Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Restu


__ADS_3

"Dad, Io yakin itu darah dagingku. Io sendiri yang menyentuh Naya pertama kali. Itu memang darah dagingku," ujar Akio penuh keyakinan. Entah mengapa hatinya tak terima saat Ken menanyakan calon anaknya benar darah dagingnya atau darah daging orang lain. Dalam artian, seolah secara tidak langsung menuduh Naya hanya merekayasa kejadian.


Akhirnya Akio menjelaskan semua kejadian awal hingga sampai saat ini tanpa mengurangi atau menambahkan cerita. Semua dia ceritakan sedetail mungkin termasuk ide Naya yang ingin merahasiakan kebenaran.


Ken mendengarkan dengan seksama tanpa memotong kalimat putranya. Dia mendengarkan dari awal sampai akhir dan baru berkata setelah Akio menyelesaikan penjelasannya.


"Salah kalian berdua yang tidak bisa mengendalikan nafsu. Dan gara-gara kesilapan kalian, ada Zee yang paling terluka mengetahui kejadian ini." Ken menghela napas panjang dengan menunduk. "Dad sangat malu dan tidak enak dengan Lee," ujarnya lirih hampir tak terdengar.


Akio sangat mengerti, tetapi lagi-lagi nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur, tak bisa dicegah, kini hanya tinggal memperbaiki keadaan.


"Tolong restui pernikahanku, Dad. Demi calon anakku agar mendapat status yang jelas," mohon Akio.


"Rasanya berat. Dad masih menganggap calon mantuku adalah Zee, bukan calonmu yang sekarang."


"Apa Dad tega calon cucu Dad nantinya hidup tidak jelas?"


"Dad masih sangat menyayangkan kesalahan yang kamu lakukan. Harusnya kalau ingin bermain perempuan, carilah yang tidak akan merepotkanmu dikemudian hari. Kamu tahu, dulu sewaktu Dad ditinggal almarhum Olive, sekitar 7 bulan Dad hidup sendiri. Dan pada saat itu lebih sulit mengendalikan nafsu daripada seorang lajang yang belum memiliki pasangan. Kalau untuk mencari perempuan sebagai penyalur nafsu, ada banyak, tapi prinsip Dad, tidak menyentuh perempuan dengan sembarangan dan tanpa adanya status pasti. Karena menyentuh yang seutuhnya milik kita itu lebih berbeda daripada menyentuh yang haram bagi kita."


Setelah bercerita lumayan panjang, Ken menatap Akio dengan serius. "Bagaimana perasaanmu?"


"Maksud Dad?" Akio belum mengerti maksud pertanyaan Ken.


"Apa kamu serius mau menikahi gadis itu? Apa perasaan dan hatimu sudah terima?"


"Pernikahan bukan hal yang bisa dibuat plin-plan. Hari ini kamu bersikukuh menikahi perempuan itu karena demi calon anak itu. Bagaimana dengan perasaanmu? Apa hatimu sudah siap posisi Zee digantikan dengan dia?"


"Siap tidak siap. Io juga tidak ingin menyesal dikemudian hari. Untuk perasaan, itu tidak terlalu penting. Dan setelah kejadian ini, Io justru merasa tidak pantas masih egois menginginkan tetap bersama Zee. Dia pantas mendapat pria yang jauh lebih baik dari Io."

__ADS_1


Ken menoleh dan menepuk bahu Akio berulang kali. "Dad hanya merestui dari lisan bukan dari hati, dipaksa keadaan tanpa bisa menolak. Jika itu keputusanmu, Dad merestui. Tapi pernikahanmu digelar tanpa adanya resepsi."


"Baik Dad, Io setuju."


"Dad harus menemui Lee. Jangan biarkan mom berlama-lama meninggalkan kamarnya."


"Mengerti Dad. Dan, terima kasih," ucap Akio. Begitu Ken berdiri, dia segera memeluk tubuh ayahnya. Seolah beban berat yang digendongnya dengan perlahan mulai berkurang. Restu sudah di dapat, tinggal menunggu restu dari ibu Naya. Dan dia akan segera menggelar pernikahan bersama Naya sebelum perut Naya semakin membesar.


Untuk Zee, sesungguhnya dia sangat tidak tega. Tapi Allah tidak mengizinkannya berjodoh dengannya. Dia hanya bisa berdoa, semoga Zee juga bisa ikhlas dan bisa memulai kehidupan barunya. Mendapat pria yang lebih baik tanpa mengalami trauma.


*


"Lee, untuk pertama kalinya aku bersungguh meminta maaf padamu karena ulah Akio yang menyakiti Zee." ujar Ken serius. Ternyata Ken sedang bertandang ke rumah Lee.


"Mau bagaimana lagi, Tuan Muda, semua sudah terjadi," jawab Lee seolah pasrah.


"Dia belum keluar kamar. Dia masih sangat syok, dan pasti kebenaran ini sangat mengecewakannya. Jadi, butuh waktu untuk melupakan yang terjadi. Tapi ... bukan itu saja yang saya pikirkan, Tuan, terlebih dengan rekan-rekan bisnis. Mereka sudah tahu dengan hubungan kita yang sebentar lagi jadi besan. Bagaimana kita tiba-tiba membatalkannya. Kalau mereka tahu tuan muda justru menikah dengan perempuan lain, pasti menimbulkan persuasif kurang baik."


Ken terdiam, memang benar juga apa yang dikatakan Lee. Meski pertunangan Akio dan Zee dulu tidak diliput media, akan tetapi berita pertunangan anaknya nyatanya sudah menyebar kemana-mana. Bahkan, sudah ada yang menanyakan kapan pernikahan Zee dan Akio akan digelar.


Ken mendesah berat. Keadaan pelik dan kacau. Sebenarnya dia sedang meyakinkan diri, karena seolah dia belum percaya dengan apa yang terjadi. Rencana indah akan mempererat persaudaraan dengan Lee tiba-tiba batal akibat fakta yang mengejutkan sekaligus aib memalukan.


Di sisi lain hatinya tidak terima, tetapi di sisi lain, dia tidak mungkin membuat putranya menjadi pria pecundang.


Ken merubah posisi dengan menyandar tubuhnya pada sofa. Tangan kanan memijat pangkal hidung juga pinggiran pelipis. Hal itu diperhatikan Lee.


"Tuan, sebaiknya Anda istirahat. Jangan sampai larut dalam pikiran dan Anda jatuh sakit. Tuan muda belum mampu menggantikan Anda," ucap Lee.

__ADS_1


"Kepalaku rasanya sakit sekali, Lee," keluh Tuan Ken.


"Saya antar kembali ke rumah sakit, supaya Anda diberi obat," tawar Lee.


"Aku lebih tenang istirahat sebentar di sini daripada di rumah sakit. Kei dan Io tadi menemui perempuan itu. Dan Io meminta restu untuk menikahinya. Aku harus bagaimana, Lee?"


"Harusnya Anda bangga dengan tuan muda, karena tuan muda mau mengakui perbuatannya dan mau bertanggung jawab."


Ken menoleh cepat. "Kau aneh, Lee. Kau mendukung Akio!?"


"Bukan soal dukungan, Tuan. Tapi kita harus lihat juga dari sisi kemanusiaan. Bagaimana kalau tuan muda tidak mau bertanggung jawab, bagaimana nantinya nasib calon cucu Anda?"


"Kenapa pemikiranmu sama dengan Io. Bahkan rasanya aku belum mau mengakui kalau calon anak itu nanti adalah cucuku."


"Bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu?" Lee terkejut.


"Ini juga bukan hal mudah yang bisa aku terima begitu saja, Lee. Sebagai orang tua, apa kau mau tiba-tiba mempunyai menantu yang tidak kau ketahui sama sekali dari mana asalnya dan seperti apa latar belakangnya? Tadinya aku sudah tenang berbesan denganmu, tapi sekarang aku harus bagaimana?"


Lee hampir tersedak air liurnya sendiri karena menahan suara tawa. Wajah mellow Tuan Ken justru terlihat lucu. Ternyata itu yang menjadi kegalauan hati tuan Ken, karena batal berbesan dengannya.


"Tidak harus bagaimana-bagaimana. Anda hanya perlu memberi restu, nanti biar saya yang akan mengurus rekan-rekan bisnis."


"Hatimu besar sekali, Lee? Ini masalah besar yang hampir buat kepalaku pecah, tapi kau seolah menanggapi masalah kecil. Kau tidak memikirkan nasib putrimu?"


"Aku sangat memikirkannya, Tuan. Karena itu biar sementara ini Zee memilih apa yang ingin dia lakukan. Aku tidak melarangnya."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


__ADS_2