
"Kei..." baru selesai berganti pakaian, Izham sudah menunggu didepan toilet. Kei memutar bola mata, rasa malas sudah ditunjukkan.
"Ada apa?" merespon biasa saja.
"Aku masih tidak percaya Kei, kamu bisa berubah seperti ini." tiba-tiba Izham mengatakan itu. Melihat dari atas sampai bawah, memperlihatkan rasa kagum.
"Huft... kalau begitu, kamu tidak perlu percaya mas. Semua orang berhak untuk berubah, dan terima kasih karna keputusanmu dan rasa sakit darimu dulu bisa membuatku lebih tegar dan memberiku pelajaran yang sangat berharga." Kei hanya memanasi Izham dengan kalimatnya, menyinggung sedikit tentang masalalu.
"Maafkan aku, Kei." Izham menunduk.
'Baru sekarang kamu mengucap kata 'maaf' dari dulu kemana saja? seribu kali mengucapkan kata maaf tidak akan mengembalikan semuanya, hatiku sudah terlanjut sakit setelah malam tragedi itu terjadi. Bukan talak 1 tetapi kau mengucap kata talak 3, yang berarti kau benar-benar sudah tidak ingin kembali denganku. Lalu, sekarang mengucap maaf apa kata itu masih berguna.' rasanya Kei ingin mengutarakan pemikirannya itu dengan suara keras, memaki dan menghina lelaki didepannya. Jika saja situasinya tidak didepan umum sudah pasti akan meluapkan unek-unek, kekesalan, rasa sakit, kecewa semua akan ia utarakan dengan suara tinggi agar beban hatinya sedikit lega. Membalas perbuatan kejam yang mereka lakukan, meski belum sebanding setidaknya bisa sedikit puas.
"Maaf...? maaf untuk apa?" Kei sengaja bertanya, untuk memancing jawaban Izham. Apakah lelaki itu menyesali keputusannya dulu, jika begitu Kei akan merasa sangat senang.
"Untuk keputusanku yang dulu sudah menyakitimu." Izham tidak berani menatap kedua mata Kei.
"Dulu memang aku sangat tersakiti mas, tetapi sekarang aku bersyukur bisa menemukan jalanku. Terima kasih untuk pengalaman berharga yang pernah kamu ajarkan. Sudahlah kita lupakan, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Semua sudah menjadi masalalu."
Izham mendongak, kenapa rasanya tidak ikhlas saat Kei mengucap kalimat, semuanya sudah menjadi masalalu.
"Sekarang kamu tinggal dimana? dari mana kamu bisa mendapat uang untuk biaya operasi kakimu?" Izham sangat penasaran, bertanya dengan sangat serius berharap mendapat jawaban. Dia berpikir Kei akan kembali ke Desa dan menjadi wanita Desa seperti sebelumnya, ternyata pemikirannya salah. Setelah berpisah dengannya, wanita itu bisa mandiri dan berubah drastis. Tanpa dia tau, ada seorang lelaki yang membantu Kei berubah.
"Pertanyaanmu sudah tidak ada hak untuk mendapat jawaban dariku. Aku bukan siapa-siapa mu lagi, berhenti bertanya tentang pribadiku. Sudahlah aku bilang anggap saja kita tidak kenal satu sama lain, tidak perlu menunjukkan kepedulianmu atau rasa penasaranmu semua sudah terlambat aku tidak akan menjawab apapun. Maaf, aku harus bekerja." Kei melewati Izham, tetapi Izham mencekal tangan Kei.
"Kei..." Izham menatap kedua mata Kei dengan sorot yang tidak bisa diartikan, namun Kei tidak perduli. Menyentak pegangan tangan Izham hingga terlepas dan berlalu pergi.
'Aa'.... Aku tidak tau dengan perasaanku. Kenapa hatiku ada rasa sesal.' Izham mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Kei bertugas membersihkan lantai loby, membawa ember dan alat pel. Tidak fokus bekerja masih memikirkan Izham, walau bagaimanapun Izham lelaki pertama yang mengajarkan apa artinya cinta. Meski dendam atau rasa sakit dan kecewa dirasakan tetapi ada sedikit rasa empati yang dimiliki.
'Maaf mas, jika perkataan ku tadi menyakitimu. Tetapi itu semua tidak sebanding dengan perlakuanmu dulu.' Kei melamun, ada sepatu berjalan dia portal dengan alat pel. Seorang lelaki terpaksa menghentikan langkahnya dan terpaku melihat wajah Kei.
"Nona, apa kau juga diberi tugas menyambut tamu seperti ini? Sungguh bagus citra perusahaan Taisei Comperation." suara lelaki itu menyadarkan Kei dari lamunannya. Saat tersadar dia benar-benar terkejut, membuka mulut lebar setelah itu menutup mulut dengan telapak tangan. Memandang lelaki didepannya dengan berkedip mata.
'Wanita ini? mempesona.' Tristan membatin.
"Tu-tuan... Eum, tidak! tolong maafkan aku? sungguh aku tidak sengaja, maafkan keteledoran ini." Kei ketakutan, dia tau bahwa lelaki didepannya itu bukanlah lelaki sembarangan. Melihat dari penampilan yang begitu rapi dan berkelas.
'Suaranya sangat merdu, cantik dan body yang aduhai... Sekian lama aku tidak tertarik dengan seorang perempuan, baru kali ini terpesona pada jumpa pertama.' Tristan tersenyum tipis.
"Kamu tau, ini penyambutan terburuk." Tristan sengaja menunjukan sikap tidak ramah agar Kei merasa bersalah. Dan benar, Kei menundukkan pandangan takut karna sudah melakukan keteledoran. Selama bekerja di Perusahaan, Kei tidak pernah melakukan keteledoran, baru kali pertama ia melakukannya. Wajar jika merasa takut, meski Perusahaan itu milik suaminya sendiri tidak lantas dia bisa seenaknya. Dia hanya seperti istri simpanan atau istri yang tidak dianggap. Belum tentu tuan Ken mau menyelamatkannya, itu pemikiran Kei karna masih belum yakin dengan perasaan tuan Ken.
"Aku akan melaporkan tindakanmu barusan." sedikit memberi ancaman.
"Kau mau aku memaafkanmu?" Kei mengangguk dengan cepat.
"Aku ingin tau namamu." lagi Kei terkejut.
"Eum... namaku, Kei."
"Oke, karna aku sudah tau namamu tidak akan aku laporkan keteledoranmu tadi." Tristan meninggalkan Kei yang masih terbengong, tidak mengerti dengan sikap lelaki itu.
"Kenapa orang kaya itu bersikap aneh? aku kira hanya tuan Ken saja yang aneh, tetapi ada yang lain juga. Apa semua orang kaya seperti itu? membingungkan."
Setelah lift terbuka, Tristan melangkahkan kakinya didepan lift sudah ada sekretaris Lee yang menyambut. Meski pernah terjadi perselisihan, Lee harus bersikap profesional.
__ADS_1
"Selamat datang, tuan Tristan. Mari ikuti saya." Lee menyambut dengan datar. Tidak menjawab tetapi Tristan mengikuti dibelakang.
Lee membuka pintu ruangan tuan Ken.
"Tuan muda, tuan Tristan sudah datang." Lee memberitahu Ken, bahwa tamu yang ditunggu sudah datang.
"Bawa masuk."
"Silahkan masuk, tuan Tristan."
"Kau terlalu mematuhi aturan sekertaris Lee, harusnya tidak perlu seperti ini."
"Maaf, saya hanya menjalankan perintah. Silahkan." Tristan masuk kedalam ruangan Ken.
"Dikantormu terlalu disiplin Ken, harusnya tidak perlu penyambutan yang seperti ini. Kita bukan orang baru."
"Harusnya kau senang disambut dengan baik." Ken berdiri merapikan jas yang dipakai, berjalan menuju ke sofa.
"Kau akan terlihat tua jika terlalu serius."
"Kau tidak berubah Tan, menjadi lelaki bermulut wanita. Banyak bicara."
"Aku tidak sepertimu yang berinkarnasi menjadi manusia dingin setelah kejadian itu."
"Selalu menggunakan senjata yang sama untuk membangunkan amarahku." Ken masih berbicara datar belum menunjukan emosi.
"Uh, aku akan takut jika amarahmu mulai bangun. Haha...." Ken membuang muka, malas meladeni sikap Tristan yang terlalu terbuka dan banyak bicara. Jika tidak ada pasal dalam kerja sama mereka sudah pasti Ken akan membatalkan kerjasama saat itu juga.
__ADS_1