Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Calon Anak Kalian?


__ADS_3

Tuan Ken tampak cemas menunggu keadaan istrinya yang sedang diperiksa dokter. Oma Lyra juga Kyu baru saja sampai karena mengendarai mobil yang berbeda. Oma Lyra yang belum tahu apa-apa langsung melayangkan pertanyaan.


"Ken, bagaimana Kei? Kenapa dia tiba-tiba pingsan? Tadi pagi baik-baik saja 'kan?"


Ken mengembus napas panjang. Pria paruh baya itu bingung harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi atau tidak. Bisa diprediksi, oma Lyra pun akan syok mendengar cucu kesayangannya membuat kekacauan yang begitu fatal. Ya Tuhan ....


"Mami tanya sama kamu, Ken! Kenapa kamu diam saja?" oma Lyra menyadarkan, karena Ken hanya diam saja dengan raut bingung dan seperti sedang ada masalah.


"Mungkin Kei hanya kelelahan saja, Mi," jawab Ken terpaksa berbohong. Saat ini ia berusaha menutupi yang terjadi agar oma Lyra juga tidak syok. Ia jelas kewalahan bila keduanya sampai drop.


"Mom nggak kenapa-kenapa 'kan, Dad?" Kyu mencebik dengan bola matanya mengeluarkan air mata.


Ken meraih tubuh putri bungsunya untuk dipeluk. "Kita berdoa semoga Mom tidak kenapa-napa. Cuma pingsan karena kelelahan, dan akan cepat bangun," ujar Ken menenangkan kecemasan Kyu. Padahal hatinya juga sangat khawatir.


"Kak Io kok nggak ada? Emang Kakak belum tahu kalau mom pingsan?"


"Kakakmu masih di jalan," jawab Ken singkat. Ia pun tak tahu sang putra yang menyebabkan Kei pingsan menyusul ke rumah sakit atau tidak. Ia tidak memikirkannya, saat ini fokus dengan keadaan Kei.


*


Di kamar lain.


"Nay, jangan banyak bergerak, Nak. Kata dokter keadaanmu masih lemah."


"Aku mau ke kamar mandi, Bu."


Ibu Naya lalu beranjak untuk membantu anaknya pergi ke kamar mandi.


Saat itu terdengar seseorang mengetuk pintu, dan tak lama seseorang itu langsung masuk. Namun terkesiap mendapati brankar Naya kosong tak ada siapapun.


Begitu kakinya mendekat, rungunya mendengar gemercik dari dalam kamar mandi. Akhirnya ia bernapas lega.

__ADS_1


Sebelumnya ibu Naya menunggu di luar, tetapi ketika Naya memanggil karena membutuhkan bantuan, ibu Naya ikut masuk ke dalam. Ternyata Naya kesulitan mengambilkan selang infus yang tergantung di tempat tinggi. Dan ibu Naya membantu mengambil dengan sekalian menghidupkan kran air untuk persediaan ia mandi nanti.


Ceklek ....


Naya dan ibunya jelas terkejut melihat seseorang sudah duduk di sofa. Pria itu tersenyum singkat. Ibu Naya membalas dengan senyum ramah karena yang ia tahu pria itulah yang menolong Naya, hingga putrinya segera mendapat pertolongan medis.


"Nak, kamu menjenguk Naya lagi?"


"Iya, Bu. Tidak apa 'kan?"


"Tidak apa. Ibu malah seneng kamu datang lagi. Naya bisa ada teman. Ibu mau pulang sebentar buat ambil baju ganti dan keperluan lain."


"Bu, katanya ibu mau pulang nanti siang," sahut Naya.


"Mumpung kamu ada temennya, biar Ibu pulang sekarang. Kamu tahu sendiri kalau Bude Tika biasanya keburu ke toko. Kalau pagi begini masih ada di rumah." Ibu Naya ingin menemui tetangganya yang semalam karena ingin meminjam uang untuk biaya Naya.


Setelah beberapa saat, Akio duduk di kursi tunggal dekat brankar Naya.


Naya melihat wajah Akio yang terlihat lesu dan rautnya tidak secerah biasanya.


"Sudah mendingan."


"Kamu belum sarapan?" Akio melirik jatah makanan di atas nakas yang masih utuh.


"Belum. Nanti aja."


"Bubur enaknya di makan pas masih hangat, kalau udah dingin ngurangin cita rasa." Akio mengambil mangkuk berisi bubur dan mengasurkan pada Naya.


Mata Naya menyipit. Ia tak mau salah sangka dengan sedikit perhatian dari pemuda itu.


"Aku nggak selera makan bubur. Biar nanti aja nunggu ibu balik karna aku tadi udah pesen ibu buat dibawain opor ayam."

__ADS_1


Beberapa saat hening, Akio meletakkan mangkuk itu kembali. Mungkin saat ini raganya berada di ruang rawat Naya, tetapi jiwanya masih memikirkan kondisi mommy Kei.


Sebelum ke ruang Naya, Akio sempat ingin berbelok ke ruang VVIP tempat mommy Kei di rawat, tapi melihat daddy Ken, oma Lyra dan Kyu, rasanya ia belum sanggup untuk menemui mereka.


Dan entah bagaimana, tanpa sadar ia justru sudah berdiri di depan kamar Naya yang berbeda lantai dan ruangan. Karena Naya berada di ruang kelas 1.


"Yang semalam," ujar Naya.


Akio langsung memperhatikan Naya.


"Aku mohon setujui perkataanku yang semalam."


"Apa kamu benar-benar tak peduli dengan masa depan calon anak itu?


"Ini bukan tentang peduli atau nggak peduli. Tapi demi kebaikan kita. Dan justru karena aku sangat peduli, maka aku nggak mau keberadaanya diketahui dan disalahkan oleh keluargamu maupun keluarga Zee. Kamu hanya cukup diam untuk menyimpan rahasia kalau kamu ayah kandungnya."


"Telat, aku udah kasih tahu kedua orang tuaku."


Naya melebarkan bola mata, ia sangat terkejut. Baru semalam mewanti Akio agar merahasiakan semuanya, tapi ternyata pria itu tak menggubris permohonannya.


Detik berikutnya Naya menunduk lalu mulai meneteskan air mata. "Kenapa kamu nggak mau menuruti kemauanku?! Aku mencari jalan keluar yang bisa buat semuanya damai tapi kamu malah memperkeruh suasana. Apa semua akan baik-baik saja setelah orang tuamu tahu? Bukan hanya kecewa, mereka pasti marah besar, bukan?!"


"Bahkan ibuku belum tahu kalau kamu ayah dari calon anakku. Tapi kamu dengan gegabah sudah memberitahu orang tuamu."


"Nay, ini hal serius. Cobalah memikirkan jangka panjang. Cobalah memikirkan ke depannya, tentang masa depanmu, masa depan calon anak itu. Kalau aku menuruti idemu, aku seperti lelaki pecundang yang lari dari tanggung jawab. Aku memang menikah dengan Zee tapi aku akan memendam rasa bersalah seumur hidupku. Aku sudah katakan, ini perbuatan kita berdua, jadi nggak adil kalau hanya kamu yang akan menanggung anak itu sendirian."


"Kamu memikirkan jangka panjang, tapi aku memikirkan yang sekarang. Dua bulan lagi kamu akan menikah, Akio! Akan menikah! Aku nggak mau mengacaukan semuanya. Sama sepertimu, aku juga akan terbebani rasa bersalah seumur hidup dengan Zee. Katakan aku bodoh karena waktu itu nggak mikir akibat buruk dan jangka panjang dari perbuatan zina. Tapi, semua sudah seperti ini. Aku harap semuanya akan selesai dengan kita menyimpannya rapat-rapat, tapi kamu gegabah dan mengacaukannya." Bahu Naya terguncang karena tangisnya semakin pilu. Ia tak menyangka Akio sungguh memberitahu kedua orang tuanya. Ia membayangkan keadaan yang akan semakin rumit.


"Maaf, tapi aku juga punya keputusan keputusanku akan tetap menikahimu demi masa depan dan status jelas untuk calon anak kita."


Akio benci dengan satu waktu yang telah melihat beberapa perempuan menangis di hadapannya. Mommy Kei, oma Lyra, Kyu, dan saat ini Naya.

__ADS_1


Ceklek! Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar.


"Apa?! Ca-calon a-anak kalian?!" ucap perempuan dengan suara terbata dan tenggelam dalam isak tangis.


__ADS_2