
"Cih, kau mengganggu Lee!" Ken melirik sinis.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak tau jika anda sudah datang." jawab Lee.
Terdengar Ken mendengus sebal. Ia kembali duduk disofa. Sedangkan Kei menundukkan pandangan karna malu.
"Dimana Mami dan putraku?"
"Saya juga belum melihatnya, Tuan."
"Memang kau dari mana?"
"Saya tadi sedang mengompres bibir yang bengkak, setelah itu makan di kantin." jawab Lee. Ia belum beranjak dan masih berdiri didepan pintu.
"Bukannya aku menyuruh untuk menjaga Kei, kenapa kau malah berkeliling rumah sakit, bodoh! Harusnya kau menunggu didepan." sentak Ken.
"Maaf kan saya, Tuan. Sewaktu saya pergi tadi Nona Kei sedang tidur. Dan, tadi anda juga berpesan pada saya untuk mengobati bibir yang terluka. Jadi salah saya dimana?" Lee ingin melayangkan protes. Apa tuan mudanya mulai pikun! Ingin ku maki habis-habisan, macan kumbang sepertimu!!!!
Lee benar-benar greget.
Merasa kalah telak, Ken terdiam.
Tak lama mami Lyra dan Kio mulai masuk. Kio sudah tidak menangis, tapi tidak mau mendekati Mommy nya. Akhirnya mami Lyra menaruh Kio dikursi sofa sudut ruangan.
"Ya Tuhan, putraku masih marah padaku. Sampai kapan dia akan begitu?" ucap Kei lirih, ia memperhatikan wajah putranya. Rindu, ia sangat merindukan sosok Kio yang selalu manja di pangkuannya. Ingin sekali ia memeluk Kio. Satu tetes airmata telah lolos. Senyum yang baru beberapa menit tersungging kini tergantikan dengan kesedihan.
Ken benar-benar tidak tega melihat kesalah pahaman ini berlanjut. Bingung, ia sangat bingung, apa yang harus dilakukan.
"Putra kita pasti baik-baik saja dan akan kembali memelukmu. Aku janji akan mengembalikan senyum kalian. Tapi bersabarlah. Semua tidak bisa dipaksakan."
"Tapi aku hanya sedih,"
"Sstt.." Ken memeluk Kei.
Kio sedikit tenang dan mulai mau bermain dengan mainannya yang dibelikan Ken saat ke Mall tadi.
Mami Lyra mendekati ranjang Kei dan mengelus lengan tangannya. "Sabar Sayang, Kio sangat sayang pada mu, dia hanya kecewa karna pesta ulang tahunnya kacau dan merasa sedih tidak bisa motong kue dengan kalian. Namanya masih anak kecil belum bisa mengerti keadaan yang sebenarnya. Kita sebagai orang dewasa harus memaklumi." mami Lyra memberi pengertian.
__ADS_1
"Iya Mi, gara-gara aku pingsan, pesta ulang tahun Io berantakan." Kei menyalahkan diri sendiri.
Ken mendekap dari samping, mami Lyra mengelus rambut Kei.
"Honey, jangan terlalu berpikir berat. Kasihan calon anak kita kalau kau sedih dia juga ikut sedih. Pikirkan juga kesehatannya." Ken mengelus perut Kei.
"Iya, perutku juga sedikit sakit." kata Kei sedikit meringis.
Kio yang seolah asik dengan mainannya sebentar-sebentar melirik kearah kedua orang tuanya. Tapi tetap tidak mau mendekat.
"Honey, perut mu sakit?"
"Sayang, makanya jangan terlalu banyak pikiran."
Ken dan mami Lyra terlihat cemas.
"Ken, panggil dokter!" perintah mami Lyra.
Ken langsung menekan tombol didinding sebanyak-banyaknya. Kei terus memegangi perutnya.
Terlihat jelas orang-orang dewasa itu sefang panik.
"Dad, Io mau pipis." Kio setengah berteriak memanggil Ken.
"Sayang, minta antar Paman Lee. Lihat, Mom sedang sakit." Ken menolak. Ia masih mendekap tubuh Kei.
Lee sudah bersiap akan menggendong Kio dan membawanya kekamar mandi, tapi bocah itu menolak. Bocah berumur lima tahun itu sangat keras kepala, apapun yang di mau dan diperintahkan semua harus sesuai kemauannya.
Lee gagal membujuk Kio, kini mami Lyra yang mencoba membujuk dan io mau pergi bersama Omanya.
Saat sudah selesai, mami Lyra ingin mendekat keranjang Kei, Kio kembali meronta dan menolak. Bocah itu meminta duduk disofa.
Rombongan dokter sudah berdatangan, panggilan dari kamar khusus itu adalah hal utama. Mereka harus siap siaga.
Melihat semua orang sibuk mengurus Mommy nya, Kio semakin bersedih. Belum apa-apa adik bayinya sudah mencuri perhatian semuanya.
Ia semakin kesal, marah dan kecewa. Saat dirinya membutuhkan Daddy nya tapi Daddy tidak mau mendengarnya.
__ADS_1
Kio memendam kekesalan, tanpa berpikir apapun secara diam-diam ia memilih keluar.
Kaki mungilnya berjalan menyusuri lorong rumah sakit seorang diri.
Ini pertama kali pergerakannya tak ada yang mengawasi. Semua sibuk sendiri.
"Aku tidak suka adik bayi. Io nggak mau punya adik." io berbicara sendiri. Kakinya masih terus berjalan sampai dia keluar dari area rumah sakit. Tubuhnya yang kecil memudahkannya untuk menyelinap dibalik lalu lalang orang-orang dewasa.
Tidak tau arah tujuan, Kio hanya berjalan mengikuti langkah kakinya. Semakin jauh dia berjalan hingga keluar dari area rumah sakit.
Satpam yang berjaga tidak begitu paham dengan wajah Kio, ia berjalan diantara orang dewasa hingga seolah dirinya anak orang lain.
Merasa kesal dan lelah, ia duduk ditrotoar. Wajahnya masih terlihat sedih. "Dad dan Mom jahat. Mereka tidak sayang dengan Io. Mereka tidak mau potong kue dengan Io. Daddy tidak mau bersama Kio. Daddy maunya bersama adik bayi. Io benci mereka. Io nggak mau bersama mereka." sungutnya kesal.
Bocah berumur 5tahun itu duduk dipinggir jalan dengan mengamati kendaraan yang lewat. Tidak memiliki rasa takut dan malah merasa bebas. Ia tidak melihat Daddy dan Mommy nya yang sudah tidak lagi perduli dengannya.
Dikamar rawat Kei, sedang mencemaskan kondisi ibu hamil muda. Ketika dokter memberi penanganan, Kei sudah mulai tenang.
"Nona, tolong usahakan jangan banyak berpikir. Jika anda terlalu stres sangat berpengaruh buruk dengan calon anak anda. Bahkan bisa berakibat fatal. Bisa saja anda mengalami keguguran. Di kehamilan awal sangat rentan sekali dengan bahaya itu." terang dokter.
"Kau harus dengarkan perkataan Dokter," ucap Ken.
"Tapi aku sedih melihat Io marah padaku." mata Kei ingin melihat putranya. Ia melihat ke arah sofa. "Io, dimana?" ucap Kei dengan kepanikan.
Semua langsung tertuju ke sofa, tapi tidak ada bocah kecil itu. Hanya tinggal mainan dan makanan ringan.
"Aeron Lee!!!!!" Ken berteriak memanggil sekretarisnya.
Lee yang masih didalam kamar mandi tersentak kaget dan segera menyelesaikan aktivitasnya. Dari suaranya saja sudah terdengar mengerikan.
Secepat kilat ia berlari keluar dan menghampiri tuan Ken yang sudah terlihat menakutkan.
"Dimana putraku!!!" sentaknya.
"Di so...f" kedua bola mata Lee melotot. Di sofa itu sudah tidak ada siapapun.
"Ta tadi ada disofa, Tuan muda." wajah Lee benar-benar pucat. Jika keturunan tuan Ken benar hilang, maka akan menjadi masalah besar. Tidak akan terprediksi semarah apa raja bisnis itu. Bahkan bangunan rumah sakit yang kokoh bisa saja rubuh dalam sekejap. Benar-benar mengerikan.
__ADS_1