
"Tuan, terima kasih banyak untuk kebaikan anda. Terima kasih, tuan." Ibu Esih berlutut didepan tuan Ken. Bukan hanya bude Parmi yang menjadi penjilat, kini wanita yang angkuh tadi tidak berdaya dan menjatuhkan harga dirinya didepan tuan Ken dan juga Kei.
"Ibu, jangan seperti ini. Bangunlah." pinta Kei, kedua tangannya menyentuh punggung ibu Esih dan mengarahkannya untuk berdiri.
"Sweety, cukup. Jangan terlalu baik dengannya, apa kau lupa dengan perkataannya yang menghinamu tadi?" tuan Ken menunjukan sikap tidak suka.
"Sayang, aku tidak lupa. Tapi aku mencoba melupakannya. Lihatlah, mereka tidak berdaya. Cobalah untuk memaafkan kesalahan orang lain." bukan Kei tidak perduli dengan kekesalan dan kekecewaan tuan Ken terhadapnya. Melainkan ingin memberi sedikit pemahaman, jika memaafkan kesalahan orang lain itu tidak salah, itu perbuatan mulia. Dia tau sikap tuan Ken yang dingin dan kejam pada orang yang sudah membuat kesalahan, dengan pelan Kei ingin mengajari tuan Ken tentang kebaikan.
Tangan tuan Ken menyusuri leher Kei dan memimpinnya untuk masuk kedalam dekapannya. "Kenapa...? kenapa kau harus sebaik ini? dan aku selalu tunduk padamu." kata tuan Ken lirih, mengecup kening Kei dengan lembut. Tidak perduli dengan orang-orang yang melihatnya. Kei menutup mata sejenak untuk meresapi segala rasa sayang.
Orang-orang yang menyaksikan terdiam, tidak berani mengganggu mereka. Izham yang masih bersimpuh ditempat yang tadi hanya menundukkan pandangan, sebisa mungkin menahan rasa perih. Semua kesalahannya, membuang wanita seperti malaikat demi Mira. Meskipun Mira sudah berubah akan tetapi dihati Izham masih merasakan penyesalan.
Kini kata 'andai' kian menusuk hatinya, hanya kata andai tanpa bisa terwujud seperti keinginannya. Dalam hati menerutuki semuanya, andai dulu dia tidak bermain api, andai dulu dia tidak tergoda dengan wanita lain, andai dulu dia mau bersabar dan berjuang dengan wanita itu. Semua hanya tinggal penyesalan. Izham semakin menundukan pandangannya, jika melihat pemandangan didepannya hati itu berdenyut perih seperti tergores tajamnya pisau.
Ibu Esih yang masih bersimpuh didepan tuan Ken dan Kei begitu jelas melihat pemandangan yang sulit diartikan. Mantan menantu yang dulu hidup sederhana dan selalu tersisih kini mendapatkan keberuntungan, terlihat jelas lelaki yang menjadi suaminya sekarang sangat menyayangi dan mencintai Kei. Mereka terlihat sangat bahagia. Ibu Esih tidak bisa berkata apa-apa, dia turut menyesal sudah memperlakukan Kei dengan buruk, tindakannya yang dulu sangat keterlaluan. Kei wanita yang sangat baik, kejahatannya yang dulu dan juga beberapa menit lalu dibalas dengan kebaikan. Disaat keadaan darurat seperti ini justru wanita itu yang menolong nyawa suaminya. Ibu Esih sangat malu dihadapan Kei.
"Terima kasih, sayang. Sudah menuruti kemauanku." kata Kei, dia menjauhkan diri. Tuan Ken mengangguk.
__ADS_1
"Anda bisa lihat, istri saya begitu baik. Jika bukan karna dia, aku tidak akan sudi membantu keluargamu bahkan aku pastikan keluargamu hancur seperti debu. Bahkan aku membebaskan wanita rubah itu karna permintaan Kei, jika tidak! kau akan membusuk dipenjara!" tuan Ken berbicara dingin.
"I-iya tuan." jawab Ibu Esih, melirik sebentar kearah menantunya.
Mira menunduk takut, tidak berani menatap kearah tuan Ken.
"Sekarang minta maaf pada istriku." perintah tuan Ken. Ibu Esih segera mendekati Kei dan lagi berlutut dihadapan Kei. "Maafkan ibu, Kei. Ibu banyak berbuat salah padamu, ibu jahat denganmu, memfitnahmu dan menyebar berita yang tidak benar pada orang-orang desa. Maafin Ibu."
"Ibu-ibu, berdirilah. Jangan seperti ini, tanpa ibu meminta maaf, Kei sudah melupakan semuanya." kedua kalinya Kei mengarahkan ibu Esih untuk berdiri, dia tidak tega melihat mantan mertuanya bersimpuh merendahkan dirinya. Meskipun ibu Esih sudah menyakitinya terlalu dalam tapi Kei mencoba untuk memaafkan dan melupakan semuanya. Kei sangat bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang, dan tidak akan mengingat-ingat kenangan buruknya yang telah berlalu, semua biar terkubur bersama berlalunya waktu.
Bukan hanya Kei yang memiliki pemikiran seperti itu, ibu Esih pun sama. Kenapa dirinya dulu tidak mau membuka hati untuk mengenal Kei, mengenal kebaikan menantunya. Kini hanya tinggal penyesalan yang bisa dijadikan pelajaran. Sebagai sesama manusia tidak boleh memandang hanya dari fisiknya saja, apalagi membenci ketidaksempurnaan orang lain. Belajar menilai orang dari kebaikannya.
"Ayo kita pulang." tuan Ken mengajak Kei untuk pulang, dirasa mereka sudah terlalu lama berada disana dan itu membuat nafas tuan Ken seperti tercekik dengan keberadaan para penjilat.
"Bagaimana dengan pak Wahyu?" tanya Kei.
"Hei Honey, apa lagi? Bapak itu sudah dibawa kerumah sakit, kau tidak perlu khawatir." jawab tuan Ken. Kei memandang wajah suaminya, hari ini sudah terlalu banyak permintaan. Apakah tuan Ken masih mau mengabulkan permintaannya. Kei berganti melihat balita yang ada digendongan Mira, balita itu terlihat kurus. Pandangannya begitu nanar melihat keadaan rumah yang berbanding jauh dengan rumah ibu Esih yang dulu.
__ADS_1
"Aku tau yang kau pikirkan!" ucap tuan Ken. "Apa?" tanya Kei. Tuan Ken menghela nafas. "Kau..." tuan Ken menunjuk tepat diwajah Izham. "Sa-saya tuan?" jawab Izham masih merasa takut.
"Setelah kondisi ayahmu membaik, kembalilah bekerja di Kantorku." perintah tuan Ken.
"Apa?" Izham sangat terkejut mendengar perintah tuan Ken yang menyuruhnya untuk kembali bekerja dikantor.
"Hiya... kau berani berbicara keras kepadaku! kau ingin ku hajar lagi!"
"Tidak-tidak tuan, maaf. Saya terkejut dengan perkataan anda tadi. Apa yang anda katakan tadi benar tuan? jika saya boleh kembali bekerja dikantor anda." Izham memberanikan diri menanyakan kebenaran dari perkataan tuan Ken.
"Hah... aku malas mengulang. Lee, urus saja. Aku sudah sangat lelah hari ini." tuan Ken tetap tuan Ken yang sangat malas merangkai kalimat panjang saat berbicara dengan orang lain. Tuan muda dingin itu hanya akan menjadi bawel dihadapan Kei.
Menarik Kei untuk keluar dari rumah petak itu, dibiarkan sekretaris Lee yang akan menjelaskan semuanya. Sekretaris yang selalu mengerti kemauan tuan mudanya, walau tuan Ken hanya mengatakan kalimat singkat maka dia sudah bisa menebak.
"Kau pasti tau hari ini aku sangat lelah." mereka sedang berjalan pelan menuju kerumah bude Parmi dan akan berpamitan pada keluarga itu. Kei mengangguk menanggapi perkataan suaminya barusan.
"Sampai dihotel kau harus memberiku imbalan." tuan Ken menyeringai. Kei menatap horor tapi didalam hati merasa senang dan lega. Hari ini dia bisa melihat sisi baik dari tuan Ken yang masih mau mempertimbangkan sebuah keputusan baik.
__ADS_1