
Terdengar bunyi yang cukup keras antara gagang sapu yang beradu kuat dengan dahi Ken.
Tuan muda itu sampai mundur kebelakang dengan meringis bahkan hampir pingsan karna pukulan dari putranya sendiri.
Mami Lyra yang berada disamping Kio terkejut sampai membuka mulut lebar-lebar. Telah terjadi penganiayaan antar anak dan ayah. Mungkin itu yang cocok untuk judul adegan ayah dan anak itu.
Kei yang berada disamping Ken juga ikut terkejut, berekspresi sama seperti Mami Lyra.
Terdengar suara tangisan, bukan suara tangisan Ken, melainkan tangisan Kio. Bocah balita itu menangis merasa bersalah telah memukul Daddy nya sendiri.
Ken masih mengaduh kesakitan, dahi yang putih bersih seketika memerah. Bahkan mulai membiru dan bengkak.
Kedua wanita yang menyaksikan tersadar, Mami Lyra menggendong Kio yang menangis. Sedangkan Kei memegangi lengan suaminya.
Kei menuntun Ken untuk duduk disofa, setelah itu dia beralih mencari obat untuk Ken.
"Dad, hua..." Kio masih menangis.
"Hei, sudah jangan menangis." Ken menenangkan Kio, masih dengan ringisanya. Kepalanya berdenyut, bahkan mungkin sebentar lagi sudah akan pingsan.
Ketika Kei kembali, ia segera mengoles salep memar.
Tak ada daya upaya, Ken menyandarkan kepalanya diatas sandaran sofa. Kedua matanya setengah terpejam.
"Ken, bagaimana? apa kita kerumah sakit saja?" Mami Lyra terlihat khawatir.
"Hua... Mom..." Kio yang masih didekap Mami Lyra segera turun dan berpindah kepangkuan Mommy nya.
"Maafin Kio, Dad." ucap Kio merasa bersalah.
"Tidak pa-pa. Sudah, jangan nangis." jawab Ken tanpa melihat kearah Kio.
"Dad pasti sakit, ini gara-gara Io. Io nakal, Hua..." bocah itu semakin menangis dengan keras. Kei menggendong Kio untuk menangkan putranya. Bagiamana pun dia masih anak kecil yang tidak sengaja memukul ayahnya sendiri.
Tidak bisa untuk disalahkan.
Saat menggendong Kio, Kei merintih. Segera menurunkan putranya, ia memegangi perut bagian bawah yang terasa kram.
"Honey, kau kenapa?" tanya Ken khawatir. Ia yang tadi lemas dan hampir pingsan langsung menoleh kearah Kei saat mendengar suara Kei yang mengaduh.
"Tidak pa-pa, perutku sedikit sakit," jawab Kei. Ia menuntun Kio untuk duduk lagi disamping Ken.
"Kio, sini sama Oma aja." kata Mami Lyra.
"Tidak mau, Io mau dipangku Mom." jawabnya.
Kio memang sangat dekat dengan Kei, dia selalu manja. Apapun harus Mommy yang melakukan dan mengurus dirinya.
"Nggak pa-pa Mi, biar Io disini. Tadi perutku cuma kram sebentar, ini udah nggak sakit kok." Kei ikut menjawab. Ia memangku Kio.
Dahi Ken yang tadi memerah kini sudah mulai terlihat benjolan sebesar telur burung puyuh, dengan bagian pinggir yang berwarna biru keunguan. Sudah pasti itu sangat sakit.
Mengusir rasa pusing, akhirnya Ken beranjak menuju keranjang dan menjatuhkan tubuhnya diatas bed. Tubuh yang lelah sehabis perang hasrat semakin tak karuan rasanya setelah Kio menambah luka di dahinya.
Pagi hari Ken sudah bersiap didepan cermin, mengamati gambar bayangannya disana. Dahi yang terdapat benjolan sudah tertutup dengan perban. Benjolan yang masih besar akan lebih kentara jika tidak ditutupi dengan perban. Ia juga malu jika para karyawan kantor melihat wajahnya yang tidak seperti biasanya.
"Sayang, kamu yakin, mau berangkat ke kantor? lukamu apa nggak masih sakit?" Kei mengamati dahi Ken yang tertutup perban.
__ADS_1
"Hari ini ada pertemuan rekan bisnis, jadi aku harus hadir." jawab Ken. Tangannya sibuk memakai jam mahal merk ternama didunia. Jam langka dengan harga fantastis, hanya diproduksi berapa biji didunia dan yang mampu membeli adalah orang-orang milyader yang kelebihan harta.
Tangan Kei ikut sibuk membenarkan dasi yang kurang pas, menurutnya.
"Padahal aku ingin selalu di dekatmu," ucap Kei.
"Aku harus ke kantor, sepertinya aku pulang lebih awal." Ken membenarkan anak rambut didahi Kei.
Kei nampak memanyunkan bibirnya, *cemberut*.
"Ini bibir minta di kulum, heum? kenapa di majuin begitu?" Ken gemas.
"Iya, sepanjang hari aku ingin ditemani dirimu." ucapnya sendu.
Ken mengerutkan dahi, merasa aneh dengan sikap Kei. Akhir-akhir ini mengalami perubahan yang tidak wajar, sangat-sangat aneh.
"Ya memang itu tujuanku, aku mau buat burung gagak milikmu terbangun." jawab Kei. Tangan itu memegang sebuah benda yang tidak mau disebutkan.
Ken melebarkan bola mata, ia terkejut dengan keberanian Kei yang memegang bagian inti miliknya.
Bukan hanya sebentar, tangan itu terus memegang burung gagak yang tertidur disarangnya.
"Honey..." suara Ken lirih memanggil. Bagaimana ia akan menyikapi, Kei terus menggodanya. Bisakah ia mempertahankan diri agar tidak tergoda, pagi ini jadwalnya benar-benar padat.
Tuan muda yang memiliki nafsu besar sangat sulit untuk mengontrol, apa yang ditakutkan terjadi, burung gagak telah terbangun.
Burung gagak akan mencari sarang untuk bersemayam sampai menemukan kepuasan.
Baju yang sudah rapi harus dibongkar lagi, sepatu dilepas dan dilempar begitu saja.
Saat ini yang ada hanya bayangan kenikmatan tiada tara.
Keduanya menjalani aktivitas bergulat panas, seolah tiada rasa lelah, sedari kemarin sore terus melakukan sampai beberapa babak. Dan itu entah kapan ada finalnya.
__ADS_1
Cukup lama keduanya saling memuaskan, hingga mencapai puncak.
Mendapat vitamin segar, Ken tidak mengenal lelah. Pagi hari sudah mandi, tapi harus mandi lagi. Mengulang persiapan seperti tadi, tapi kali ini ia harus melakukan dengan cekatan.
Ponsel yang ada diatas nakas terus berbunyi, siapa lagi yang menghubunginya selain sekretaris Lee. Ia tau jadwalnya telah kacau karna aktivitasnya.
Tidak sesibuk suaminya, Kei malah bermalas-malasan diatas bed. Posisi tiduran diatas ranjang dengan bergulung selimut.
"Aku berangkat Honey," Ken menyempatkan untuk mencium kening Kei.
"Tidak mau nambah," goda Kei.
"Astaga, kau menggoda ku lagi?" Ken menggelengkan kepala.
Kei hanya tersenyum lebar, bahkan dirinya juga geli mendengar godaannya sendiri. Tapi, ada kesenangan tersendiri.
Tak ingin meladeni istrinya, Ken segera beranjak pergi. Mengacaukan jadwal satu jam setengah, sejak belum terjadinya pertempuran panas.
Saat membuka pintu, dikejutkan dengan keberadaan Lee yang berjalan mondar-mandir didepan kamarnya.
"Lee,"
"Pagi menjelang siang tuan muda. Anda sangat hebat, bahkan bisa memundurkan jadwal sampai satu jam setengah." dari raut wajah Lee terlihat kesal. Tapi bagaimana pun dia tidak akan berani untuk memarahi tuan mudanya.
"Maaf Lee, ada sesuatu yang mendesak tidak bisa ditunda." jawab Ken dengan tersenyum miring.
'Mendesak? pasti burung gagak anda yang mendesak ingin keluar. Oh... kalian enak-enakan, sedangkan aku harus menerima omelan dari rekan bisnis anda. Aku yang pusing mengurus pengunduran waktu kerja. Oh, Tuhan.. berikan aku kesabaran.'
"Lee, pagi-pagi kau melamun?"
"Aku tidak punya kerjaan tuan, jadi melamun."
__ADS_1
"Kau menyindirku?"