
Ken memeluk Kio yang masih saja mengayunkan tangan untuk memukuli dirinya.
"Io benci dengan Dad." ucap Kio berkali-kali.
"Maafkan Dad, Sayang. Maafkan Dad." begitupun Ken juga mengucap maaf berkali-kali.
"Dad jahat. Dad suruh Mom, Io dan Adik Yura pergi dari rumah. Io merindukan Dad tapi Dad nggak mau peluk Io. Dad nggak pernah jemput Io." Kio meluapkan semua yang dipendamnya. Hari ini didepan sang ayah dia melayangkan kata-kata marah dan kecewa.
"Maafkan Dad, Nak." hanya itu yang mampu Ken ucapkan. Mendengarkan aksi marah Kio mampu membuat seseorang Kendra Kenichi bergetar. Dia yang tidak pernah takut dengan siapapun, tidak pernah tunduk pada apapun. Tapi didepan putranya Ken menjatuhkan diri untuk mengemis maaf.
"Io malu Dad, selalu diejek teman sekolah tidak punya ayah. Io nggak pernah dijemput Daddy. Setiap hari Up harus jaga Mom dan Adik Yura. Daddy nggak pernah temenin kita. Io marah, Io benci dengan Dad." bocah kecil itu tak henti melempar luapan kekesalan. Tangan kecil itu menghapus airmatanya dengan gerakan kasar. Menatap lekat-lekat wajah ayahnya yang menunduk dan terlihat ada kristal bening yang membasahi pipi.
Didepan siapapun Ken selalu menjunjung tinggi egonya, tapi saat ini, dihadapan putranya yang tengah kecewa, bahkan tak segan Ken menangis. Mulutnya kelu untuk menjawab semua perkataan Kio.
"Io, Nak... sudah cukup." Kei berjongkok didepan putranya, sama seperti Ken.
"Io lupa apa yang Mom katakan? Mom selalu bilang kalau Dad masih sakit, kan? makanya tidak ingat dengan kita. Sekarang Daddy sudah sembuh, Daddy sudah kembali. Apa Io nggak mau peluk Daddy? Setiap malam Mom juga denger Kak Io nangis karna rindu dengan Dad. Iya, kan?"
"Ini Dad sudah ada didepan Io, ayo peluk Dad." Kei berkata dengan lembut. Memberi pengertian pada Kio.
Kio tetap menggeleng.
"Honey, biarkan Io meluapkan kekesalannya. Aku pantas mendapat ini. Ini salahku, karna tidak ingat dengan kalian dan membiarkan kalian menanggung beban berat selama itu." ucap Ken lirih.
"Tidak Sayang, ini bukan salah siapa-siapa. Semua sudah menjadi takdir perjalanan kisah hidup kita. Dari perpisahan itu mengajarkan aku untuk menghargai waktu saat bersama mu. Mengajarkan aku menjadi ibu hebat buat anak-anak kita. Meskipun berat, tapi aku senang semua badai ujian sudah berakhir. Semoga tidak ada lagi luka baru yang akan terbentuk." ucap Kei panjang lebar. Memberi semangat pada suaminya agar tidak berkecil hati karna Kio menolak kehadirannya.
Kio malah berlalu dari hadapan mereka, berjalan ke arah jalan yang disana sudah ada Lee menunggu disamping mobil.
__ADS_1
"Sabar, dia masih anak-anak. Wajar jika belum memahami keadaan mu. Dia begitu karna kecewa saat dia membutuhkanmu, ingin memelukmu tapi kamu tolak."
"Sekarang beri dia ruang dan waktu untuk menyembuhkan kekecewaannya. Keluarga kita akan kembali bersatu. Tunggu hati Io sembuh, maka dia akan kembali seperti dulu." ucap Kei.
Ken langsung mendongak untuk menatap wajah Kei lekat-lekat. Istrinya juga terlihat kurus. Tangan Ken terangkat membelai pipi Kei dengan lembut.
Kei memejamkan mata untuk menikmati sentuhan yang lama tak pernah dia rasakan. Ken mencium kening Kei dalam-dalam.
"Terima kasih, Sweetyku. Hatimu begitu lembut dan baik. Keberuntungan bisa memilikimu. Aku sangat mencintaimu." Ken kembali memeluk tubuh Kei.
Kei mengangguk didalam pelukan Ken. Beberapa saat menikmati pertemuan yang penuh kerinduan.
Didepan makam kedua almarhum mertuanya, Ken menunduk dalam.
"Ayah, Ibu... Maafkan aku yang tidak sengaja menyakiti putri kesayangan kalian. Cukup sekali ini aku melakukan kesalahan, aku berjanji tidak akan menyakiti atau meninggalkan putri kalian. Terima kasih telah melahirkan putri sehebat istriku. Sekali lagi maafkan aku. Restui hubungan kami hingga maut memisahkan." Didepan makam almarhum ayah dan ibunya Kei, Ken meminta maaf atas kesalahan beberapa bulan terakhir yang telah menyulitkan keadaan Kei.
Kei yang ada disamping Ken tak kuasa menahan tangis haru saat mendengar ucapan Ken didepan makam ayah dan ibunya.
"Sayang, ini Daddy." Ken ingin mengambil alih Kyura tapi putrinya menggeleng dan semakin erat berada digendongan Kei.
"Sabar, mereka butuh waktu. Ayo kita kembali ke rumah Bude Parmi." ajak Kei.
"Heh... ke rumah itu lagi?!" tanya Ken dengan tidak yakin.
"Iya, Bude Parmi sedang berduka, beberapa hari lalu menantunya mengalami kecelakaan dan meninggal. Makanya dirumah Bude Parmi banyak orang, nanti malam ada tahlilan untuk mengirim do'a." terang Kei.
Ken menghembuskan napas lalu ikut berdiri. Mau bagaimana lagi, dia harus mengikuti Kei.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, Kei pulang. Doa kan keluarga Kei selalu bahagia." Kei berpamitan dengan melihat kedua batu nisan bertuliskan kedua nama ayah dan ibunya.
Ken dan Kei berjalan menuju mobil yang ada dipinggir jalan, disana berganti Ken yang harus menahan kekecewaan.
Wajahnya begitu sendu melihat Kio lebih dekat dengan Lee daripada dirinya.
Kei menyadari tatapan suaminya, ia mengusap lengan Ken dan tersenyum. Memberi kekuatan agar Ken kembali melangkah.
"Paman, dua hari lagi Io sudah masuk sekolah. Io mau dijemput sama Paman Lee, nanti berangkat bersama Zee juga." pinta Kio pada Lee.
"Siap Tuan Muda Kecil, nanti kita berangkat bersama. Paman dengan Zee, dan Tuan Muda kecil bersama Daddy." ucap Lee.
Kio melirik ke arah Ken tanpa keramahan, dan meminta duduk dipangkuan Lee.
Hati Ken terasa remuk redam atas penolakan yang dilakukan Kio. Bagaimana caranya agar putranya mau memaafkan dirinya? Ken tidak tahan saat Kio begitu acuh dengannya.
Lagi-lagi Kei berbisik pelan, memberi semangat dan juga bersabar. Kio masih kecil belum bisa dipaksa. Semakin dipaksa akan semakin menolak. Ken harus memenangkan hati Kio dengan cara yang lembut, cara yang mampu membuat Kio luluh.
Mobil yang dikendarai kini kembali menuju kediaman bude Parmi. Tak butuh waktu lama mobil itu sudah terparkir disisi jalan.
Kei dan semuanya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Bude Parmi.
"Ya Tuhan," ucap Lee lirih.
Ibu-ibu sudah berjajar rapi dan mengusungkan tangan untuk menjabat tangan Lee dan Ken. Bahkan mereka berebut tempat. Ada yang bertengkar dan ada yang saling mendorong.
Ken dan Lee saling pandang. Mereka berdua berbicara dalam bahasa isyarat.
__ADS_1
Kei tersenyum kecil melihat ibu-ibu rempong yang menguar barisan sekian panjangnya.
"Hehehe... keponakan ku yang paling ganteng se-RT Rempong, pemilik dealer terbesar se jagat raya. Mari sini-sini masuk..." bude Parmi menyuruh Ken dan Lee untuk masuk.