa kau mendahului ku!" ucap Ken dengan sinis.
Lee hanya tersenyum simpul. "Simpel Tun, berati pemikiran kita sama." Jawab Lee santai.
"Cih..." Ken terlihat kesal.
__ADS_1
"Tidak ada yang sama. Pemikiran ku lebih unggul dari mu, Lee." Ken tidak mau disamakan dengan Lee.
'Ya ya... kau lah sultanya, jadi sah sah saja menganggap dirimu pintar. Padahal pemikiran mu kadang sulit diterima akal sehat.'
"Tuan, jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi pulang." Lee berpamitan. Hari ini terasa lelah, ingin segara sampai di rumah dan bertemu dengan keluarganya.
Ken melirik jam dinding, ternyata obrolan mereka telah lebih dari satu jam.
"Apa jadwal besok padat?!"
Mendapat pertanyaan itu, Lee mengurungkan niat untuk berdiri. Ia segera meraih tas kerja dan melihat catatan jadwal kerja yang tersimpan di notebook.
"Tidak Tuan, besok hanya ada dua pertemuan di Hotel A dan di restauran I." kata Lee.
"Kalau begitu setelah pertemuan kedua kita langsung pergi ke tempat panti asuhan itu. Nanti aku tanyakan pada Mami." kata Ken.
"Baik Tuan Muda." Lee membereskan notebook dan menyimpannya kembali. Selesai membereskan, ia segera berdiri dan membungkuk sebentar dihadapan Ken seperti biasanya.
"Saya permisi, Tuan Muda."
"Hem...." Ken hanya berdehem.
Lee sudah akan sampai pada pintu dan meraih handel, tapi suara Ken terdengar menyebalkan dan konyol.
"Lee, jangan lupa diskusikan penggantian nama aset berharga mu dengan Dewi. Tikus tidak keren Lee, punyamu lebih cocok diberi nama Buaya dalam sangkar." Ken tergelak dengan suara yang memenuhi ruangan.
Lee berhenti sejenak dan berbalik menghadap Ken. "Jika Dewi sudah setuju, Saya akan membuat syukuran. Dan, orang pertama, orang satu-satunya yang saya undang yaitu anda." jawab Lee menahan dongkol tapi ia sendiri tergelak dengan kalimat skakmat untuk Ken.
"Sialan kau, Lee. Rayakan saja tasyakuran itu bersama istrimu." cibir Ken sinis.
"Tentu Tuan, setelah itu saya akan merayakan dengan Dewi semalaman suntuk."
Ho... Ken terbengong mendengar kalimat yang dikatakan Lee.
"Berani sekali kau mengejekku!!!" ucap Ken geram.
__ADS_1
Tapi percuma, Lee sudah hilang dibalik pintu.