
"Luar biasa apa yang aku dengar, Kak. Calon anak kita." Zee tergugu di depan pintu. Hampir, hampir saja tubuhnya limbung karena keterkejutan yang amat luar biasa.
"Zee ...." Akio juga Naya sangat dan sangat terkejut melihat Zee bersandar di pintu dengan tangisan pilu.
Jantung Akio berdetak kencang. Ia pasti akan memberitahukan pada Zee, tapi menunggu waktu dan suasana yang pas. Bukan sekarang, di saat keadaan benar-benar masih keruh.
Akio beranjak mendekati Zee.
"Apa ini Kak? Kebenaran apa ini?" Mata Zee yang tergenang air mata menyorot penuh kekecewaan.
Akio memegang kedua bahu Zee untuk menenangkan, tapi segera ditepis.
"Kamu tega. Kamu benar-benar jahat, Kak!" pekik Zee. Lalu beralih pada Naya. "Dan kamu Nay! Ternyata kamu lebih buruk dari yang aku pikirkan!"
Menguatkan diri, Zee berbalik dan berlari menjauhi seseorang yang selama ini sangat diidamkan. Seseorang menjadi penyemangat dan motivasi hidupnya, tetapi semua tak sesuai harapan. Akio tega menjatuhkannya ke dasar jurang kekecewaan.
Sebelumnya.
Ia mendapat kabar dari Kyu kalau mommy Kei sedang di bawa ke rumah sakit, saat itu ia yang panik segera meminta izin pada orang tuanya untuk ikut menyusul ke rumah sakit.
Lee terkejut mendengar kabar itu, karena Tuan Ken belum memberitahunya. Akhirnya ia menyetujui Zee datang lebih dulu dan nanti ia akan menyusul bersama Dewi.
Sampai di rumah sakit, tak sengaja Zee melihat seseorang yang dikhawatirkan sedang menyusuri ruang demi ruang, posisinya lumayan berjarak hingga ia memilih mengejar tanpa memanggil.
Zee sempat heran kala tahu Akio justru menuju lantai bawah, lantai kelas 1. Ia merasa aneh, sangat tidak mungkin kalau mommy Kei akan di rawat di ruang itu.
Tuan Ken adalah salah satu donatur tetap di rumah sakit itu, setiap kali ada anggota keluarga yang sakit jelas mendapat perawatan di ruang VIP bahkan VVIP.
Lalu saat ini kenapa tunangannya itu justru ke lantai ruang kelas 1?
Dalam kekhawatiran dan rasa curiga ia tetap mengikuti Akio, bahkan tubuh pria itu sudah masuk ke dalam salah satu ruangan tapi ia masih berjarak beberapa meter.
__ADS_1
Tak lama Akio masuk, ia dikejutkan dengan keluarnya perempuan paruh baya yang menurutnya wajahnya begitu mirip dengan seseorang. Tapi entah, ia tidak begitu ingat mirip dengan siapa.
Setelah ia berlawanan arah dengan ibu Naya, Zee menuju ke pintu ruangan yang tadi di masuki Akio. Pintu yang tidak tertutup rapat membuatnya gamblang mendengar semua percakapan Akio dan seorang perempuan yang juga ia kenal. Mata Zee terkesiap melihat Akio menemui Naya.
Zee sudah berkaca-kaca saat mendengar Akio berkata 'apa kamu benar-benar tidak peduli dengan masa depan calon anak itu?' Pikirannya mulai cemas. Jantungnya berdebar menyakiti rongga dada. Pembahasan mereka masih belum jelas, tapi ia sudah memiliki insting buruk.
Dan, ditambah sakit mendengar ucapan Naya. 'Kamu cukup diam untuk menyimpan rahasia kalau kamu adalah ayah kandungnya.'
Mendengar itu Zee benar-benar terkejut. Ia hampir saja berteriak untuk menyangkal. Ia tak percaya bahwa Akio bisa melakukan itu dibelakangnya. Tapi perkataan Akio selanjutnya membuat dunianya hancur dan runtuh saat itu juga.
'Nay, ini hal serius. Cobalah memikirkan jangka panjang. Cobalah memikirkan ke depannya, tentang masa depanmu, masa depan calon anak itu. Kalau aku menuruti idemu, aku seperti lelaki pecundang yang lari dari tanggung jawab. Aku memang menikah dengan Zee tapi aku akan memendam rasa bersalah seumur hidupku. Aku sudah katakan, ini perbuatan kita berdua, jadi nggak adil kalau hanya kamu yang akan menanggung anak itu sendirian.'
Saat itu rasanya ia benar-benar tidak kuat. Nurani yang tersakiti menunjuknya untuk meminta penjelasan langsung. Agar Akio tak bisa berbelit.
Tapi, ia tak cukup kuat untuk tetap berada disana, dan Zee memilih terus berlari, ia bahkan menabrak beberapa orang dan mendapat makian. Tapi gadis itu tidak peduli. Sampai di pelataran rumah sakit, ia hampir terserempet mobil ambulance karena ia tiba-tiba berlari kencang.
Din din!
"Hati-hati, Mbak, jangan larian begitu! Beruntung nggak ketabrak," marah sopir mobil ambulance dengan membuka kaca mobil.
Akio berusaha mengejar Zee, akan tetapi kesulitan karena banyaknya orang berwara-wiri di lorong rumah sakit. Ia kehilangan jejak, sama sekali tak melihat Zee bahkan di pelataran rumah sakit sekalipun.
"Ya Tuhan ... di mana kamu, Zee?"
Akio belum beranjak, tetapi justru melihat mobil Lee mengarah ke parkiran. Ia menghela napas panjang. Entah, semua benar-benar menjadi kacau.
"Tuan Muda, kenapa Anda panas-panasan di sini?" tanya Lee. Ada Dewi juga di sampingnya.
"Aku mengejar Zee."
"Zee?!" Lee dan Dewi jelas bingung.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, Paman. Nanti Akio jelaskan. Sekarang Io mau mencari Zee lagi," ujar Akio dan berlalu pergi.
Lee dan Dewi melihat kepergian Akio.
"Mungkin mereka sedang bertengkar. Itu hal biasa, nanti juga baikan," kata Dewi yang justru diiringi senyuman. Ia belum tahu masalah besar yang sedang terjadi. Bukan pertama kali Zee dan Akio bertengkar, tetapi hanya beberapa jam sudah berbaikan. Begitu pikiran Dewi.
Lee mengangguk-angguk, lalu mengajak Dewi masuk. Namun dengan merogoh ponsel dan mencoba menghubungi Zee. Namun jelas tidak mendapat jawaban.
Bukan Akio saja, bahkan Naya ingin mengejar mereka berdua, tapi perawat melarangnya keluar. Selain takut kabur karena Naya belum melunasi biaya rumah sakit, perawat takut terjadi sesuatu pada Naya yang belum pulih total.
Akhirnya Naya digiring kembali ke ruangannya, di sana ia hanya bisa menangis. Menyalahkan dan mengutuk diri sendiri, hingga pikiran penuhnya membuat ia kembali tak sadarkan diri.
Di ruang Kei.
Perempuan paruh baya itu sudah kembali sadar, di kelilingi orang-orang tersayang akan tetapi sudut matanya tak bisa membendung air mata.
"Kei, ada apa, sayang? Kenapa kamu sedih dan nangis?" tanya oma Lyra dengan lembut.
"Iya. Kenapa Mom nangis terus? Ada apa? Kyu jadi khawatir," sahut Kyu dengan mencebik dan tak melepas genggamannya pada tangan ibunya.
Ken yang tahu alasannya masih diam saja. Tak berniat mengatakan dan justru mengalihkan pembicaraan mereka.
"Honey, kata dokter kau harus banyak istirahat. Jangan kepikiran hal berat," ujarnya.
"Di mana Io?"
Tak ada yang menjawab, Kyu lah yang menjawab. "Kakak masih di jalan."
Tok tok ...
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Ken." Lee dan Dewi sudah sampai di depan ruangan Kei.
__ADS_1
Semua menoleh. "Pagi, Lee." Oma Lyra yang menjawab karena Ken justru terdiam.
Diamnya Ken bukan karena tidak suka kehadiran Lee, tanpa diketahui siapapun, Ken merasa malu dan tak enak hati bila nanti semuanya akan terbongkar tentang hal buruk yang dilakukan putranya.