Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Dalam Kondisi Lemah.


__ADS_3

"Tuan muda, hentikan!" Lee berlari menghampiri tuan mudanya yang sedang mencekram kerah baju Ray, adiknya sendiri. Tangan yang terkepal itu sudah siap melayangkan bogem mentah, sekretaris Lee harus segera mencegah.


Itulah keadaan tuan Ken jika sedang diselimuti amarah, siapapun yang mendekatinya harus siap mental dan siap mendapat amarah yang sangat sulit ditangani. Tuan muda itu tidak pandang bulu pada siapapun yang mengganggunya atau yang tidak ia sukai, meskipun itu orang terdekatnya. Amarah yang sudah meluap akan sangat sulit dikendalikan, apapun yang didekatnya akan menjadi sasaran.


Sekretaris Lee lah yang paling sering mendapat pelampiasan amarah tuan Ken, tapi karna kesetiaannya dia masih bertahan disamping tuan Ken. Sampai kapanpun dia akan selalu setia berdiri dibelakang tuan Ken, itu janjinya sendiri pada tuan Ken.


"Lee, kau datang? aku ingin melampiaskan sesuatu!" tuan Ken menahan rasa sesak diulu hati, dada itu bergemuruh panas menunggu para dokter yang belum keluar.


"Luapkan amarah anda pada saya, tuan muda." sekretaris Lee menahan tangan tuan Ken yang masih menggantung diudara, terlihat Ray sudah sangat ketakutan dengan kakaknya.


Buk... Brak...


Lee terjatuh menabrak pot bunga yang ada dipinggiran pintu sebagai hiasan. Seketika ujung bibirnya mengeluarkan darah karna tinjuan dari tuan Ken.


"Aaakh....." tidak puas, tuan Ken meninjukan kepalan tangannya kedinding hingga tangannya mengeluarkan darah. Melihat itu sekretaris Lee segera bangkit dan kembali menghampiri tuan Ken. "Tuan muda, saya mohon jangan sakiti diri anda. Tenanglah." tuan Ken terduduk dilantai. Tidak dihiraukan tangan yang mengucurkan darah segar, bayangannya teringat dengan istrinya yang juga mengalami pendarahan.


"Lee, aku harus bagaimana? Kei... Kei kenapa? ada apa dengannya? bukankah aku sudah menjaganya? apa aku sudah teledor? kenapa Kei bisa pingsan? bahkan mengeluarkan darah? anakku... anakku bagaimana Lee? aku sudah lama menantikannya. Kenapa Kei dulu harus mendonorkan ginjalnya untukku? sekarang nyawanya dalam bahaya, apakah aku harus mengembalikan ginjalnya? aku rela tiada yang terpenting Kei bisa selamat." saat ini perasaan tuan muda itu benar-benar kacau. Entah alasan apa dirinya menyesal, merasa kurang maksimal dalam menjaga keamanan istrinya.


Dalam sejarah, baru ini tuan muda itu berbicara panjang lebar. Bahkan sudut matanya berair. Begitu sedih, khawatir, panik, takut, semuanya menjadi satu menghantui pikirannya.


Mami Lyra yang baru datang sudah berderai airmata, segera mendekap tubuh Ken yang terduduk dilantai dan bersandar ditembok kokoh belakangnya.

__ADS_1


"Ken...Ken, tenanglah. Ceritakan pada mami, istrimu kenapa?" tanya mami Lyra sambil mengusap lengan anak pertamanya. Ray dan sekretaris Lee hanya mengamati.


"Kei, mi. Kei tadi pingsan dan berdarah, aku takut terjadi sesuatu dengannya dan juga calon anakku." jawab tuan Ken dengan suara yang bergetar.


"Astagfirullah, ber-berdarah?" mami Lyra terbata, dirinya juga terkejut. Kini ia ikut khawatir dengan kondisi menantunya. Tadi Ray tidak memberitahu keadaan Kei, dia hanya mengatakan jika harus menyusul kerumah sakit.


"Sabar Nak, kita berdo'a semoga tidak terjadi sesuatu yang serius dengan anak dan istrimu." mami Lyra mengusap punggung Ken. Ken sendiri hanya diam, kalimat itu sama sekali tidak merubah perasaanya.


Sekretaris Lee mencari perawat untuk membalut punggung tangan tuan Ken yang mengeluarkan darah dan juga mengobati dirinya sendiri.


Perawat datang membawa kotak obat dan mulai mengobati luka ditangan tuan Ken.


Setelah selesai, sekretaris Lee kembali mendekati tuan Ken dan menuntunnya untuk berpindah duduk dikursi tunggu.


Ceklek... pintu ruangan itu terbuka, bukan dokter melainkan perawat yang keluar. Segera tuan Ken menghadang nya. "Katakan, bagaimana kondisi Kei?" bertanya dengan nada dingin.


"Dokter masih menangani Nona Kei, tuan. Saya belum bisa menjelaskan kondisi Nona Kei, yang pasti saat ini kondisinya sangat lemah. Nona Kei mengalami pendarahan dan harus segera mendapat donor darah. Saat ini stok darah A+ masih ada, tapi persediaan terbatas. Mohon bantuan agar pihak keluarga juga bersiap jika nanti kekurangan golongan darah AB+. Baik tuan, saya permisi." perawat itu segera berlalu, dia harus cepat mengambil stok darah itu agar nyawa Kei bisa tertolong.


Mendengar penjelasan dari perawat tadi membuat tuan Ken semakin cemas. Serasa ada beban berat yang menimpanya, saat ini nyawa anak dan istrinya sedang terancam. Menyesal, dia tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa berpasrah dan berdoa.


Perawat bergantian keluar masuk keruangan itu, tapi satu dokter pun masih belum ada yang keluar dan memberi penjelasan yang melegakan agar tuan muda itu bisa tenang.

__ADS_1


"Mi, harusnya Kei dulu tidak mendonorkan ginjalnya untukku. Inilah resiko yang harus ditanggung jika hamil dengan satu ginjal. Aku siap mengembalikan ginjal Kei, meskipun nyawa Ken taruhannya." tuan Ken masih memikirkan hal itu.


Mami Lyra segera menatap putranya, menggelengkan kepala, ia tidak setuju dengan perkataan putranya.


"Tidak Ken. Kei pasti tidak akan setuju kau mengembalikan ginjalnya. Jangan berpikir seperti itu Ken, mami tidak ingin terjadi sesuatu denganmu."


"Tapi Ken juga tidak akan tenang jika melihat keadaan Kei dalam bahaya. Aku sangat menyayangi Kei, aku tidak ingin kehilangannya. Jika itu terjadi, Ken tidak akan memaafkan diriku sendiri."


"Ssttt.... tenanglah. Mami yakin Kei pasti akan baik-baik saja. Dia wanita kuat."


Ceklek... ruangan itu terbuka lagi. Kini satu dokter terlihat keluar. Tuan Ken dan mami Lyra segera menghampiri.


"Bagaimana keadaan istriku?" segera melayangkan pertanyaan. Dokter itu menghela nafas, ini pasti reaksi yang akan tuan Ken tunjukan.


"Tuan, kondisi nona Kei saat ini masih kritis. Nona Kei mengalami pendarahan yang lumayan banyak. Kita berdo'a, semoga nona Kei bisa bertahan dan bisa melewati masa kritis."


"Apa? Kei kritis?" tuan Ken sangat shok, tubuhnya seakan melemah. Penjelasan dari dokter bagai berita buruk yang sama sekali tidak ingin ia dengar.


"Dok, lalu bagaimana dengan kandungan Kei?" mami Lyra bertanya. "Kondisi sang Ibu yang melemah maka bayi juga akan berdampak, tapi kami sudah memberi obat penguat kandungan semoga saja bayinya bisa bertahan. Kami menunggu beberapa jam kedepan, jika bayi yang dikandung nona Kei semakin melemah maka kami terpaksa harus mengeluarkannya, meski umur kandungan masih 7bulan. Bayi itu akan lahir prematur."


"Ya Tuhan, Kei..." mami Lyra kembali menangis mengetahui kondisi Kei dan calon cucunya dalam bahaya. Tuan Ken sudah tidak bisa mencerna kalimat dari dokter, tubuhnya yang lemas kembali terduduk diatas kursi.

__ADS_1


Pikirannya semakin tidak menentu, mulutnya diam seribu bahasa. Tapi pemikirannya begitu penuh, semakin kalut dengan kesedihan.


__ADS_2