Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Membuat Makanan Untuk Sekretaris Lee.


__ADS_3

Ketika sudah didalam mobil hening, keduanya hanya diam saja. Dewi sesekali mencuri pandang kearah Lee, Lee-pun sama sesekali melirik kearah Dewi ketika perempuan itu menghadap kearah jalanan.


"Mobil sebagus ini apa tidak ada musiknya, sepi sekali." Dewi menggerutu pelan.


"Apa kau melupakan sesuatu?" Lee memberi pertanyaan kepada Dewi. Dewi hanya mengerutkan dahi, dia tidak mengingat apapun.


"Saat perutmu lapar kau akan apa?"


"Makan. Ah... iya, aku lupa. Tuan sekretaris ingin menagih hutangku waktu?" Lee mengangkat bahu. Dewi membuka tas dan mencari dompet kecil, ketika menemukan dompet dia melihat isi dompet itu dan mengambil uang 5lembar memberikan itu didepan sekretaris Lee.


"Kau juga melupakan sesuatu, nona." Lee tidak menerima uang itu, Dewi menelisik kearah sekretaris Lee, berpikir apa lagi yang dia lupakan. "Aku tidak mau dibayar dengan uang." Lee mengingatkan.


"Tapi aku bingung harus membayar dengan apa, tuan?"


"Itu tugasmu untuk berpikir." ucap Lee singkat. Dewi menghembuskan nafas, melirik kesana kemari terlihat berpikir. "Aha... ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau aku traktir tuan membeli mie ayam didekat Taman Umum?" Dewi tersenyum lebar saat mengatakannya, jika tuan sekretaris itu menyetujui maka dia akan untung banyak. Tetapi senyumnya luntur kala Lee menggelengkan kepalanya, Dewi mencebikan mulutnya.


Tidak lama mobil Lee masuk ke-halaman parkiran Apartemennya. "Tuan sekretaris, anda membawaku kemana? jangan macam-macam!!" Dewi menatap bangunan didepannya, dia tidak tau sekarang dimana.


"Aku tidak macam-macam! hanya 1macam." kata Lee singkat. "Satu macam apa tuan?"


"Sudah turunlah,"


"Tuan sekretaris, kau melupakan sesuatu!"


"Apa?"

__ADS_1


"Aku belum belajar bagaimana membuka setbel." kata Dewi dengan tersenyum malu. "Bukan setbel, tapi seat belt." Lee membenarkan. "Iya itu maksutku tuan."


"Lihat..." Lee mengajari Dewi untuk membuka seat belt, ketika tangan mereka bersentuhan keduanya terdiam namun jantung mereka saling berdebar. Lee masih belum memindahkan tangannya, tetapi Dewi segera melepas. Keduanya saling canggung, Lee keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dewi. Ada dorongan dari hati yang menyuruhnya untuk melakukan itu, Dewi turun dari mobil matanya menatap kagum melihat bangunan Apartemen yang mewah menurutnya.


"Ini Apartemen ku, ayo masuk." Lee melangkahkan kaki lebih dulu, Dewi mengikuti dibelakangnya. Lee membuka pintu dan masuk lebih dulu, Dewi tetap melihat-lihat bangunan mewah itu.


"Tuan sekretaris, kenapa rumah anda sepi sekali?" Dewi tidak melihat ada penghuni lain di Apartemen itu. "Aku tinggal sendiri," Lee menjawab singkat, melepas jaket yang dia pakai. "Huh, tuan ingin apa?" Dewi menutup wajahnya, dia takut melihat Lee melepas jaket. Lee tersenyum lebar, "Aku menginginkanmu!" Lee sengaja menakuti.


"Apa! jangan macam-macam tuan, aku akan berteriak atau aku akan laporkan anda ke kantor polisi!" Dewi memberi ancaman tetapi masih menutup wajahnya. "Yakin kau ingin melaporkan ku ke Kantor polisi? Eum,, aku punya banyak kenalan pengacara!" Lee semakin menjadi mengerjai Dewi, ternyata itu menyenangkan baginya.


Dewi semakin terpojok dia ingin pergi saja dari Apartemen itu dia takut ucapan Lee benar, dia membuka tangannya dan ingin berbalik tetapi Lee menarik kerah baju bagian belakang.


"Tuan lepaskan, saya akan pulang saja."


"Kau belum membayar hutangmu."


Dewi menunduk malu, secara tidak langsung dia sendiri yang sudah berpikir aneh. Ternyata sekretaris Lee hanya memintanya untuk membuat makanan.


"Kenapa tidak mengatakan dari tadi tuan," Dewi tersenyum malu.


"Aku ingin mengatakan, tetapi kau sudah lebih dulu berpikir negatif."


"Aaah...tuan sengaja mengerjai ku kan? hayo..."


"Tetapi memang kau lucu juga." Lee tersenyum tipis, Dewi menunduk tangannya memegang ujung baju yang ia kenakan. Jantungnya masih berdebar, kekagumannya kepada sekretaris Lee semakin bertambah saat melihat senyumnya yang sangat manis menurutnya.

__ADS_1


"Dapurnya disebelah sana, kau kesana saja. Aku ingin berganti pakaian sebentar." setelah mengatakan itu Lee berjalan menaiki tangga, Dewi masih memperhatikan sekretaris Lee sampai hilang dibalik pintu. Setelah itu dia mencari ruang dapur dan membuka lemari pendingin, mengambil bahan masakan dengan cekatan mulai meracik bumbu dan memotong sayuran, dirumahnya sendiri dia sering membantu ibunya membuat makanan jadi tidak begitu kesusahan untuk membuat makanan. Setelah selesai dia hidangkan masakan itu dimeja makan dan duduk disana, menunggu sekretaris Lee turun tetapi lama sekali.


Tetapi tidak berapa lama sekretaris Lee sudah menuruni anak tangga, terlihat lebih segar ternyata sehabis mandi. Wangi maskulin tercium begitu memabukkan, membuat Dewi diam mematung.


"Ehem..." Lee berdehem dan duduk dikursi berhadapan dengan Dewi. "Kenapa tersenyum seperti itu?" Lee bertanya, heran melihat Dewi terbengong dan tersenyum sendiri. "Tuan sangat tampan. Ups...." tanpa sadar Dewi memuji sekretaris Lee, segera menutup mulutnya yang konyol.


"Haha... aku memang tampan." sekretaris Lee tertawa senang, entah hatinya begitu bahagia mendengar pujian dari Dewi.


"Silahkan dimakan tuan, semoga sesuai dengan selera anda." Dewi menawarkan hasil masakannya, Lee menyodorkan piring didepan Dewi segera Dewi mengambilkan nasi dan lauk pauk. Setelah itu dia sendiri yang mengambil.


"Tuan tidak kesepian tinggal dirumah sebesar ini hanya sendirian?"


"Ya kau benar, aku selalu kesepian. Ketika pulang bekerja tidak ada yang menyambutku." Lee menjawab dengan mengunyah makanan.


"Kenapa tidak mencari teman atau istri, tuan?" mendengar itu Lee menghentikan makannya. Memandang kearah Dewi.


"Jika aku memintamu untuk selalu menemaniku, apakah kau mau?"


Deg... Dewi menatap kearah sekretaris Lee. "A-apa maksut, tuan?" Dewi menanyakan penjelasannya.


"Tidak, sudah habiskan makannya." Lee menutupi rasa gugup dan menyuruh Dewi untuk melanjutkan makannya.


Dewi terdiam dengan pemikirannya, masih memikirkan ucapan sekretaris Lee. Menerka-nerka ucapan itu, tetapi hanya menyimpannya dalam hati. Dia tidak ingin berharap lebih, dia sadar diri dia hanya seorang OB tidak mungkin sekretaris Lee serius dengan ucapannya.


Lee lebih dulu selesai, dia berdiri membawa piring bekas makannya tadi ingin membawa kedapur dan menaruhnya ditempat pencucian dia sudah terbiasa melakukan itu.

__ADS_1


"Tuan biar aku saja." Dewi sudah berdiri menghampiri Sekertaris Lee dan mengambil piring itu, membawanya kedapur untuk sekalian dicuci. Lee menunggu dimeja makan dengan perasaan bahagia, tersenyum sendiri ini pertama kalinya dia makan berdua di Apartemen miliknya. Ternyata membahagiakan, diruang dapur Dewi memikirkan hal yang sama. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum, hatinya begitu berbunga-bunga.


__ADS_2