
"Periksa seluruh rumah sakit! teliti setiap sudut ruangan, semua jangan sampai terlewat. Temukan putraku, jika tidak, kalian semua akan menanggung akibatnya!!!!!" Ken membentak dengan suara keras. Semua yang mendengar sampai merinding.
Lee dan para pengawal segera pergi untuk berbagi tugas mencari ke segala arah.
Kei mendadak lemas dan kembali pingsan. Dari baju putih yang dikenakan merembes cairan merah. Para dokter yang masih disana segera memberi penanganan.
Tuan muda arogan dibuat kelimpungan dengan kondisi yang membuatnya panik dan cemas setengah mati. Pikirannya dibuat bingung, ia harus menemani istrinya yang lemah atau mencari keberadaan putranya.
Dokter Sofia menyuruh tuan Ken dan mami Lyra untuk menunggu diluar ruangan. Para dokter membutuhkan konsentrasi penuh untuk menangani Kei.
Ken dan Mami Lyra menunggu diluar ruangan. Ken berjalan kesana kemari, memegangi leher belakang yang terasa berat. Kepalanya pun ikut berdenyut. Bagaimana dia akan mengendalikan situasi ini. 'Ya Tuhan' baru ini ia benar-benar merasa pusing.
"Mi, aku akan menyusul Lee. Mami tolong jaga Kei, kalau dia sudah sadar Mami segera hubungi Ken." ucap Ken.
Mami Lyra mengangguk. "Cari Io sampai ketemu, jangan sampai cucu Mami kenapa-kenapa." pesan Mami Lyra.
"Iya Mi. Ken akan mencari sampai ketemu." tak ingin buang-buang waktu Ken sudah berlalu dengan langkah lebar.
Di rumah sakit paling besar itu kini sedang terjadi kegaduhan, banyak pengawal berpakaian serba hitam mengelilingi dan mencari di setiap sudut. Semua tempat tak luput dari penggeledahan. Bahkan sampai mencari dikamar jenazah.
Lee sedang berada diruang khusus dia melihat rekaman CCTV yang terpasang. Dari rekaman itu ia bisa melihat pergerakan Kio yang menyusuri lorong rumah sakit dan berjalan keluar. Lee terus memperhatikan sampai Kio terlihat keluar dari area rumah sakit. Dari situ irama jantungnya semakin berdebar, ia bisa menebak situasinya semakin memburuk.
Jika Kio masih berada dirumah sakit jelas dengan mudah bisa ditemukan. Tapi bocah Lima tahun itu sudah keluar dari rumah sakit tentu susah untuk mencari, selain itu akan banyak bahaya yang mengancam.
Lee semakin frustasi. Sudah pasti tuan muda akan murka. Mengkerut, nyali yang dimiliki seketika mengkerut. Biayanya situasi apapun saat tuan Ken marah ia masih bisa bernafas, tapi saat ini bayangan hidupnya akan benar-benar tamat. Keluarga tuan mudanya seperti permata yang harus dijaga, tidak boleh terluka sedikit pun. Tapi jika sudah begini, bagaimana ia bisa menangani kemurkaan tuan Ken. Pasti tuan muda itu terus mengamuk jika putra keturunannya masih belum ditemukan.
Lee mengusap wajahnya kasar, menghembuskan nafas dengan kasar juga. Pemikirannya seolah buntu karna tertutup rasa takut.
Jantung yang berdebar kencang semakin bergemuruh kencang saat ponselnya berdering. Ia sudah bisa menebak itu panggilan dari Ken.
__ADS_1
Ketika berhasil mengambil dan benar saja, tertera tuan muda memanggil. Jantung itu semakin tidak beraturan.
Dengan tangan bergetar Lee menjawab panggilan. "Kau dimana!!!" suara itu terdengar sangat keras, membuat telinga Lee berdengung.
"Sa saya sedang melihat rekaman CCTV Tuan Muda," jawab Lee suaranya sedikit bergetar. Tanpa apapun Ken memutuskan panggilan.
Lee terduduk dengan lemas, ia sudah berpasrah jika Ken akan menghajarnya lagi. Bagaimanapun itu kesalahannya yang telah teledor, hingga Lee hanya mampu berpasrah.
Ruangan terbuka dengan paksa, menimbulkan getaran yang kuat. Petugas CCTV dan Lee sangat terkejut. Mereka bertiga langsung berdiri.
"Dimana posisi putraku? apakah dia sudah terlihat?" tanya Ken dengan khawatir.
Lee menghirup udara dalam-dalam, mudah-mudahan kemarahan raja bisnis itu bisa ditangani.
Pekerja CCTV tidak ada yang berani menatap, mereka berdua hanya menunduk.
Lee sudah mempersiapkan diri.
Ken mendekati layar komputer yang masih menyala. Dia bisa melihat putra kecilnya berjalan diantara lalu lalang orang yang keluar dari rumah sakit. Hati dan perasaan semakin kalut, diluar sana pasti banyak bahaya yang mengintai.
"Aakh'... bagaimana putraku keluar dan kalian tidak ada yang tau!!!"
Layar komputer dan peralatan yang lain sudah luluh lantah diatas lantai. Tidak perduli kabel listrik yang bisa menyengat. Tuan muda itu tidak menghiraukan keselamatan orang lain, karna saat ini keselamatan putranya sedang terancam. Ia tidak tau dimana putranya.
Salah satu pekerja CCTV mematikan aliran listrik agar tidak berbahaya bagi mereka.
Tubuh Ken melemas dan duduk diatas kursi putar, jiwanya seolah benar-benar lelah.
"Tuan Muda," Lee segera mendekat.
__ADS_1
"Aku lelah Lee. Kepalaku terasa berat! dimana putraku. Dimana keberadaannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" Ken bersandar dan menutup mata yang tergenang cairan bening.
"Tuan Muda, saya sudah mengerahkan semua anak buah untuk mencari keberadaan tuan muda kecil. Saya pun sudah mengubungi Tony agar mengirim bantuan, semoga saja tuan muda kecil segera ditemukan." Lee menenangkan.
"Sebaiknya anda beristirahat, anda terlihat lemah." Lee memberi saran. Ia tak tega melihat Ken terlihat frustasi, melupakan bahwa tuan muda itu arogan yang tidak mendengar saran dari orang lain.
"Samuel Aeron Lee! kau mau mati! bagaimana bisa kau menyuruhku untuk beristirahat, sedangkan putraku hilang!" Ken kembali marah dan mencengkram kerah kemeja Lee.
Tangan kanan itu terlihat pasrah dengan perlakuan tuan Ken.
Ken mendorong tubuh Lee, setelah cengkraman itu terlepas Ken menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk meredam emosi, jika diteruskan meluapkan amarah maka Lee bisa lebih celaka.
Ken melihat sudut bibir Lee yang masih bengkak karna ulahnya. Ia tak mau menambah luka baru, untuk itu ia segera melepas cekraman itu.
"Ayo kita cari Kio." ajak Ken. Ia segera beranjak berdiri dan keluar dari ruangan yang dibuatnya berantakan.
"Bersihkan ini, ganti dengan yang baru. Nanti akan ada yang datang mengirim barang." perintah Lee sebelum keluar dari ruangan itu. Apapun kekacauan yang dibuat oleh tuan Ken, tetap dialah yang bertanggung jawab mengurus semuanya.
Setengah berlari Lee mengejar tuan Ken yang sudah berjalan jauh. Orang-orang disekitar memperhatikan langkah mereka. Ken tidak perduli. Tidak memandang mereka ada, yang paling utama adalah putranya. Ia harus segera menemukannya.
Salah seorang OB tak sengaja menghalangi langkah Ken. Tuan muda yang dikelilingi kabut hitam semakin kesal.
"Kau ingin kedua matamu tidak bisa melihat!"
Tak bisa mengontrol emosi, Ken menendang dengan kuat hingga OB itu terpental diatas lantai. Lagi-lagi Ken tak perduli.
Orang-orang yang menyaksikan itu dibuat bergidik ngeri dengan kemarahan tuan Kendra Kenichi.
Lee yang berlari segera membantu OB untuk berdiri, menanyakan keadaanya. Lee memanggil perawat yang bersembunyi dibalik dinding untuk merawat OB itu. Benar-benar merepotkan!!!!
__ADS_1