Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tidak mendapat hasil


__ADS_3

Apa lagi yang bisa dilakukan selain menghembuskan napas mendengar data panti sebagian ikut terbakar membuat Ken melemas. Harapannya semakin menipis untuk menemukan anak John Lee.


Tidak dengan Lee, dia terlihat biasa saja. Tidak ada raut kekecewaan atau kesedihan. Mungkin bukan urusannya.


"Tapi masih ada harapan. Boleh saya lihat sisa data yang tinggal sebagian?" bagaikan mendapat angin segar, Ken kembali menegakkan duduknya. Siapa tau data diri anak itu masih ada.


"Baiklah kalau anda ingin melihat, saya ambilkan dulu." kata ibu itu.


Ken melihat kearah Lee. "Mudah-mudahan masih ada." kata Ken.


"Iya Tuan Muda." jawab Lee.


Tidak berapa lama ibu tadi membawa kardus yang berisi map berwarna warni. Tidak kesulitan karna map itu tidak terlalu banyak.


Ibu itu menaruh kardus diatas meja.


"Data di tahun 18xx tinggal ini saja, yang lain ikut terbakar waktu kejadian itu." kata ibu tadi.


Lee memulai membuka satu persatu lembaran kertas dan membaca namanya. "Namanya Frank Lee, kan Tuan?" tanya Lee.


"Iya, apa ketemu?" Ken sedikit terkejut. Ia menarik map yang dipegang Lee.


Saat membaca nama yang tertera ternyata bukan. "Kurang ajar kau, Lee. Kau mengerjai ku?! Ini bukan Frank Lee, baca dengan jelas itu Frans Leon!" Ken terlihat kesal. Menaruh map itu lagi dengan gerakan asal.


Lee menggaruk kulit kepala yang tidak gatal, "Saya tidak bilang menemukan data Frank Lee, Tuan. Saya hanya memastikan namanya saja." jawab Lee.


"Sama saja, kau tetap mengerjai ku." ucap Ken sinis.


"Frank Lee?!" ucap ibu tadi dengan lirih.


"Iya, apa Ibu tau?!" tanya Ken antusias.


"Sepertinya nama itu tidak asing, tapi Ibu juga tidak banyak mengingatnya." ucap Ibu itu.


"Coba Ibu ingat-ingat lagi. Saya sangat sedang mencari keberadaan Frank Lee." ucap Ken dengan serius.

__ADS_1


"Ibu tidak terlalu ingat. Tapi pernah ada sih nama Frank Lee yang pernah tinggal disini."


"Waktu malam-malam kami mendengar anak kecil sekitar umur empat tahunan menangis didepan panti. Ibu saya membawa anak itu masuk. Tidak ada data diri sama sekali, hanya saja anak itu memakai kalung bertuliskan Frank Lee. Sejak saat itu kami memanggil dengan nama Frank."


"Saya sedikit ingat karna waktu itu saya dan Frank Lee cukup dekat. Dia sangat pendiam." Ibu itu menghentikan ceritanya. Terlihat raut wajahnya sedang mengingat-ingat kejadian berpuluh-puluh tahun itu.


"Lalu, apa Ibu ingat dia pergi kemana atau diadopsi oleh siapa?!" Ken benar-benar sangat antusias.


"Dia tidak lama sih tinggal disini, hanya sekitar dua bulanan saja." lanjut Ibu tadi.


Ken mengernyit. "Dua bulan?!" ulangnya.


"Iya, karna sehari-hari kami selalu bersama. Saya sempat patah hati karna Frank Lee sudah diambil oleh keluarganya."


Ken lebih terkejut lagi. "Diambil oleh keluarganya?" lagi-lagi ia mengulang. Benar-benar bingung dengan semuanya.


"Iya, keluarganya orang kaya. Tapi saya tidak tau siapa. Waktu dulu ibu saya yang mengurus semuanya."


Ken menghembuskan napas panjang. 'Ini benar-benar rumit. Sama sekali tidak ada petunjuk dan jejak yang bisa dicari.' batinnya.


Ken sudah tidak berniat untuk berbicara. Ia melirik kearah Lee untuk memberi kode supaya dia saja yang berpamitan.


Ibu itu menggelengkan kepala dengan gerakan pelan. "Tidak Tuan. Yang mengurus data Frank Lee adalah Ibu saya, tapi beliau sudah meninggal."


"Baik, terima kasih Bu. Kami benar-benar membutuhkan informasi tentang keberadaan Frank Lee. Jika Ibu mengingat tentang sesuatu. Ibu boleh langsung hubungi saya." ucap Lee.


"Ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya kapanpun."


"Lee, catat nama panti asuhan ini dan masukan kedalam daftar tahunan." Ken menyela dan memberi perintah agar Lee memasukan nama panti asuhan yang mereka kunjungi untuk menerima bantuan dana seperti panti asuhan lain. Memberi donasi tetap untuk setiap tahunnya.


"Baik Tuan." jawab Lee.


"Ma maaf Tuan, maksutnya masukan kedalam daftar tahunan apa ya?!" tanya ibu itu tidak mengerti.


Tentu hanya Samuel Aeron Lee yang paham dengan kalimat yang keluar dari mulut tuan Ken. Kalimat singkat padat dan sama sekali tidak ada kejelasan.

__ADS_1


Bertahun-tahun menemani Ken, Lee sangat hapal dengan sikap Ken yang tidak suka berbicara panjang lebar kecuali didepan Kei atau orang dekat saja.


"Maksudnya setiap tahun perusahaan Tuan Muda akan menjadi donatur tetap di panti asuhan ini." Lee menjelaskan.


"Alhamdulillahirobbil alamin. Terima kasih Tuan, terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan Tuan, Tuan." ucap ibu itu mengucap syukur dan terima kasih kepada Ken dan Lee yang akan menjadi donatur tetap di panti asuhan itu.


"Sama-sama Bu. Baiklah, urusan kami sudah selesai. Kami permisi." Lee berpamitan.


Ken tidak mengucap kata lagi, ia berdiri menjabat tangan ibu itu dan bergantian dengan Lee. Lalu keduanya keluar dari rumah panti asuhan yang tidak terlalu besar.


Dihalaman depan mereka disambut lagi dengan suara riuh anak-anak panti yang berbaris dengan rapi.


Ken melewati anak-anak itu. Lee yang berada dibelakangnya menyempatkan diri untuk berhenti sejenak.


"Anak-anak, Paman kesini tidak bawa oleh-oleh karna tadi keburu hari sudah sore. Paman Janji, besok sore akan datang kemari dan membawa makanan yang banyak buat kalian ya," kata Lee didepan anak-anak itu. Raut wajah mereka terlihat sedih tapi mendengar Lee berjanji akan datang lagi dengan membawa makanan mereka semua kembali riang.


Tersenyum cerah kearah Lee. "Iya Paman, kami tunggu kedatangan Paman." jawab salah satu anak panti.


"Iya. Sekarang Paman pulang dulu. Maaf ya." Lee tidak enak hati memandang kearah mereka karna kedatangannya tidak membawa apapun. Sepulang dari rapat tadi ia lupa untuk mampir ke pusat pembelanjaan untuk sekedar membelikan makanan ringan.


Setelah berpamitan dengan anak-anak panti, Lee berjalan cepat menuju mobil agar Ken tidak marah karna membuatnya menunggu.


Baru duduk dibelakang kemudi, suara tegas dari belakang sudah terdengar.


"Lama sekali, Lee. Kau membuatku menunggu." ucap Ken dengan kesal.


"Maaf Tuan Muda, saya berbicara sebentar dengan anak-anak panti." jawab Lee. Ia telah menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraan dengan pelan.


"Apa yang kau bicarakan dengan mereka?" Ken penasaran untuk apa Lee berbicara dengan anak panti, padahal mereka tidak saling kenal.


"Tidak membicarakan hal penting, saya hanya berjanji pada mereka bahwa besok akan datang lagi dan membawakan mereka makanan." jawab Lee jujur.


"Oh..." Ken hanya ber Oh ria.


"Besok kalau kau kemari, aku juga titip bahan makanan dan bahan kebutuhan untuk mereka."

__ADS_1


Daftar tahunan masih lama, sepertinya panti itu sedang membutuhkan bantuan. Kirim juga peralatan bangunan untuk merenovasi semuanya. Kirim pekerja handal dan juga kepala proyek. Laporkan semua kegiatan sampai selesai."


Perintah dari tuan mudanya membuat Lee terbengong. Bahkan Ken sampai memberi bantuan untuk merenovasi bangunan panti itu.


__ADS_2