Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kebenaran Mira yang baru terungkap.


__ADS_3

Untuk membahagiakan pasangan mulailah dari hal kecil, perhatikan hal apa yang membuat pasangan bisa tersenyum saat kita melakukannya.


Perhatian sekecil apapun akan menimbulkan kebahagiaan yang sederhana. Tidak perlu bermuluk-muluk mengatakan kata palsu yang hanya terucap dibibir saja.


Kedua insan yang sama-sama ingin membahagiakan pasangannya itu masih betah duduk ditaman rumah sakit. Tuan Ken masih mengamati wajah istrinya yang lebih segar dibandingkan hari sebelumnya.


"Melihatmu tersenyum seperti ini, membuatku bahagia." jemari keduanya masih bertautan. Manik mata yang memperhatikan gerakan bunga-bunga didepan, kini beralih menatap suami tampan yang duduk disamping.


"Kau dulu lelaki yang dingin, kenapa sekarang berubah sangat romantis?" Kei mengulum sebuah senyuman untuk tuan Ken. Mengetahui tuan Ken bahagia melihat senyumannya, ia semakin bersemangat untuk menunjukan.


"Kau yang mengubahku menjadi lelaki normal." ucapnya dengan pandangan lurus. Ia sendiri menyadari perubahannya.


"Berarti sebelumnya tidak normal?" sebuah ledekan hanya untuk candaan semata.


"Bukan seperti itu juga, Keihana Kazumi." tuan Ken mencegah pemikiran Kei yang akan menjerumus kesesuatu hal yang aneh.


"Iya-iya aku tau. Bercanda." Kei terkekeh kecil. Membuat tuan Ken semakin gemas.


"Ayo kita masuk," merasa sudah cukup menghirup udara segar, tuan Ken mengajak Kei untuk kembali keruangannya. Ruangan sepetak yang sangat membosankan.


"Aku masih ingin disini, sayang." kekehan tadi berangsur hilang, berubah murung.


Tuan Ken menghela nafas. "Kau tau kenapa aku mengajakmu masuk kedalam?" sudut bibirnya terangkat keatas.


"Apalagi? karna kita sudah terlalu lama disini. Kulitmu yang seperti porselin akan terbakar jika kelamaan tersengat matahari." kata Kei, tidak memperdulikan tuan Ken. Diajak masuk kedalam, ia tau akan kembali terperangkap dalam sangkar.

__ADS_1


"Kau ini, bukan karna itu. Aku merindukan canduku." berbisik lembut disebelah telinga istrinya. Membuat semburat kemerahan dipipi Kei muncul, Kei tau yang dimaksud dengan 'canduku'.


"Besok kita bisa duduk disini lagi, sekarang sudah waktunya kau kembali berbaring. Jangan membantah, pikirkan juga calon anak kita." tuan Ken berdiri dibelakang kursi roda, bersiap membawa Kei masuk kedalam rumah sakit.


Sekretaris Lee, dokter dan juga perawat mengikuti dibelakang.


Tuan muda berkuasa itu tidak malu mendorong kursi roda istrinya, tidak memperdulikan pandangan mata disekitar sana. Ia bahkan merasa sangat senang melakukan itu.


Kei memegang tangan tuan Ken, memberi tanda agar memelankan dorongannya.


Kei terkejut melihat pria dan wanita yang tidak asing. 'Mas Izham, Mira, dan Bu Esih, sedang apa mereka ada disini? apa pak Wahyu dipindahkan kerumah sakit ini?' Kei menyimpan pertanyaan itu dalam hati.


Tuan Ken juga melihat, ketiga orang itu sedang beradu mulut didepan salah satu ruangan.


Menuruti perintah Kei, ia sudah memelankan dorongan kursi roda.


Kei menengadah melihat wajah tuan Ken. Entah bermaksud meminta izin untuk mendekat atau untuk menanyakan yang terjadi didepannya. Padahal tuan Ken juga tidak mengetahui apa-apa. Ia mengangkat bahu.


Saat ini mereka hanya berjarak beberapa meter, Kei bisa mendengar, karna Izham membentak Mira dengan suara yang lumayan keras.


"Jadi selama ini Devina itu bukan anakku?" meski suara Izham sedikit melemah tapi Kei dan yang lain masih bisa mendengar. Izham dan yang lain masih belum menyadari keberadaan Kei disana.


Mendengar itu Kei menyembunyikan keterkejutan dalam hati.


"Mas, jangan berbicara seperti itu. Devina anakmu, putri kita." Mira ingin menenangkan amarah Izham, dipipinya masih meneteskan airmata.

__ADS_1


"Kamu kira aku bodoh? golongan darah Devina tidak cocok denganmu, harusnya cocok dengan darahku. Tapi kenyataanya... kau membohongiku Mira, atau jangan-jangan Devina itu anak si breng**k Dimas! hah... katakan!" emosi Izham memuncak hingga sulit untuk diturunkan.


"Izham, tenanglah. Kau lupa kita sedang dirumah sakit. Kau mau orang-orang mendengar pertengkaranmu!" Ibu Esih menghentikan Izham.


"Bagaimana Izham bisa tenang, Bu? kenyataan macam apa ini?" Izham memandang Ibunya beberapa saat. Lalu mengalihkan pandangan melihat Mira yang terisak dikursi tunggu.


"Saat aku melihat foto cumbuanmu bersama Dimas, aku selalu menyangkal bahwa semua itu tidak benar. Kau selalu bilang itu rekayasa tuan Ken untuk mempermalukanmu, aku sudah mempercayaimu. Membuang berlian hanya untuk wanita sepertimu. Bodohnya aku!" Izham meremas rambutnya sendiri. Menyesali semuanya, rahasia besar baru terungkap sekarang. Menyakiti Kei hanya demi wanita bernama Mira yang tanpa perasaan sudah membohonginya.


"Aku mohon mas, kita bisa lakukan tes DNA." kata Mira disela tangisannya, meski mengatakan itu dengan keadaan waspada tidak ada pilihan lain lagi. Mira sudah kepalang basah, jika melakukan tes DNA ia bisa memalsukan data, orang yang berpikir licik ketika keadaan terpaksa ia akan lakukan apapun.


"Baik, kita akan buktikan lewat tes DNA." Izham menerima usulan dari Mira. Bisa terlihat wajah Mira semakin menegang. Namun ia memang pandai menutupinya.


"Ini semua salahmu juga Izham, kenapa dulu menceraikan Kei. Nyatanya wanita itu tidak mandul, dia bisa hamil dengan suaminya yang sekarang." kata Ibu Esih.


"Kenapa Ibu menyalahkan Izham. Bukankah Ibu yang meng-klaim Kei mandul. Ibu juga sangat bahagia ketika Izham mengatakan sudah berpisah dengan Kei. Lalu sekarang Ibu menyalahkan aku?" Izham terlihat tidak terima disalahkan oleh Ibunya.


Ibu Esih membeku, apa yang dikatakan putranya memang benar. Ia-lah yang mendukung perceraian itu, tapi nyatanya kini menyesal. Menyesal pun sudah sangat terlambat. Ia hanya menatap menantunya dengan nanar, kesedihan, kemarahan menyatu menjadi satu. Jika tidak teringat sedang dirumah sakit, ia pasti sudah menampar dan menjambak rambut Mira, memaki dengan kata kasar.


Tuan Ken dan Kei menjadi penonton setia, masih berdiam ditempat yang tadi.


'Kau dulu membuangku bagai sampah, dan sekarang mendapat wanita seperti sampah. Inikah balasan untukmu, mas? mungkin dulu kau lupa jika Tuhan itu Maha Adil, ia akan memberikan karma disetiap perbuatan. Entah itu baik atau buruk. Aku dulu pernah sangat mencintaimu, tapi kau menghianati cintaku. Kau sia-siakan keberadaanku.


Kini kau baru menyadari kebaikanku, kesetiaan dan juga rasa cintaku. Tapi semua itu sudah terlambat. Penyesalan seperti apapun tidak akan membalikan waktu. Yang berlalu hanya akan menjadi kenangan.


Berpisah denganmu aku menemukan kebahagiaanku yang sejati, seorang lelaki yang sangat mencintaiku. Meski cintanya berbeda, tapi aku sangat bersyukur bisa menemukan sosok imam yang baik. Semoga untuk masalahmu juga ada jalan keluar.' dengan menatap Izham yang berada tak jauh darinya, Kei hanya mampu mengatakan suaranya dalam hati.

__ADS_1


Tuan Ken mengelus pundak istrinya. Kei membalas dengan mengusap punggung tangan suaminya. Memberi isyarat semuanya baik-baik saja.


__ADS_2